Qoryatul Qur‘an

Liputan Utama

Silaturahmi

Tamu

Foto

Video

Minggu, 18 Februari 2024

Ustaz Ibad Sutono: Meneladani Sifat Wanita-Wanita Penghuni Surga

Siapa saja yang bercita-cita ingin masuk surga, maka mulailah dengan meniti jalan ke sana, yakni dengan rajin menuntut ilmu. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi bahwa siapa pun yang mencari ilmu maka dimudahkan jalan menuju ke surga.

Dengan ilmu itu kita bisa tahu apa saja yang bisa diamalkan agar kelak berbuah surga. Terutama para wanita yang disebut dalam hadis banyak berada di neraka. Agar tidak termasuk golongan celaka itu, mari kita simak ulasannya.

Dikisahkan, ketika selesai dari Salat Kusuf (Salat Gerhana), Nabi ﷺ bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika salat:

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيْلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di musim politik tahun ini, ada guyonan yang banyak beredar di kalangan masyarakat. Kurang lebih bunyinya begini, “Diberi uang 100 ribu untuk 5 tahun saja diingat-ingat, tapi diberi uang tak terhitung oleh suami saja tidak diingat lagi.”

Ustaz Ibad Sutono
Ustaz Ibad Sutono sampaikan tentang wanita surga

Guyonan di atas memang mengandung kelucuan. Sesuatu yang miris kalau kita renungkan. Bagaimana ketika kita salah dalam menempatkan rasa terima kasih pada orang yang tak seharusnya dan lupa berterima kasih pada yang seharusnya diucapkan hal itu.

Istri yang mengkufuri kebaikan suami, disebutkan dalam ayat di atas, adalah golongan yang kebanyakan memenuhi neraka. Bahkan istri Nabi sekalipun, kalau tidak patuh maka tempatnya juga di neraka. Mari kita simak ayatnya.

ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ كَفَرُوا امْرَاَ تَ نُوْحٍ وَّ امْرَاَ تَ لُوْطٍ ۗ كَا نَـتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَا دِنَا صَا لِحَـيْنِ فَخَا نَتٰهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللّٰهِ شَيْـئًا وَّقِيْلَ ادْخُلَا النَّا رَ مَعَ الدّٰخِلِيْنَ

Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh, dan istri Luth. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).”” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 10)

Nabi Nuh AS berdakwah dalam waktu 950 tahun dan tidak mendapatkan banyak pengikut. Bahkan istri sendiri saja termasuk khianat, yang tidak taat dan patuh pada suami. Sehingga Allah memasukkannya ke neraka, suaminya yang seorang Nabi pun tidak mampu menolongnya.

Begitu pula Nabi Luth AS, yang tidak mampu menyelamatkan istrinya dari azab Allah karena kekafiran. Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan pada suami adalah kunci utama masuk ke surga dan dijauhkan dari siksa neraka.

Namun, tentu saja ketaatan itu tidak boleh bertentangan dengan syariat Allah. Seorang istri ketika suaminya kafir tapi tetap bisa taat pada Allah, maka baginya akan diberikan surga. Simak ayat selanjutnya.

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا لِّـلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا امْرَاَ تَ فِرْعَوْنَ ۘ اِذْ قَا لَتْ رَبِّ ابْنِ لِيْ عِنْدَكَ بَيْتًا فِى الْجَـنَّةِ وَنَجِّنِيْ مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهٖ وَنَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ 

Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir'aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 11)

Seorang istri meski dalam kuasa suami yang kafir, tetap istikamah dalam keimanan maka akan diselamatkan Allah dari perbuatan buruk suami dan kaum zalim. Kisah ini adalah kisah Asiyah, istri dari Raja Firaun yang mengaku sebagai Tuhan.

Kemudian, pada lanjutan ayat di atas, Allah memberikan perumpamaan wanita surga adalah yang menjaga kehormatannya. Adalah Maryam, putri Imran yang kemudian Allah menitipkan roh Nabi Isa AS di dalam rahimnya.

وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرٰنَ الَّتِيْۤ اَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيْهِ مِنْ رُّوْحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهٖ وَكَا نَتْ مِنَ الْقٰنِتِيْنَ

dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan Kitab-kitab-Nya; dan dia termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 12)

Sebagai ikhtiar kaum muslimah, agar masuk surga adalah meneladani kisah hidup para wanita utama yang dijamin surga. Dalam hadits Ibnu ‘Abbas RA, Rasulullah ﷺ bersabda,

أَفْضَلُ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ وَفَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ وَمَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ

Wanita-wanita yang paling utama sebagai penduduk surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim (istri Fir’aun) dan Maryam binti Imran.” (HR. Ahmad)

Khadijah binti Khuwailid adalah istri Rasulullah ﷺ yang selalu mendukung dakwah beliau. Fathimah binti Muhammad ﷺ, yang patuh pada ayahnya dan suaminya. Asiyah binti Muzahim, istri Firaun yang menjaga keimanan. Maryam binti Imran dengan kehormatannya.

Resume kajian Ahad Pagi di Masjid Widad El Fayez, Komplek Asem Legi, Gabeng, pada 18 Februari 2024 disampaikan oleh Ustaz Ibad Sutono dari Sukoharjo.

Sabtu, 17 Februari 2024

Pengajian Umum Qoryatul Qur’an di Masjid Fisabilillah Jurang bersama Ustaz Bilal Ahmad Mubaroq

Sabtu malam, 17 Februari 2024. Tim Dakwah PPTQ Qoryatul Qur’an menggelar pengajian umum di salah satu ladang dakwah pedalaman, yakni di Dusun Jurang, Pijiharjo, Manyaran, Wonogiri.

Kajian dilaksanakan setelah bersama-sama berjemaah Salat Isya di Masjid Fisabilillah diimami oleh Ustaz Salman Al Farisi Al Hafizh. Setelah salat, Ketua Takmir Masjid Bapak Suroto menyampaikan prakata sambutan atas kehadiran warga dan tim dari Qoryatul Qur’an.

Pengajian dipandu oleh Ustaz Hendri Setiawan selalu MC. Mengajak hadirin membaca lafal basmalah sebagai permulaan perjumpaan. Setelah dibuka, warga Jurang diajak bersama-sama melafalkan bacaan salat dari takbiratul ikhram sampai salam, dipimpin Ustaz Salman.

Ustaz Bilal Ahmad
Ustaz Bilal ingatkan tujuan manusia diciptakan

Pengajian inti disampaikan oleh Ustaz Bilal Ahmad Mubaroq, S.Pd. Ustaz menyampaikan tentang tujuan kita diciptakan oleh Allah, yakni untuk beribadah atau menyembah Allah semata. Hal ini tercantum dalam firman Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Ibadah yang kita lakukan harus didasari pada niat, ikhlas karena Allah, dan mengikuti Rasulullah. Ibadah ada yang wajib yakni rukun Islam, yang tidak boleh kita tinggalkan.

Kajian Jurang
Para pendukung acara kajian di Jurang

Namun, ibadah tak hanya yang diwajibkan tersebut. Kita bisa menggunakan waktu yang diberikan Allah 24 sehari itu penuh dengan ibadah. Caranya bagaimana? Semua kembali pada niat kita.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kita bisa mengisi waktu 24 jam sebagai ibadah dengan cara meniatkan segala sesuatu untuk ibadah kepada Allah dan mengikuti ajaran Rasulullah, maka seluruh aktivitas bernilai ibadah.

Dari sejak bangun tidur, Rasulullah telah mengajarkan doa bangun tidur, doa masuk dan keluar kamar mandi, memakai sandal kanan dulu, lanjut sampai keluar rumah ada doanya, begitu pula masuk dan keluar masjid.

Setiap aktivitas ada contoh dari Nabi. Maka dari itu, agar 24 jam kita bernilai ibadah, kita ikuti apa saja yang dicontohkan Nabi Muhammad. Segala aktivitas dari hal pribadi sampai kemasyarakatan ada doa yang beliau contohkan.

Warga Dukuh Jurang
Warga Jurang antusias ikuti pengajian

Secara umum, ketika kita hendak melakukan pekerjaan apapun niatkan karena Allah, mulailah dengan membaca basmalah. Kemudian, setelah selesai, kita tutup dengan membaca hamdalah. Itulah indahnya ajaran Islam.

Bahkan dalam bekerja, hendaklah kita niatkan untuk beribadah kepada Allah, bukan diniatkan mencari rezeki, karena rezeki sudah ditakar dan tak akan tertukar. Dengan menjadikannya ibadah maka keberkahan akan didapatkan pada setiap rezeki yang diperoleh.

Pengajian berlangsung dengan lancar. Warga Jurang juga sangat antusias mengikuti apa yang disampaikan oleh Ustaz Bilal. Sebelum ditutup, digelarlah sesi tanya jawab. Di ujung acara, Ustaz Salman memimpin doa untuk kebaikan bersama.

Rannan Huwaida Feyljannah, Santri MATQ Qoryatul Qur’an Kelas XII Matiq A Selesaikan Hafalan 30 Juz

Kitab Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat muslim di seluruh dunia. Keutamaannya menjadikan kita yang membaca, mempelajari, mendengarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an akan mendapatkan pahala.

Lebih dari itu, bagi yang menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an pun akan mendapatkan manfaat. Apa saja manfaatnya? Salah satunya adalah manfaat spiritual yang didapat dari menghafalkan kitab Al-Qur’an yang penuh dengan keberkahan ini.

Al-Qur’an adalah kitab yang penuh berkah, maka siapa saja yang menghafalkan Al-Qur’an akan mengunduh keberkahan itu secara terus-menerus. Keberkahan berarti kebaikan pada sesuatu.

Kitab suci yang penuh dengan nilai-nilai sakralitas ini bagi yang menghafalkan Al-Qur’an akan selalu hidup bersama Al-Qur’an. Semua proses menghafal Al-Qur’an akan menciptakan rasa spiritual yang tinggi. Sehingga, keimanan dan ketakwaannya bisa bertambah dan terus bertambah.

Keberkahan Al-Qur’an itulah salah satu harapan yang ingin diperoleh para santri PPTQ Qoryatul Qur’an yang tak kenal lelah untuk menghafalkannya. Memasukkan setiap ayatnya ke sanubari. Satu per satu para santri pun tuntas menghafalnya.

Salah satunya, yang telah selesai setoran 30 juz adalah santri bernama Rannan Huwaida Feyljannah. Merupakan santri MATQ Qoryatul Qur’an kelas XII Matiq A yang menempati komplek Pucung, Karangmojo.

Rannan Huwaida Feyljannah
Rannan Huwaida Feyljannah

Putri dari pasangan Bapak Eristyawan Prihantoro dan Ibu Isti Gandaria yang beralamat di Perumahan Bumi Kiara Permai blok A nomor 22, Desa Seren, Kec. Gebang, Kab. Purworejo, Jateng ini selalu memotivasi diri bahwa menghafal Qur’an agar menjadi syafaat bagi kedua orang tua.

Rannan Huwaida Feyljannah menuntaskan hafalan kitab suci Al-Qur’an pada hari Sabtu, 17 Februari 2024, disimak oleh Ustazah Tri Retno Iswati. Sebuah pencapaian yang wajib disyukuri tentu saja.

Tuntas setoran 30 juz bukan akhir dari perjuangan, tapi merupakan awal dari perjuangan baru, yakni menjaga hafalan itu agar jangan sampai hilang sampai akhir hayat. Tak mudah, tapi akan membawa keberkahan seumur hidup.

Rannan Huwaida Feyljannah menggemari fashion, kelak dewasa ingin mewujudkan cita-cita menjadi seorang designer. Semoga Allah memudahkan dalam menggapai impian-impiannya, dan selalu meridai setiap langkahnya.

Akhirnya, selamat untuk Rannan Huwaida Feyljannah atas pencapaian 30 juz ini. Semoga Allah selalu memberi kemudahan untuk menjaga hafalan serta mengamalkannya. Semoga bisa menjadi motivasi untuk santri-santri lainnya. Aamiin.

Kontributor: Ustazah Tri Retno Iswati

Belajar Sosialisasi Masyarakat, Santri dan Ustazah PPTQ Qoryatul Qur’an Komplek Jetis Rewang di Hajatan Warga

Rewang adalah tradisi baik yang berkembang di masyarakat Jawa terutama perdesaan. Merupakan tradisi dimana masyarakat saling gotong royong membantu sesama yang sedang menggelar pesta hajatan, misalnya pesta pernikahan.

Rewang ibaratnya menjadi hal yang wajib. Apabila tidak hadir dalam kegiatan tersebut, biasanya akan ada sanksi sosial yang mengikat. Bagi tidak pernah membantu dalam pelaksanaan rewang di lingkungan tempat tinggalnya, maka ketika nanti menggelar hajatan, masyarakat setempat tidak akan membantu dan bergotong royong dalam acara itu.

Tradisi ini juga masih kental di area Kecamatan Weru, termasuk di antaranya di Jetis, Krajan, di salah satu komplek PPTQ Qoryatul Qur’an. Ustaz Imam Yoga selaku kepala komplek menginstruksikan agar para santri dan ustazah ikut serta membantu.

Terlebih warga yang punya hajat lokasinya di samping pondok lama untuk mempelai laki-lakinya, dan dekat pondok bangunan baru untuk rumah mempelai perempuannya. Turut kegiatan rewang ini bertujuan agar bisa berbaur dengan warga sekitar pesantren.

“Agar santri bisa berbaur dengan masyarakat, tidak hanya eksklusif di dalam pondok saja,” kata Ustaz Imam. “Sekaligus agar bisa menyambung tali silaturahmi ke warga sekitar pesantren.”

Rewang
Santri Qoryatul Qur'an membantu rewang di rumah warga

Belajar bermasyarakat bersama ibu-ibu warga Jetis RT 01 RW 13 ini dilaksanakan selama 2 hari, tepatnya tanggal 16-17 Februari 2024. Terbagi dalam 3 kloter, yakni siang 13.00 WIB-15.00 WIB, sore 16.00 WIB-17.00 WIB, dan malam 20.00 WIB-22.00 WIB.

Setiap kloternya, ada sekitar 3-5 orang santriwati yang sudah khatimah atau selesai hafalan 30 juz dan didampingi oleh 5 orang ustazah bergantian. Di sana mereka membantu pekerjaan di dapur, seperti memarut wortel, mengupas bawang, membuat kulit lumpia, dan sebagainya.

Para santriwati pun mengaku senang karena bisa belajar berbaur dan belajar memasak. Terlebih ibu-ibu juga sabar untuk membimbing mereka yang baru saja belajar rewang. Tuan rumah juga merasa senang karena kehadiran para santri yang ikut berpartisipasi untuk membantu rewang.

Demikian, giat kemasyarakatan yang dilaksanakan para santri PPTQ Qoryatul Qur’an komplek Jetis, Krajan. Semoga menjadi tambahan ilmu dan bekal bagi para santri untuk menjalani kehidupan nantinya setelah lulus dari pesantren. Semoga bermanfaat.

Kontributor: Ustazah Nafi Aritamala

10 Peraturan Tak Tertulis, Tapi Inilah Adab

Tim QQ Media merilis reels atau shorts atau video pendek dengan orientasi vertikal berdurasi 50 detik, yang diunggah di akun media sosial resmi PPTQ Qoryatul Qur’an. Video tersebut diberi judul 10 Peraturan Tak Tertulis, Tapi Inilah Adab.

10 Peraturan Tak Tertulis, Tapi Inilah Adab
10 Peraturan Tak Tertulis, Tapi Inilah Adab

Pembuatan video melibatkan beberapa santri MTsTQ Qoryatul Qur’an komplek Kauman, lokasi syutingnya juga di sana. Pengambil gambar dan editornya adalah Ustaz Shofa Wibi Mahardika, S.Pd yang tak diragukan lagi kemampuannya membuat konten digital.

10 Peraturan Tak Tertulis, Tapi Inilah Adab

Di dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terlebih di pesantren, tentu harus ada peraturan, dan peraturan dibuat untuk demi menjaga keamanan dan kenyamanan hidup bersama. Baik peraturan itu tertulis dalam tata tertib maupun yang tak tertulis.

Adapun peraturan tidak tertulis, meskipun tidak secara resmi diundangkan, tapi juga sebaiknya kita pahami dan lakukan, supaya tetap menjaga kesopanan kita di lingkup kehidupan setiap harinya.

Setidaknya inilah 10 peraturan tidak tertulis dalam hubungan sosial kita yang ternyata masih belum banyak yang dilakukan, padahal harus diterapkan. Meski peraturan tidak tertulis, tapi lebih baik kita tulis dan lakukan.

1. Jangan membuat lelucon tentang kekurangan seseorang

Teman kita mungkin memiliki kekurangan atau kondisi fisik yang istimewa. Kekurangan adalah hal yang sensitif untuk dibahas, apalagi jika belum saling mengenal secara dalam. Jangan pernah menjadikan kelemahan diri orang lain sebagai bahan untuk bercandaan karena pasti akan menyakiti hatinya.

2. Biasakan mengucap maaf, tolong, dan terima kasih, tak pandang usia dan profesi

Bagi yang belum, mari kita membiasakan mengucapkan kata tolong, maaf, dan terima kasih dalam berinteraksi dengan semua orang dan teman-teman, baik di pesantren maupun di luar pesantren.

Tolong, maaf, dan terima kasih, merupakan tiga kata ajaib yang maknanya sama-sama sebagai cara untuk menghargai. Dan ketiga kata tersebut adalah kata-kata yang sangat melegakan di hati kita.

3. Jika ada yang sedang dimarahi atau ditegur, maka jangan melihatnya

Kadang ada teman kita melakukan kesalahan, oleh orang yang lebih tua atau bahkan para asatiz menegurnya agar tidak lagi melalukan kesalahan itu. Adab yang harus kita lakukan, adalah jangan melihat kejadian itu, apalagi menjadikannya tontonan.

Biarlah teman kita itu mencermati sendiri nasihat yang didapatkan. Keberadaan kita di dekatnya saat ia dimarahi atau ditegur akan berefek kurang baik. Bisa jadi ia akan segan dengan kita, malu, dan merasa rendah diri. Jangan melihatnya, anggaplah kita tak pernah tahu ada kejadian peneguran itu.

4. Jika seseorang tidak mendengarkanmu, maka berhentilah bicara

Ketika berbincang dengan orang lain dan kamu melihatnya enggan untuk mendengarkan, maka berhentilah berbicara. Informasi yang kamu sampaikan tidak akan membekas dalam ingatan dari lawan bicaramu itu.

5. Jangan marah kepada orang yang sedang makan

Tak hanya memarahi, tindakan apapun yang mengganggu kenyamanan orang lain saat makan, lebih baik dihindari. Ini semua demi kenyamanan bersama sekaligus sebagai perilaku menghargai makanan itu sendiri. Biarkan ia selesaikan makan terlebih dulu jika kita ada perlu.

6. Kalau orang tuamu bilang “jangan pergi”, sebaiknya jangan pergi

Setiap orang tua memiliki perhitungannya sendiri dalam melarang anaknya untuk pergi. Itu adalah bagian dari kasih sayang, orang tua mengerti tentang apa yang baik buat anaknya. Maka saat dilarang pergi, janganlah kita melanggarnya.

7. Jika bertamu dan disuguhi makanan, maka cicipilah walaupun sedikit

Mencicipi apa yang disuguhkan adalah penghormatan pada tuan rumah. Ketika kita melakukan sebaliknya, dengan mengabaikannya meski sedikit, maka kita akan menyinggung perasaannya. Jangan biasakan menyakiti tuan rumah saat bertamu, ya.

8. Berhenti memperbaiki sajadah menggunakan kaki, sebaiknya gunakan tangan

Memang kita bisa dengan mudah membenarkan sajadah yang akan dipakai salat menggunakan ujung jari kaki. Tapi ini bukan hal yang sopan untuk dilihat. Apalagi santri pondok, jangan membuat malu pesantren dengan adab yang tidak sepatutnya ini.

9. Jika kamu meminjam barang lebih dari tiga kali, maka sudah waktunya untuk kamu membeli barang sendiri

Boleh saja kita saling pinjam barang asal tak lupa mengembalikan. Namun, ketika sudah lebih dari 3 kali kita meminjam barang yang sama, maka sebaiknya kita beli sendiri. Berarti barang itu termasuk kebutuhan kita. Jangan bebankan kebutuhan kita kepada orang lain.

10. Selalu pesan yang murah apabila ditraktir temanmu

Ketika ditraktir, tak layak jika kita pesan makanan atau sesuatu yang mahal, apalagi lebih mahal dari yang dipesan oleh teman kita itu. Kita akan memiliki kepribadian yang baik jika menerapkan ini dan akan menimbulkan rasa dihargai yang tinggi antara pentraktir dan yang ditraktir.

Nah, mari kita tengok diri sendiri, apakah 10 peraturan tak tertulis itu sudah menjadi adab bagi kita? Kalau belum, maka mari kita biasakan. Dengan menerapkan adab yang baik maka kita akan dihargai orang lain. Video pendek dari Tim QQ Media ini bisa dilihat di bawah ini.



Jumat, 16 Februari 2024

Ibnaty Raniah Muyassarah, Santri MATQ Qoryatul Qur’an Kelas Xll Imtaq Selesaikan Hafalan 30 Juz

Setiap muslim hendaknya senang membaca, mempelajari, mendengarkan, dan mengamalkan Al-Qur’an. Selain karena Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat muslim, berinteraksi dengannya akan mendapatkan pahala.

Sementara bagi kaum muslimin yang bersedia menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an akan mendapat banyak sekali manfaat. Di antaranya adalah manfaat secara keilmuan, khususnya bagi mereka yang sudah bisa mengerti isi kandungan Al-Qur’an.

Dalam proses menghafal Al-Qur’an akan menemukan banyak sekali ungkapan yang terkait dengan berbagai macam keilmuan, seperti misalnya bisa banyak menghafal kosa kata bahasa Arab dan menghafalkan kaidah-kaidah nahwu dan sharaf.

Bisa lebih banyak menghafal dalil-dalil hukum, dalil sejarah, menghafal kata-kata hikmah, menghafalkan ayat-ayat kauniyah atau ayat yang berkaitan dengan fenomena alam semesta, menghafal ribuan ayat tentang akidah, kisah masa lalu, dan ayat yang berkaitan dengan tema-tema kehidupan.

Semoga manfaat keilmuan itu juga bisa diserap oleh para santri PPTQ Qoryatul Qur’an yang berusaha menjadi ahlul Qur’an dengan menghafalkannya. Bahagianya, satu demi satu para santri itu berhasil tuntas hafalan 30 juz.

Di antaranya adalah santri bernama Ibnaty Raniah Muyassarah. Perjuangannya selama 2 tahun 7 bulan membuahkan hasil sesuai harapan. Juz 25 menjadi setoran terakhirnya, disimak oleh Ustazah Nafi Aritamala pada hari Jumat, 16 Februari 2024 di asrama komplek Jetis.

Ibnaty Raniah Muyassarah
Ibnaty Raniah Muyassarah

Santri kelas Xll Imtaq MATQ Qoryatul Qur’an ini biasa disapa dengan nama panggilan Ara. Anak ke-2 dari 3 bersaudara pasangan Bapak Sarjito dan Ibu Supartini. Beralamat di Jl. Rambutan RT 45 Balik Buaya, Kel. Buruan, Kec. Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur.

Ara kelahiran Samarinda, pada tanggal 22 Agustus 2006. Hobi menonton, dan bercita-cita menjadi CEO PT. Sanravictory Group, atau jadi perawat. Semoga apapun cita-citanya, Allah memberkahi dan meridai.

“Seseorang yang mengamalkan dan selalu memprioritaskan Al-Qur’an bagaikan orang yang memegang dunia,” kata Ara memotivasi. “Stay with Qur’an your life will be perfect.

Kiat menghafal yang dijalani Ara adalah dengan memahami arti ayat kemudian membaca halaman yang akan dihafal, lalu dihafalkan ayat demi ayat secara perlahan. Dan tentu semua butuh ketelatenan.

Akhirnya, selamat untuk Ibnaty Raniah Muyassarah atas pencapaian 30 juz ini. Semoga Allah selalu memberi kemudahan untuk menjaga hafalan serta mengamalkannya. Semoga bisa menjadi motivasi untuk santri-santri lainnya. Aamiin.

Kontributor: Ustazah Nafi Aritamala

Rabu, 14 Februari 2024

Dukung Suksesnya Pemilu 2024, PPTQ Qoryatul Qur’an Imbau Asatiz dan Santri Gunakan Hak Pilih

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) telah menetapkan jadwal pencoblosan Pemilu 2024 atau pemungutan suara, digelar serentak di seluruh Indonesia pada hari Rabu, 14 Februari 2024.

“Jangan sampai golput, gunakan hak pilih untuk memilih pemimpin terbaik bagi negeri ini,” imbau Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I dalam beberapa kesempatan.

Menurut Syekh Yusuf Qardhawi terkait pemilihan pemimpin, setidaknya ada 3 cara dalam mempertimbangkan pilihan: Jika semuanya baik, pilihlah yang paling banyak kebaikannya. Jika ada yang baik dan ada yang buruk, pilihlah yang baik. Jika semuanya buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya.

Sementara itu, Prof. Dr. Necmettin Erbakan adalah mantan Perdana Menteri negara Turki pada periode 1996-1997 mengatakan, “Muslim yang tidak peduli politik akan dipimpin oleh politikus yang tidak peduli kepada Islam. Jangan tidak ikut pemilu, kejahatan akan timbul tatkala orang baik semua pada diam.”

Pemilu 2024
Ustaz Setyadi dan Ustazah Niken di lokasi tempat pemungutan suara

Ustaz Setyadi menggunakan hak pilih bersama sang istri Ustazah Niken Susilowati di TPS 10 Dukuh Sidowayah, Desa Ngreco, Kecamatan Weru. Di tempat lain, Direktur Operasional PPTQ Qoryatul Qur’an Ustaz Hartanto, S.Pd.I, mencoblos di TPS 06 Dukuh Jlumbang, Desa Ngreco.

Pada Pemilu 2024 ini, ada 5 surat suara yang harus dicoblos. Surat suara berwarna abu-abu adalah surat suara Presiden dan Wakil Presiden. Surat suara berwarna merah untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Surat suara berwarna kuning untuk anggota DPR. Surat suara berwarna biru untuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi. Dan yang hijau adalah surat suara anggota DPRD kabupaten/kota.

Berkaitan dengan kegiatan pemilu ini, pihak pesantren juga memberikan kesempatan para santri untuk menggunakan hak pilihnya. Bagi santri yang sudah memiliki hak pilih diizinkan untuk pulang dan bisa dijemput pada hari Selasa, 13 Februari 2024, jam 15.00 WIB atau setelah Salat Asar.

Saat menjemput, wali wajib menunjukkan surat undangan coblosan atas nama santri kepada ustaz/ah yang berjaga. Setelah selesai menggunakan hak pilih esok harinya, para wali santri dimohon mengantarkan santri balik kembali ke pesantren pada hari Rabu, 14 Februari 2024, paling lambat pukul 17.00 WIB.

Sementara bagi para santri yang sudah pindah lokasi pencoblosan di TPS sekitar pesantren, maka menggunakan hak pilihnya di tempat yg sudah ditentukan. Demikian sesuai informasi dan pengumuman yang disampaikan pesantren.

Semoga dengan turut aktifnya kaum muslimin dalam memilih pemimpin, maka Allah akan menetapkan pemimpin terbaik untuk bangsa ini, yang juga peduli kepada Islam dan kaum muslimin. Semoga Allah menurunkan berkah untuk negeri tercinta kita.

Ust Setyadi Prihatno

Wisuda

QQ Peduli