Ustaz Setyadi Prihatno Ingatkan Mahasantri RISE Camp tentang Tantangan Menjauhkan Generasi Muda dari Islam

Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I., mengingatkan para peserta RISE Camp 2026 agar mewaspadai berbagai pengaruh yang dapat menjauhkan generasi muda dari ajaran Islam. Pesan tersebut disampaikan pada kesempatan majelis pada Kamis pagi, 15 Oktober 2026, hari ketiga RISE Camp di Bumi Perkemahan QQ Alasombo.

Ustaz Setyadi menekankan bahwa tantangan terhadap kehidupan beragama tidak selalu berbentuk ajakan untuk berpindah agama secara langsung. Menurut beliau, tantangan juga dapat muncul ketika seorang muslim semakin jauh dari ajaran agamanya, meskipun secara identitas masih beragama Islam.

“Misi utama mereka adalah bukanlah menjadikan kaum muslimin berpindah agama. Tapi cukuplah mereka jauh dari Islam. Inilah upaya mereka. Membuat kalian jauh dari Islam,” ujar beliau menyampaikan peringatan.

Ustaz Setyadi Prihatno
Ustaz Setyadi ingatkan tantangan generasi muda yang akan dijauhkan dari agamanya

Untuk menggambarkan persoalan tersebut, beliau mengajak peserta melihat kehidupan umat Islam di Indonesia. Jumlah umat Islam yang besar, menurut beliau, perlu diimbangi dengan kedekatan terhadap masjid dan kesungguhan dalam menjalankan ajaran agama.

Beliau menyoroti kondisi masjid yang tidak selalu dipenuhi jemaah, terutama ketika salat Subuh, berbeda dengan salat Jumat. Beliau juga mengajak peserta merefleksikan sejauh mana nilai-nilai Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ustaz Setyadi, salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah pola hidup yang menjadikan kesenangan sesaat sebagai orientasi utama. Sikap malas bekerja keras, berfoya-foya, mengejar kenikmatan hidup, dan menuruti hawa nafsu dinilai dapat mengikis kesungguhan generasi muda dalam membangun kehidupan yang bermanfaat.

Beliau juga mengingatkan bahwa penguasaan ilmu agama perlu disertai dengan akhlak yang baik. Menyinggung kasus perilaku yang melibatkan penghafal Al-Qur’an, beliau menegaskan pentingnya menjaga keselarasan antara ilmu, hafalan, dan perilaku.

Beliau menyoroti kecenderungan sebagian generasi muda yang menjadikan popularitas dan kekayaan sebagai gambaran utama kesuksesan. Banyak yang memiliki cita-cita menjadi konten kreator atau CEO, sebagaimana banyak viral di media sosial.

Generasi muda perlu memahami bahwa keberhasilan tidak datang hanya dengan mengikuti tren, membuat konten, atau menghabiskan waktu di dunia digital. Kesuksesan memerlukan proses, kerja keras, dan kesungguhan dalam mengembangkan kemampuan.

Ustaz Setyadi mengingatkan agar generasi muda Muslim, tidak sekadar menjadi konsumen tren, tetapi mampu berpikir kritis terhadap konten dan gambaran kesuksesan yang mereka temui setiap hari.

Ustaz Setyadi selanjutnya mengangkat sebuah kutipan berbahasa Inggris yang dalam penyampaiannya dikaitkan dengan Peter Berger: “I come to meet the Muslim not with a sword, but with words. Not by force, but by reason, not in hatred, but in love.”

Kutipan tersebut secara umum menggambarkan pendekatan melalui kata-kata, pemikiran, dan cinta, bukan melalui kekuatan fisik atau kebencian. Ustaz Setyadi mengajak peserta mencermati bagaimana pendekatan yang tampak ramah dapat memengaruhi cara berpikir seseorang.

Beliau mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menerima pengaruh dari luar. Keramahan atau kemasan yang menarik, menurut pesan yang beliau sampaikan, tidak seharusnya membuat seseorang berhenti menilai gagasan berdasarkan isi, tujuan, dan dampaknya.

Pembahasan kemudian meluas pada persoalan ekonomi dan penguasaan sumber daya. Beliau mencontohkan investasi asing, utang, dan kawasan ekonomi khusus sebagai hal-hal yang perlu dicermati dari sisi kepentingan serta dampaknya terhadap masyarakat.

Melalui materi tersebut, Ustaz Setyadi mengajak mahasantri untuk tidak bersikap pasif dalam menghadapi perkembangan zaman. Generasi muda perlu memiliki pemahaman agama yang kuat, akhlak yang baik, etos kerja, serta kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terbawa arus.

Nasihat tersebut menjadi bagian dari pembinaan pada kegiatan RISE Camp 2026 (Return Identity Strength Excellence) yang berlangsung pada 13–15 Oktober 2026 di Bumi Perkemahan QQ Alasombo. Bagian dari upaya pembinaan diri, penguatan tujuan hidup, dan pengembangan karakter.

Posting Komentar untuk "Ustaz Setyadi Prihatno Ingatkan Mahasantri RISE Camp tentang Tantangan Menjauhkan Generasi Muda dari Islam"