Majelis Ukhuwah dan Tafhimul Haiah PPTQ Qoryatul Qur’an: Mencintai Takdir dan Menjalani Peran Sepenuh Hati

PPTQ Qoryatul Qur’an menyelenggarakan kegiatan Majelis Ukhuwah dan Tafhimul Haiah pada Kamis, 12 Maret 2026, pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini bertempat di Kelas Palestina Komplek 02 Pucung PPTQ Qoryatul Qur’an.

Majelis dihadiri oleh sejumlah ustaz dan ustazah yang diundang secara khusus. Kehadiran peserta bersifat terbatas dan tidak melibatkan seluruh SDM pesantren. Bertujuan memahamkan SDM yang terlibat dalam dakwah pesantren mengenai visi, misi, serta target-targetnya.

Majelis ini juga dimaksudkan untuk menyamakan frekuensi pemahaman dan semangat dalam menjalankan peran masing-masing demi keberlangsungan dan kemajuan pesantren.

Majelis Ukhuwah
Majelis Ukhuwah dan Tafhimul Haiah PPTQ Qoryatul Qur’an

Acara dibuka oleh Kepala Komplek 02 Pucung, Ustaz Nasrudin, yang bertindak selaku MC dengan membaca basmalah. Setelah itu, suasana majelis semakin khidmat dengan lantunan tilawah Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ustaz Rio Maryono.

Majelis ini dipandu oleh Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H. sebagai moderator. Dalam prolognya disampaikan bahwa majelis singkat ini diniatkan sebagai upaya menyiapkan SDM yang terlibat dalam keberlangsungan kegiatan pesantren, sehingga tumbuh kesadaran sebagai bagian dari keluarga besar Qoryatul Qur’an.

Para peserta juga diingatkan untuk senantiasa menjaga penampilan dan tindakan dalam keseharian. Hal tersebut dipandang sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga marwah dan nama baik pesantren di tengah masyarakat.

Mencintai Takdir dan Menjalani Peran Sepenuh Hati

Narasumber pertama dalam majelis ini adalah Ustaz Salman Al Farisi, M.Pd. yang menyampaikan materi bertema “Mencintai Takdir dan Menjalani Peran Sepenuh Hati.” Mengajak peserta untuk menyadari bahwa posisi sebagai SDM pesantren adalah amanah yang memiliki tanggung jawab besar di hadapan Allah dan masyarakat.

Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang telah dikenal sebagai ustaz di pesantren, maka tidak hanya dirinya yang menjadi perhatian masyarakat, tetapi juga keluarganya. Oleh karena itu, setiap ustaz dituntut untuk menjaga sikap, perilaku, dan penampilan dengan penuh tanggung jawab, karena hal tersebut turut membawa nama baik pesantren.

Ustaz Salman menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Menjadi ustaz di pesantren bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Semua adalah bagian dari takdir Allah yang harus dipahami dan diterima dengan kesadaran.

Beliau mengajak para peserta untuk merenungkan pertanyaan, “Who am I?” Siapakah diri kita dan peran apa yang Allah titipkan kepada kita. Setiap orang diharapkan mampu menjalani perannya dengan penuh kesadaran bahwa dirinya membawa nama pesantren dalam kehidupan sehari-hari.

Ust. Salman Al Farisi
Ustaz Salman Al Farisi mengajak mencintai takdir dan peran 

Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa setiap posisi dan peran yang dijalani adalah amanah dari Allah. Allah memilih seseorang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan yang ada. Karena itu, kita perlu meyakini bahwa Allah paling mengetahui di mana seseorang dapat memberikan manfaat yang terbaik.

Terkadang manusia memiliki keinginan untuk menjadi sesuatu yang lain atau berada di posisi yang berbeda. Namun bisa jadi justru posisi yang saat ini dijalani adalah tempat terbaik yang telah Allah pilihkan agar seseorang dapat beramal dan memberi manfaat secara maksimal.

Dengan mencintai takdir dan menjalani peran sepenuh hati, setiap orang diharapkan mampu menunaikan amanahnya dengan lebih ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Mencintai takdir berarti rida terhadap posisi yang Allah berikan. Rida bukan berarti pasrah secara pasif tanpa usaha, melainkan menerima dengan lapang dada lalu menjalani amanah tersebut dengan ikhlas, sungguh-sungguh, dan penuh kesungguhan.

Seseorang perlu memiliki prinsip bahwa dirinya bukan sekadar menerima takdir, tetapi juga mencintai dan memuliakan peran yang Allah berikan. Dengan mencintai peran yang dijalani, maka akan menjalankan dengan penuh tanggung jawab dan semangat pengabdian.

Setiap peran pada hakikatnya adalah bagian dari dakwah. Baik sebagai pengasuh, musyrif dan musyrifah, pengajar, maupun sebagai pasangan dari pelaku dakwah, semuanya merupakan mata rantai dakwah yang saling berkaitan dan tidak dapat berdiri sendiri.

Beliau juga mengingatkan tentang bahaya ketika seseorang tidak mencintai peran yang dijalaninya. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang mudah merasa lelah dan sering mengeluh.

Bahkan bisa muncul perasaan bahwa pekerjaan orang lain lebih baik atau lebih mudah, sehingga pekerjaan yang dijalani hanya dilakukan karena kewajiban semata, bukan karena semangat pengabdian.

Jalani setiap peran sepenuh hati, dengan beberapa sikap penting: ikhlas dalam menjalankan setiap tugas, bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan, tetap istikamah meskipun hasilnya tidak selalu langsung terlihat, serta saling menghargai antarperan yang ada di lingkungan pesantren.

Beliau menegaskan bahwa sebuah pesantren tidak akan berhasil hanya karena satu orang yang hebat. Keberhasilan pesantren lahir dari banyak orang yang setia menjalankan perannya masing-masing dengan penuh komitmen.

Di akhir pemaparannya, Ustaz Salman mengingatkan agar tidak membanding-bandingkan takdir. Setiap orang memiliki jalan kebaikan dan ladang amal yang berbeda-beda.

Semua aktivitas di pesantren hendaknya diniatkan sebagai ibadah, perjuangan, dan investasi akhirat. Dengan niat tersebut, kegiatan seperti mengajar, membimbing santri, ataupun mendukung pasangan dalam berdakwah akan bernilai ibadah di sisi Allah.

Beliau menutup dengan pesan renungan bahwa keberadaan seseorang di pesantren bukanlah sebuah kebetulan. Setiap peran, sekecil apa pun, memiliki nilai di sisi Allah. Karena itu, cintailah takdir yang Allah berikan dan jalani peran tersebut sepenuh hati, sebab bisa jadi di sanalah jalan pahala terbesar yang Allah siapkan bagi kita.

Kader Dakwah Adalah Penerus Perjuangan Nabi

Selanjutnya, majelis menghadirkan narasumber kedua, yaitu Ustazah Ummi Lathifah. Beliau membagikan pengalaman dan refleksi tentang perjalanan dakwah serta keterlibatannya dalam perkembangan Qoryatul Qur’an.

Ustazah Ummi Lathifah menyampaikan bahwa dirinya bukan berasal dari latar belakang lulusan pesantren. Namun demikian, Allah menakdirkannya untuk menjadi seorang daiyah dan ikut terlibat dalam perjalanan serta perkembangan Qoryatul Qur’an (QQ).

Hal ini menjadi pengingat bahwa jalan dakwah sering kali tidak selalu sesuai dengan rencana manusia, tetapi merupakan bagian dari ketetapan Allah yang harus disyukuri dan dijalani dengan penuh tanggung jawab.

Ustazah Ummi Lathifah
Ustazah Ummi Lathifah sebutkan bahwa kita adalah kader penerus perjuangan 

Beliau juga mengisahkan bahwa pada masa awal pendirian pesantren, sempat muncul berbagai pandangan mengenai arah pengembangan Qoryatul Qur’an. Ada yang mengusulkan agar pesantren difokuskan sebagai pesantren tahfizh Al-Qur’an, sementara sebagian yang lain mengusulkan agar menjadi pondok kaderisasi.

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi, akhirnya diputuskan bahwa Qoryatul Qur’an berkembang sebagai pesantren tahfizh sekaligus kaderisasi, sehingga tidak hanya melahirkan penghafal Al-Qur’an, tetapi juga kader-kader dakwah.

Ustazah Ummi Lathifah mengingatkan bahwa setiap muslim senantiasa memohon kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah dan bukan jalan orang-orang yang tersesat. Beliau kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمَ ٱللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّـٰلِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُو۟لَٰٓئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat benar (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)

Jalan yang ditempuh para nabi adalah jalan menegakkan agama Allah dengan penuh kesungguhan. Para nabi memiliki misi yang sama, yaitu menegakkan agama Allah dan menjaga persatuan dalam dakwah. Karena itu, para pelaku dakwah pada masa kini pada hakikatnya adalah generasi yang melanjutkan estafet perjuangan para nabi.

Ustazah Ummi mengingatkan bahwa keterlibatan seseorang dalam pesantren dan dakwah bukanlah semata-mata untuk bekerja atau mencari keuntungan dunia. Para kader dakwah adalah orang-orang yang secara sadar memilih untuk berkontribusi dalam perjuangan dakwah, memberikan peran dan tenaga mereka untuk kemaslahatan umat.

Beliau menegaskan bahwa jalan dakwah memang bukan jalan yang mudah. Namun di balik kesulitan tersebut terdapat balasan yang sangat besar dari Allah. “Bonusnya adalah surga,” pungkas beliau.

Adab dan Etika di Lingkungan Pesantren Qoryatul Qur’an

Narasumber ketiga dalam majelis ini adalah Ustaz Bambang Wahyudi, S.E. yang menyampaikan tengang “Adab dan Etika di Lingkungan Pesantren Qoryatul Qur’an.” Menekankan pentingnya menjaga adab dan etika sebagai bagian dari karakter dasar yang harus dimiliki oleh setiap SDM yang berada di lingkungan pesantren.

Ust. Bambang Wahyudi
Ustaz Bambang Wahyudi menyampaikan tentang adab dan etika pesantren 

Majelis ini menjadi ikhtiar untuk menguatkan pemahaman, kebersamaan, dan komitmen para SDM yang terlibat dalam amal dakwah Qoryatul Qur’an. Melalui penguatan visi, kesadaran peran, serta adab dalam kehidupan pesantren, diharapkan seluruh elemen dapat melangkah seirama dalam menjaga dan mengembangkan amanah dakwah di lingkungan Qoryatul Qur’an.

Posting Komentar untuk "Majelis Ukhuwah dan Tafhimul Haiah PPTQ Qoryatul Qur’an: Mencintai Takdir dan Menjalani Peran Sepenuh Hati"