Menjaga Marwah Pesantren melalui Internalisasi 5S

Oleh: Ustaz Edi Casedi, S.Pd.I., M.P.I.
Kepala MATQ Qoryatul Qur’an 

Masalah minimnya internalisasi 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun) yang berujung pada sikap apatis, cuek, minim gagasan, hingga santri menghindar saat kontak mata dengan orang yang lebih tua adalah isu krusial yang langsung menyasar jantung marwah pesantren (adab dan etika).

Sebagai bentuk tanggung jawab pesantren, selain melahirkan generasi yang berilmu dan memiliki hafalan yang kuat, adalah mendidik menjadi generasi yang beradab, memiliki kepekaan sosial, serta mampu menempatkan diri dengan baik di tengah masyarakat.

Santri QQ
Santri menunduk hormat pada ustaz

Ketika hal ini terjadi secara masif, artinya 5S baru sebatas slogan di dinding, belum menjadi budaya hidup (living culture). Padahal, nilai-nilai tersebut seharusnya melekat dalam keseharian santri, baik ketika berinteraksi dengan guru, pengasuh, sesama santri, maupun masyarakat sekitar.

Di antara solusinya adalah dengan memahamkan bahwa 5S bisa dilakukan melalui bahasa tubuh. Sering kali santri cuek atau menghindar bukan karena membenci, melainkan karena canggung, tidak tahu gestur yang benar, atau takut salah.

Oleh karena itu, pembinaan adab tidak cukup hanya disampaikan melalui nasihat dan teori, tetapi harus dibiasakan, dicontohkan, serta dievaluasi secara berkelanjutan. Keteladanan para ustaz dan ustazah menjadi bagian penting dalam proses internalisasi nilai-nilai tersebut.

Santri juga perlu dipahamkan makna kontak mata (eye contact). Ajarkan bahwa kontak mata dengan guru atau orang yang lebih tua bukanlah sebuah ancaman, melainkan bentuk ihtiram (penghormatan) dan tanda kesiapan mental.

Latihan praktis yang bisa diterapkan oleh para pemomong, adalah dengan tidak hanya menyuruh, tapi mengajarkan gestur fisiknya secara spesifik melalui muhadharah atau saat pelaksanaan apel pagi.

Ajarkan sikap berdiri tegak saat disapa, turunkan pandangan sedikit ke arah bawah/dada sebagai tanda tawadhu. Bukan dengan menunduk tajam atau bahkan terkesan membuang muka dan menghindar.

Ajarkan dan beri contoh mengucapkan salam dengan suara yang terdengar jelas (tidak bergumam). Kemudian bagaimana cara mengangguk hormat saat berpapasan.

Pembiasaan ini perlu dilakukan secara konsisten. Jangan sampai santri lebih terbiasa menunduk ketika berhadapan dengan manusia, tetapi justru kehilangan kepekaan terhadap nilai-nilai adab yang menjadi ruh pendidikan pesantren.

Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan oleh para pemomong dan pengasuh. Ini bukan semata-mata persoalan perilaku santri, melainkan juga cerminan keberhasilan pola asuh dan pendidikan yang kita jalankan bersama.

Apa yang dibiasakan, dicontohkan, dan dibiarkan oleh para pendidik akan membentuk karakter santri. Jika para pemomong tidak memperhatikan artinya ustaz-ustazah menganggap hal tersebut tidak penting.

Perlu dipahami bahwa keberlangsungan pesantren bukan hanya ditentukan oleh megahnya bangunan, banyaknya program, atau capaian akademik santri.

Lebih dari itu, marwah pesantren terletak pada kualitas manusia yang ada di dalamnya, terutama adab, kepedulian, tanggung jawab, dan kesungguhan seluruh unsur pendidik dalam menjalankan amanah.

Jangan sampai kita sibuk membangun sistem pendidikan, tetapi abai terhadap nilai-nilai dasar yang justru menjadi alasan mengapa pesantren ini didirikan.

Setiap ustaz dan ustazah memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga, merawat, dan memperjuangkan keberhasilan serta keberlangsungan lembaga ini.

Posting Komentar untuk "Menjaga Marwah Pesantren melalui Internalisasi 5S"