Dr. Tiar Anwar Bachtiar menjadi pemateri kajian umum bersama segenap SDM PPTQ Qoryatul Qur’an di Masjid Widad El Fayez, Gabeng, Kamis 22 Oktober 2026. Dilaksanakan bakda Salat Zuhur.
Sekilas tentang Dr. Tiar Anwar Bachtiar, beliau merupakan sejarawan, penulis, dan akademisi yang menempuh pendidikan Ilmu Sejarah di Universitas Padjadjaran serta pendidikan magister dan doktoral di Universitas Indonesia.
Beliau menjadi anggota Dewan Pendidikan Nasional periode 2026–2031. Sejumlah karyanya membahas sejarah, pemikiran Islam, dan perkembangan pesantren, termasuk buku Sejarah Pesantren Persis: Pembentukan Tradisi, Adaptasi, dan Perubahan.
Dr. Tiar menekankan bahwa ilmu merupakan unsur utama dalam pembentukan peradaban. Ilmu dikembangkan, diajarkan, dan diwariskan melalui lembaga pendidikan.
![]() |
| Dr. Tiar Anwar Bachtiar mengingatkan guru agar tak berhenti belajar |
Karena itu, kualitas sebuah lembaga tidak semestinya hanya diukur dari banyaknya murid, kemegahan bangunan, atau kelengkapan fasilitas, tetapi juga dari kualitas ilmu yang tumbuh di dalamnya.
Guru menempati posisi sentral dalam proses tersebut. Sebuah lembaga pendidikan dapat dikenal dan memberikan pengaruh luas karena memiliki guru yang mendalam ilmunya serta mampu mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Tradisi keilmuan Islam menunjukkan bahwa para ulama terus dikenang bukan semata-mata karena banyaknya murid, melainkan karena ilmu dan pemikiran yang mereka tinggalkan.
Tokoh-tokoh seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Hanifah, dan Imam Bukhari menjadi contoh bagaimana ketekunan dan kedalaman ilmu dapat memberikan pengaruh lintas generasi. Warisan mereka terus dipelajari dan menginspirasi umat Islam hingga sekarang.
Dr. Tiar juga mengingatkan bahwa banyaknya guru dan murid tidak otomatis menjamin kuatnya tradisi keilmuan. Pendidikan perlu diarahkan untuk melahirkan orang-orang yang mampu menjaga, mengembangkan, dan mengamalkan ilmu.
Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada proses belajar di ruang kelas, tetapi terlihat dari kualitas keilmuan dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
Dalam konteks pengelolaan lembaga pendidikan, beliau mengkritik kecenderungan menjadikan jumlah peserta didik, besarnya pemasukan, dan fasilitas sebagai ukuran utama keberhasilan.
Menurut beliau, orientasi semacam itu berisiko menggeser perhatian dari tujuan mendasar pendidikan, yakni membina manusia dan mengembangkan ilmu. Pendidikan beralih jadi ladang bisnis.
Beliau juga menyoroti pentingnya pengembangan kapasitas para pengajar. Setiap guru perlu terus belajar, memperdalam bidang keahliannya, dan meningkatkan kemampuan agar tidak berhenti pada materi yang sama sepanjang masa pengabdiannya.
Pengembangan diri tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan tradisi keilmuan sekaligus menyiapkan generasi penerus.
Peradaban membutuhkan manusia yang berilmu, guru yang terus mengembangkan kapasitas, serta lembaga pendidikan yang menempatkan ilmu sebagai orientasi utama. Setiap pengajar memiliki tanggung jawab untuk menambah pengetahuan dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Segenap SDM PPTQ Qoryatul Qur’an diajak untuk memandang pengembangan ilmu sebagai tanggung jawab bersama. Guru adalah pembelajar sepanjang hayat yang berperan menjaga kesinambungan ilmu dan menyiapkan generasi yang mampu memberikan manfaat bagi umat.

Posting Komentar untuk "Dr. Tiar Anwar Bachtiar: Pendidikan Islam Dibangun di Atas Ilmu dan Guru yang Terus Belajar"