Resensi Buku “#Pernah Tenggelam” Karya Fuadh Naim: Renungan bagi Para Pecinta Korean Wave

Oleh: Chintya Malihah Sukrandono
Santri kelas XII Matiq A MATQ Qoryatul Qur’an Komplek Jetis, asal Klaten

nKetika mendapat tugas resensi buku, saya teringat pada sebuah buku yang pernah sangat ingin saya baca. Buku itu adalah koleksi teman saya. Kemudian, saya menghubunginya untuk meminjam buku itu. Alhamdulillah, ia berkenan meminjamkannya. Sesuai ekspektasi saya, buku ini sangat mengena di hati.

  • Judul buku: #Pernah Tenggelam
  • Penulis: Fuadh Naim
  • Penerbit: Alfatih Press
  • Tahun terbit: 2019
  • ISBN: 978-602-52054-5-3
  • Tebal buku: 228 halaman

Fuadh Naim yang memiliki akun media sosial @fuadhnaim adalah seorang yang aktif menyuarakan gerakan #HallyuHijrah. Ia juga kerap memberikan motivasi kepada para remaja yang sedang berusaha keluar dari Korean Wave.

Chintya Malihah Sukrandono
Chintya Malihah Sukrandono membaca buku “#Pernah Tenggelam”

Korean Wave, adalah fenomena penyebaran budaya populer Korea Selatan secara masif ke berbagai penjuru dunia sejak akhir tahun 1990-an. Gelombang budaya ini mencakup berbagai elemen hiburan dan gaya hidup.

Mulai dari musik pop (K-Pop), serial drama (K-Drama), film, produk kecantikan (K-Beauty), fashion, hingga kuliner khasnya yang sukses memikat jutaan penggemar global, termasuk di Indonesia.

Hallyu Hijrah adalah fenomena sosial-keagamaan di Indonesia ketika para penggemar budaya pop Korea (K-Pop dan K-Drama) memutuskan untuk memperdalam ajaran Islam atau meninggalkan gaya hidup fandom fanatik.

Buku ini menceritakan perjalanan hijrah penulis yang menemukan adanya persimpangan antara Korean Wave dan ajaran agama Islam. Penulis memaparkan fakta yang ia temukan di dunia K-Pop, K-Drama, dan juga dampak dari Korean Wave. Penulis merasakan bahwa Korean Wave dan Islam benar-benar tidak bisa berjalan beriringan.

#Pernah Tenggelam
Sampul buku #Pernah Tenggelam karya Fuadh Naim

Ada beberapa kutipan menarik yang saya dapatkan dalam buku ini. Di antaranya adalah: “Rasulullah selalu mikirin kita, kita selalu mikirin oppa. Besok di akhirat ngemis syafaat siapa.” (hal. 152)

Kemudian, ada lagi: “Dengan Islamlah gue ngerasa berarti, karena gue jadi tahu bahwa dengan mengejar akhiratlah dunia akan mengikuti.” (hal. 212)

Kelebihan buku ini adalah menggunakan banyak warna dan dilengkapi gambar yang menjadikan tampilannya lebih menarik. Bahasanya ringan dan mudah dipahami oleh para pembaca. Hanya saja, informasi tentang penulis tidak banyak didapatkan dalam buku ini.

Saya merekomendasikan buku ini untuk para pecinta Korea, K-Popers, dan K-Drama yang masih denial dengan fakta dan persimpangan yang ada di dalam Korean Wave ini. Yuk, kita renungkan bersama.

Posting Komentar untuk "Resensi Buku “#Pernah Tenggelam” Karya Fuadh Naim: Renungan bagi Para Pecinta Korean Wave"