Delegasi Qoryatul Qur’an Silaturahmi ke Ladang Dakwah di Dusun Jurang, Pijiharjo, Manyaran, Wonogiri

Salah satu objek dakwah di pedalaman adalah berada di Dusun Jurang, Pijiharjo, Manyaran, Wonogiri. Qoryatul Qur’an masuk ke daerah ini melalui event tebar kurban ketika Hari Raya Iduladha.

Delegasi Tim Dakwah Qoryatul Qur’an berkunjung ke Dusun Jurang, pada hari Kamis, 11 Januari 2024. Tiba di lokasi jelang waktu Salat Asar. Transit di Masjid Fisabilillah Jurang untuk salat terlebih dulu, sebelum ke rumah kepala dusun yang dituju.

Ada pun tim yang turut berangkat adalah Ustaz Salman Al Farisi, Ustaz Hendri Setiawan, Ustaz Ahmad Bilal Mubaroq, Ustaz Raihan Afif Ilyasa, dan Pak Wakhid Syamsudin, perwakilan QQ Media.

Berjemaah Asar di masjid, tim berjumpa dengan pengurus masjid yakni Bapak Suroto. Sempat berbincang banyak hal dengan beliau, terkait kondisi sosial masyarakat dan keagamaan di Dukuh Jurang ini.

Meski sekarang ini mayoritas muslim, ternyata di Dukuh Jurang masih ada penganut agama Budha sejumlah sekitar 75 orang. “Mereka generasi sepuh, yang muda-muda sudah muslim semua,” ungkap Pak Suroto.

Masjid Jurang
Bertemu Pak Suroto di masjid

Menurut penuturan Pak Suroto, asal muasal masuknya agama Budha di Dukuh Jurang diawali tahun 1960-an ketika kepala desanya beragama Budha dan banyak memberi bantuan apa saja, sehingga warga bersimpati dan ikut ajaran Budha.

Jadi, yang tersisa hingga kini masih memeluk agama Budha adalah para sesepuh yang pernah dipimpin oleh kepala desa tersebut. Untuk kaum muda sudah banyak yang kembali menjadi muslim.

Kehidupan berbeda kepercayaan, warga Dukuh Jurang tetap rukun berdampingan. Para tetua yang beragama Budha juga terbiasa turut merayakan Idulfitri dan Iduladha bersama warga muslim.

Bahkan ketika ada tabligh akbar, mereka juga datang memenuhi undangan panitia. Termasuk para tokoh yang dianggap kuat memeluk ajaran Budha, juga hadir dalam kegiatan tabligh akbar tersebut.

Di Dukuh Jurang ada berdiri sebuah vihara dengan jadwal puja bakti setiap malam Rabu sambil arisan, panggilan kumpulnya menggunakan kentongan. Cara sembahyangnya dengan bacaan berbahasa sansekerta yang tidak ada penjelasan artinya.

“Dulu ada bhikkhu (biksu) yang tinggal di sini, sekarang sudah pindah ke Kalimantan,” kenang Pak Suroto. Menurut beliau, saat perayaan tertentu, warga yang menganut Budha masih sesekali berangkat ke Candi Borobudur.

Sementara di puncak bukit di atas Dukuh Jurang ada bangunan lawas petilasan masjid tiban, yang disalahgunakan menjadi tempat orang meminta. Air di padasannya dipercaya membawa tuah. Dan tempat itu dijaga oleh seorang juru kunci.

Masuknya Islam sebagian karena generasi muda merantau dan menemukan hidayah di sana untuk memeluk Islam. Sama seperti Pak Suroto yang pernah merantau dan diajak masuk Islam oleh bos-nya meski awalnya enggan.

Di Masjid Fisabilillah pada tahun-tahun belakangan ini, mulai diisi pengajian ibu-ibu yang baru mengenal iqro. Ada sejumlah 30-an ibu-ibu hadir setiap Jumat dan Sabtu belajar membaca dari iqro.

TPA untuk anak-anak juga sudah mulai diadakan, muridnya bisa sampai 40. Yang mengajari warga yang sudah bisa baca Al-Qur’an. Namun, ketika musim kerjaan sawah maka pengajian sepi yang hadir. Siang ke sawah, malam lelah.

Obrolan bersama Pak Suroto dilanjutkan di rumah Kepala Dusun, yakni Pak Larman. Sekaligus memperbincangkan rencana untuk mengadakan pengajian umum malam Ahad yang akan datang.

Silaturahmi
Silaturahmi ke rumah Kadus Jurang

Dari obrolan di ruang tamu Pak Larman, diperoleh beberapa kesimpulan. Di antaranya adalah agenda malam Ahad yang akan datang, akan dimulai dengan kajian bertema umum, kemudian nantinya bisa dilakukan evaluasi, dengan komunikasi secara langsung pada warga setelah kajian perdana dilaksanakan.

Untuk kajian tematik belum bisa diterapkan secara umum, kecuali untuk takmir masjid atau warga yang memang berniat mencari ilmu. Rencananya ladang dakwah ini nanti akan digarap oleh Ustaz Bilal.

Warga menggarap sawah tadah hujan, jadi ketika ada pekerjaan sawah maka mereka akan lebih mengutamakannya dibanding mengikuti acara lain. Kalaupun malam, mereka kelelahan karena siang bekerja di sawah.

Hari semakin sore, akhirnya rombongan berpamitan kepada tuan rumah untuk pulang. Semoga setiap langkah dakwah yang dilakukan ini menurunkan keberkahan untuk kita semua.

1 komentar untuk "Delegasi Qoryatul Qur’an Silaturahmi ke Ladang Dakwah di Dusun Jurang, Pijiharjo, Manyaran, Wonogiri"