Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I. mengajak peserta RISE Camp 2026 mempertanyakan kembali ukuran kesuksesan yang selama ini berkembang di masyarakat. Menurut beliau, kesuksesan kerap diidentikkan dengan kepemilikan mobil mewah, rumah mewah, dan saldo rekening yang tidak terbatas.
Beliau menyindir kecenderungan menjadikan uang sebagai tujuan akhir berbagai aktivitas, termasuk belajar agama, menghafal Al-Qur’an, dan menempuh pendidikan di pesantren. “Bahkan menghafal Al-Qur’an, bahkan belajar agama, bahkan mondok itu ujungnya UUD, ujung-ujungnya duit,” ujar beliau.
![]() |
| Ustaz Setyadi ingatkan agar meniatkan semua ibadah hanya untuk Allah |
Ustaz Setyadi kemudian mengajak peserta mengevaluasi niat dalam beribadah. Menurut beliau, ibadah hendaknya tidak hanya dipandang sebagai sarana memperoleh keuntungan materi atau memenuhi keinginan pribadi.
Beliau mencontohkan sedekah yang dilakukan dengan harapan mendapatkan balasan berlipat ganda, salat duha yang dikerjakan demi memperoleh rezeki, serta salat tahajud yang diniatkan agar cita-cita segera terkabul.
Beliau juga menyinggung orang yang menghafal Al-Qur’an dengan harapan mendapatkan fasilitas umrah gratis. Dalam menuntut ilmu dan beribadah, apakah semata-mata untuk mendapatkan keuntungan duniawi atau benar-benar dilandasi keimanan dan penghambaan kepada Allah?
Ustaz Setyadi mengajak peserta merenungkan alasan mereka menjalankan perintah Allah Swt. Beliau menggunakan sebuah ilustrasi hipotetis tentang salat yang tidak disertai pahala maupun dosa untuk menguji kesungguhan seseorang dalam beribadah.
“Kalau kamu diperintahkan Allah salat, tidak ada pahalanya. Kamu tinggalkan juga tidak dosa. Kamu salat enggak? Orang enggak ada pahalanya. Terus, kalau ditinggalkan enggak dosa. Tapi Allah perintah salat. Kamu salat enggak?”
Melalui ilustrasi tersebut, beliau mengajak peserta berpikir bahwa ketaatan tidak semestinya hanya didasarkan pada perhitungan pahala dan dosa. Seorang muslim seharusnya menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.
Ketika seseorang lebih mempertimbangkan keuntungan atau kerugian pribadi daripada ketaatan, hal itu menunjukkan perlunya evaluasi terhadap niat dan cara pandang dalam beragama.
Beliau mengakui bahwa manusia secara alami mengharapkan imbalan. Namun, menurut beliau, mengharapkan pahala tidak seharusnya menjadi satu-satunya motivasi dalam beribadah.
Memperbaiki niat menjadi hal yang penting bagi seluruh aktivitas, termasuk kegiatan RISE Camp 2026 di Bumi Perkemahan QQ Alasombo, selama tiga hari ini, Selasa–Kamis, 13–15 Oktober 2026, agar bernilai di sisi Allah Swt.

Posting Komentar untuk "Ustaz Setyadi Prihatno Ingatkan Mahasantri RISE Camp agar Tidak Transaksional dalam Ibadah pada Allah"