Mahasantri Ma’had Aly Qoryatul Qur’an angkatan 7, asal Polokarto, Sukoharjo
Sebuah artikel yang banyak di-share melalui aplikasi perpesanan WhastApp berjudul “Budimu Karena Peran Iblis, Sucimu Karena Peran Maksiat” cukup membuat saya tidak nyaman. Sebuah logika yang menurut saya tidak tepat.
Artikel tersebut adalah tulisan dari Muhammad Nurul Banan atau yang menyebut diri Gus Banan. Jujur saya tidak mengenal pemilik nama itu, sangat asing di telinga saya. Saya mencoba membuat beberapa catatan dari artikel itu, sebatas ketidaknyamanan saya saja.
![]() |
| Benarkah Budi Kita karena Peran Iblis dan Kesucian Kita karena Peran Maksiat? |
Pertama, kesalahan logika. Gus Banan menggunakan contoh-contoh yang tidak relevan untuk membuktikan argumennya, seperti contoh tentang Red Light District Amsterdam, sebuah pusat prostitusi yang disebutnya sebagai paling modern, tertib, aman, dan eksklusif.
Gus Banan mempertanyakan orang yang merasa suci karena menjaga kehormatan. Menurutnya, nilai “kehormatan” itu hanya ada karena ada orang lain yang “menjual kehormatannya”. Diibaratkannya, adanya pegawai jujur semata-mata karena keberadaan koruptor di kantor kita.
Contoh ini tidak memiliki hubungan logis dengan argumen bahwa Iblis dan maksiat diperlukan untuk mencapai anggapan tentang kesucian dan kebaikan. Cacat logika ketika menyebut “budimu karena peran Iblis, sucimu karena peran maksiat”.
Kedua, penggunaan ayat Al-Qur’an tidak tepat. Gus Banan menggunakan Q.S Al-Imran ayat 191 untuk membuktikan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah tidak sia-sia namun tidak mempertimbangkan konteks dan makna sebenarnya dari ayat tersebut.
Ayat ini berbicara tentang kekuasaan dan kebijaksanaan Allah dalam menciptakan alam semesta, bukan tentang Iblis dan maksiat. Yang kemudian karena sifat iblis adalah penyebab kita punya sifat-sifat baik. Tanpa ada maksiat, menurutnya kita tak bisa disebut suci.
Ketiga, kesimpulan tidak logis. Gus Banan menyimpulkan bahwa Iblis dan maksiat adalah “pekerja gratisan” yang membantu manusia mencapai kesucian. Budi baik dan kesalehan hanya diperoleh berkat mereka yang “mengambil peran jahat”.
Namun, kesimpulan ini tidak logis dan bertentangan dengan ajaran Islam. Iblis dan maksiat adalah musuh Allah dan manusia, sehingga tidak dapat dibenarkan sebagai penyebab munculnya sesuatu yang baik.
Secara keseluruhan, artikel Gus Banan ini memiliki beberapa kesalahan logika, interpretasi yang tidak tepat, dan penggunaan ayat Al-Qur’an yang tidak tepat, sehingga perlu dipertimbangkan kembali dan diperbaiki.
Gus Banan seolah-olah membenarkan peran Iblis dan maksiat sebagai sesuatu yang diperlukan untuk mencapai kesucian, padahal Iblis dan maksiat adalah musuh Allah dan manusia. Gus Banan tidak mempertimbangkan bahwa kesucian dan kebaikan dapat dicapai melalui jalan yang benar dan tidak harus melalui peran Iblis dan maksiat.

Posting Komentar untuk "Benarkah Budi Kita karena Peran Iblis dan Kesucian Kita karena Peran Maksiat?"