Majelis Pembinaan Tarbawi bersama Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I., menjadi salah satu agenda pembinaan pada hari kedua Grace Camp 2026 yang berlangsung di Bumi Perkemahan Qoryatul Qur’an (QQ) Alasombo.
Dilaksanakan Jumat, 25 September 2026, bakda Salat Jumat, tepatnya pukul 13.30 WIB. Kegiatan ini diikuti seluruh peserta Grace Camp 2026 yang berjumlah 133 mahasantri putri dari lima Ma’had Aly, yakni Baitul Qur’an, Kharisma Haromain, Qoryatul Qur’an, Daarur Rahmah Wal Hikmah, dan Lembah Qur’an Al-Amin.
Ustaz Setyadi Prihatno mengajak para mahasantri memahami pentingnya mengetahui status diri karena status menunjukkan kedudukan seseorang dan menjadi jawaban atas pertanyaan tentang siapa dirinya.
Beliau menjelaskan bahwa status utama manusia adalah sebagai hamba Allah. Status tersebut melekat pada setiap manusia dan memiliki tujuan utama, yakni beribadah kepada Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
![]() |
| Ustaz Setyadi ajak pahami status, peran, dan hak setiap diri |
Menurut beliau, pemahaman terhadap status sebagai hamba Allah akan mengubah cara seseorang memandang aktivitas sehari-hari. Tidur, makan, menikah, menangis, bahkan mengikuti kegiatan di Bumi Perkemahan Alasombo dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan sesuai tuntunan.
Selain status yang melekat secara otomatis, Ustaz Setyadi menjelaskan adanya status yang harus diperoleh melalui ikhtiar. Status sebagai santri, mahasiswa, istri, ibu, guru, maupun pengusaha membutuhkan proses dan usaha untuk menjalankan kedudukannya masing-masing.
Beliau mengajak para mahasantri agar tidak sekadar memikirkan “status” dalam pengertian media sosial, tetapi berusaha membangun status diri yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Ustaz Setyadi kemudian menguraikan bahwa di dalam setiap status terdapat peran. Peran merupakan tindakan yang seharusnya dilakukan seseorang sesuai dengan status yang dimilikinya. “Peran adalah tindakan yang harus kamu lakukan sesuai statusmu,” jelas beliau.
Seorang anak, misalnya, memiliki peran untuk berbakti kepada kedua orang tua atau birrul walidain. Sementara seorang santri memiliki peran untuk thalabul ilmi, yaitu menuntut ilmu.
Selain peran, setiap status juga memiliki hak. Hak merupakan sesuatu yang semestinya diperoleh seseorang sesuai kedudukannya. Seorang anak memiliki hak untuk disayang dan dibimbing, guru memiliki hak untuk dihormati, sedangkan orang tua memiliki hak untuk dihormati, dimuliakan, dan ditaati.
Pemahaman terhadap status, peran, dan hak tersebut, menurut beliau, penting agar seseorang dapat menjalankan kewajibannya dengan baik sekaligus memahami apa yang menjadi haknya.
![]() |
| Mahasantri peserta Grace Camp 2026 ikuti pembinaan tarbawi |
Pengetahuan tentang peran mendorong seseorang untuk melaksanakan tanggung jawab, sedangkan pemahaman terhadap hak dapat menjadi motivasi dalam menjalankan kewajiban.
Ustaz Setyadi juga mengingatkan agar para mahasantri tidak menjadikan ibadah sebagai transaksi yang hanya dilakukan ketika ada imbalan. Ketika Allah memerintahkan sesuatu, seorang hamba hendaknya menjalankannya karena Allah.
Sebaliknya, ketika Allah melarang sesuatu, seorang hamba hendaknya meninggalkannya. Beliau juga mengingatkan bahwa menahan diri dari keinginan buruk karena Allah merupakan bagian dari upaya menjaga diri dari dosa.
Ustaz Setyadi mengajak para mahasantri untuk terus mengenali dan merenungkan status dirinya. Seorang mahasantri memiliki berbagai kemungkinan status yang akan dijalani dalam kehidupannya, seperti calon istri, calon ibu, hingga calon penghuni akhirat.
Menurut beliau, seseorang yang tidak mengenal dirinya akan kesulitan memahami hak dan kewajibannya. Ketika kewajiban dan peran tidak dijalankan, persoalan yang muncul bukan hanya berkaitan dengan kehidupan sosial, tetapi juga tanggung jawab di hadapan Allah.
Beliau menjelaskan bahwa mengenal diri menjadi salah satu mindset pertama yang perlu dibangun. Seorang muslimah perlu memahami posisinya sebagai anak, santri, dan bagian dari masyarakat sehingga mengetahui bagaimana seharusnya bersikap kepada orang tua, guru, maupun orang lain.


Posting Komentar untuk "Majelis Pembinaan Tarbawi Grace Camp 2026 bersama Ustaz Setyadi Prihatno: Memahami Status, Peran, dan Hak Diri"