Majelis Pembinaan Tarbawi GRACE Camp 2026, Ustaz Setyadi Prihatno Kenalkan Mindset Start from the End

Majelis Pembinaan Tarbawi bersama Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I., menjadi salah satu agenda pembinaan pada hari kedua GRACE Camp 2026 yang berlangsung di Bumi Perkemahan Qoryatul Qur’an (QQ) Alasombo.

Dilaksanakan Jumat, 25 September 2026, bakda Salat Jumat, tepatnya pukul 13.30 WIB. Kegiatan ini diikuti seluruh peserta GRACE Camp 2026 yang berjumlah 133 mahasantri putri dari lima Ma’had Aly, yakni Baitul Qur’an, Kharisma Haromain, Qoryatul Qur’an, Daarur Rahmah Wal Hikmah, dan Lembah Qur’an Al-Amin.

Ustaz Setyadi mengawali pembinaan dengan mengajak para mahasantri untuk memahami diri, status, kewajiban, serta peran masing-masing. Menurut beliau, seseorang yang tidak mengenal dirinya akan kesulitan memahami hak dan kewajibannya.

Selain mengenal diri, Ustaz Setyadi memperkenalkan mindset start from the end, yakni membiasakan diri menentukan tujuan akhir sebelum memulai sebuah aktivitas. Beliau mengibaratkan seseorang yang hendak memasak.

Start from the end
Ustaz Setyadi kenalkan mindset start from the end

Sebelum membeli bahan, seseorang harus menentukan terlebih dahulu makanan apa yang ingin dibuat. Demikian pula dalam kehidupan, tujuan akhir perlu ditentukan agar langkah-langkah yang ditempuh menjadi lebih terarah.

Menurut beliau, seseorang yang telah menentukan tujuan akan lebih mudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mencapainya. Jika seorang mahasantri ingin menjadi hafizah, misalnya, ia perlu membangun kebiasaan menghafal Al-Qur’an, murajaah, mempelajari tajwid, dan tafsir.

Begitu pula seseorang yang ingin membangun rumah tangga yang baik perlu membekali diri dengan ilmu yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga.

Mindset berikutnya adalah keberanian untuk memulai. Ustaz Setyadi menekankan bahwa perubahan tidak harus menunggu seseorang memiliki kemampuan yang sempurna. Setiap orang dapat memulai dari apa yang bisa dilakukan, dari apa yang dimiliki, dari diri sendiri, dan dari sekarang.

Beliau juga mengajak para mahasantri untuk berani mengembangkan kemandirian dan keterampilan. Seseorang yang ingin memiliki kemampuan tertentu harus berani mencoba, belajar dari proses, dan tidak takut memulai dari hal-hal sederhana.

Ustaz Setyadi kemudian menjelaskan tiga akar masalah yang dapat menghambat kesuksesan seseorang, yaitu lemah iman, mindset yang salah, dan kurangnya kemampuan. Menurut beliau, iman memiliki peran penting dalam mendorong seseorang melakukan amal saleh.

Ketika seseorang malas berbuat baik dan terus menunda kewajiban, hal tersebut perlu menjadi bahan muhasabah terhadap kondisi imannya. “Kalau kamu malas berbuat baik, sesungguhnya imanmu sedang bermasalah,” ungkap beliau.

Untuk menguatkan iman, seseorang perlu memperbanyak amal saleh. Namun, ketika iman sedang lemah, seseorang terkadang kesulitan untuk beramal. Karena itu, keberadaan lingkungan dan teman yang baik menjadi penting. Teman dapat saling mengingatkan, mengajak dalam kebaikan, serta membantu menjaga semangat dalam beramal.

Beliau juga mengingatkan agar seseorang tidak menganggap teman sebagai pesaing dalam kebaikan. Sebaliknya, ketika melihat teman mengalami kesulitan untuk melakukan amal saleh, seorang muslimah hendaknya membantu dan mengajaknya kepada kebaikan.

Akar masalah kedua adalah mindset yang salah. Menurut beliau, cara seseorang memandang suatu keadaan akan memengaruhi sikap dan tindakannya. Karena itu, peserta GRACE Camp perlu membangun pola pikir bahwa kegiatan tersebut merupakan kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan menjadi lebih baik.

“Kalau mindset-mu salah, maka sikapmu dan tindakanmu pasti salah,” tutur Ustaz Setyadi. GRACE Camp, lanjut beliau, bukan sekadar kegiatan perkemahan, melainkan ruang pembentukan diri dan visi.

Para peserta diarahkan untuk membangun karakter, iman yang hidup, adab, keterampilan, serta arah hidup yang jelas. Seseorang yang tidak memiliki arah akan berjalan tanpa mengetahui tujuan sehingga mudah kehilangan orientasi.

Dalam pembahasan mengenai adab, Ustaz Setyadi menekankan bahwa adab tidak cukup dipahami hanya sebagai sopan santun atau etika. Adab merupakan integrasi antara ilmu, iman, dan amal, sekaligus kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Grace Camp 2026
Peserta Grace Camp menyimak pembinaan Ustaz Setyadi 

Selain iman, mindset, dan adab, peserta juga didorong untuk memiliki keterampilan. Kemampuan diperoleh melalui latihan yang berulang. Karena itu, para mahasantri perlu berani mencoba dan terus mengasah kemampuan agar dapat menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan.

Pada bagian akhir, Ustaz Setyadi menegaskan bahwa Islam tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan. Ilmu harus diwujudkan dalam pengamalan melalui perilaku dan kontribusi yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Para mahasantri juga diajak untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat. Beliau mengutip prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Dengan demikian, GRACE Camp diharapkan menjadi ruang bagi para mahasantri untuk membangun iman yang hidup, memperbaiki mindset, mengembangkan kemampuan, memperkuat adab, serta menemukan arah hidup dan kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Posting Komentar untuk "Majelis Pembinaan Tarbawi GRACE Camp 2026, Ustaz Setyadi Prihatno Kenalkan Mindset Start from the End"