Dalam Majelis Multaqo Mudara Maahid pada rangkaian International Islamic Education Forum (IIEF) 2026, Ustaz KH. Bachtiar Nasir, Lc., M.A., mengajak para pimpinan pesantren untuk belajar dari perjalanan sejarah sebuah pesantren, khususnya dalam membangun pola kepemimpinan yang mampu menjaga keberlangsungan lembaga.
Beliau menceritakan perjalanan sebuah pesantren yang pada awal perkembangannya dibangun melalui proses panjang. Pesantren tersebut tumbuh dari tradisi pendidikan yang bermula dari kegiatan mengaji dan pembelajaran bahasa Arab, kemudian berkembang hingga mampu menarik santri dari berbagai daerah.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa sebuah pesantren tidak selalu tumbuh secara instan. Dibutuhkan proses panjang, kaderisasi, serta kemampuan para pengelola untuk meneruskan apa yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.
![]() |
| Ustaz Bakhtiar Nasir soroti kepemimpinan yang bertumpu pada karisma satu kiai |
Ustaz Bachtiar Nasir kemudian menyoroti pengalaman kepemimpinan pesantren tersebut. Pada fase tertentu, kepemimpinan pernah bertumpu pada satu sosok kiai yang memiliki karisma kuat. Menurut beliau, model kepemimpinan tunggal dengan kekuatan karisma kiai memang dapat menjadi kekuatan pada tahap awal perkembangan pesantren.
Namun, pada tahap berikutnya, pola tersebut dapat menghadirkan tantangan ketika sosok pemimpin utama tidak lagi ada. Beliau menjelaskan bahwa ketika kiai tersebut wafat, muncul persoalan dalam keberlanjutan kepemimpinan pesantren yang kemudian berujung pada perpecahan dan lahirnya pesantren-pesantren baru.
Dari pengalaman tersebut, muncul pola kepemimpinan yang lebih kolektif dan kolegial. Menurut Ustaz Bachtiar Nasir, model tersebut memiliki karakter yang lebih demokratis karena tanggung jawab kepemimpinan tidak hanya bertumpu pada satu figur.
Beliau menekankan bahwa karisma seorang kiai dapat menjadi kekuatan besar bagi pesantren pada tahap awal. Namun, kekuatan tersebut perlu dilengkapi dengan sistem kepemimpinan yang mampu memastikan keberlanjutan lembaga ketika terjadi pergantian generasi.
“Kepemimpinan tunggal, karismatik kiai ini untuk tahap awal, dia menjadi titik kekuatan. Tapi ke depannya nanti, itu menjadi kelemahan, ketika sang kiai sudah meninggal dunia,” tutur beliau.
Karena itu, pengalaman sejarah tersebut menjadi pelajaran penting bagi para mudir dan pengelola pesantren agar membangun sistem yang tidak hanya bergantung pada figur tertentu. Kaderisasi dan pembagian peran kepemimpinan menjadi bagian penting untuk memastikan pesantren tetap berjalan ketika terjadi perubahan generasi.
Ustaz Bachtiar Nasir juga menggambarkan bagaimana pesantren tersebut pada masa perkembangannya mulai menerima santri dari berbagai wilayah. Kehadiran santri dari luar daerah menunjukkan semakin luasnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses perkembangan pesantren.
Menurut beliau, perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan pesantren membutuhkan kombinasi antara kekuatan figur, sistem kelembagaan, kaderisasi, serta kepemimpinan yang mampu bekerja secara bersama-sama.
Ustaz Bachtiar Nasir mendorong para pemimpin pesantren untuk mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman sejarah sehingga pesantren dapat terus berkembang, melakukan regenerasi kepemimpinan, dan menjaga keberlanjutan perjuangan pendidikan Islam lintas generasi.

Posting Komentar untuk "Majelis Multaqo Mudara Maahid IIEF 2026, Ustaz Bakhtiar Nasir Soroti Model Kepemimpinan yang Bertumpu pada Satu Sosok Kiai Karismatik"