Allah mengingatkan tentang kebiasaan buruk sebagian orang-orang Yahudi, yang bisa saja menjangkiti kaum muslimin. Kebiasaan buruk yang berkebalikan dengan bagaimana seharusnya manjadi muslim.
وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِّنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka bersegera dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Ma'idah: 62)
Allah menyebutkan beberapa kebiasaan buruk itu, yakni bersegera dalam dosa, permusuhan, dan memakan harta yang haram. Kata يُسَارِعُونَ (yusaari‘uuna) berarti bersegera atau berlomba-lomba. Persoalannya bukan hanya melakukan dosa, tetapi sampai memiliki semangat untuk saling mendahului dalam keburukan.
الْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ
“Dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam dadamu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Ahmad dan Ad-Darimi)
![]() |
| Ustaz Abdu Rohman mengingatkan kebiasaan buruk Yahudi |
Dosa terkadang menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganjal dalam hati. Ketika seseorang hendak melakukan suatu perbuatan, ada perasaan bahwa sesuatu tersebut tidak benar. Hal ini menjadi salah satu tanda untuk berhati-hati dan melakukan introspeksi.
Namun, ukuran halal dan haram tetap harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, bukan hanya kepada perasaan. Hadis itu kita tempatkan sebagai pengingat tentang rasa berdosa yang harusnya muncul di hati saat melakukan.
Kalau Yahudi terbiasa berlomba dalam keburukan dan dosa, maka berbeda halnya dengan kebiasaan kaum muslimin. Seorang muslim justru diperintahkan untuk berlomba dalam kebaikan.
فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148)
Ketika melihat orang lain rajin membaca Al-Qur'an, hendaknya muncul dorongan untuk ikut membaca. Ketika melihat orang lain bersedekah, kita termotivasi untuk bersedekah. Ketika melihat orang lain rajin datang ke masjid, kita terdorong untuk datang lebih awal. Persaingan yang benar adalah persaingan dalam amal saleh.
Kebiasaan buruk kedua adalah al-'udwaan, yaitu permusuhan dan tindakan melampaui batas terhadap orang lain. Permusuhan dapat bermula dari perbedaan, kemudian berkembang menjadi saling mencaci, menghasut, iri, dengki, mencari kesalahan, bahkan saling memata-matai.
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pilihan dalam pemilihan pemimpin juga dapat menjadi ujian. Perbedaan pilihan tidak seharusnya membuat hubungan antartetangga, saudara, dan keluarga yang sebelumnya harmonis menjadi retak.
Maka, tidak seharusnya seseorang lebih mempertahankan pilihan terhadap calon tertentu daripada mempertahankan persaudaraan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Tetangga dan keluarga adalah orang-orang yang akan tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari. Ketika ada hajatan, mereka membantu. Ketika ada musibah, mereka datang. Jangan sampai pilihan yang sifatnya duniawi, merusak hubungan yang berdampak pada kehidupan akhirat.
Kebiasaan berikutnya adalah أَكْلِهِمُ السُّحْتَ (aklihimus-sukht), yaitu memakan atau memperoleh harta yang haram. Dalam konteks pemilihan kepala daerah, hal ini dapat berkaitan dengan praktik suap-menyuap atau pemberian yang digunakan untuk memengaruhi pilihan melalui cara yang tidak dibenarkan.
Seorang Muslim harus berhati-hati terhadap harta yang diterima maupun diberikan, karena bukan hanya jumlahnya yang perlu diperhatikan, tetapi juga sumber dan cara memperolehnya.
Dari seluruh pembahasan tersebut, ada beberapa hal penting yang perlu menjadi bahan introspeksi. Jangan sampai perbedaan pilihan membuat seseorang terjatuh dalam dosa, permusuhan, kedengkian, adu domba, atau praktik harta yang haram.
Pilihan terhadap pemimpin adalah persoalan duniawi, sedangkan menjaga akhlak, persaudaraan, dan ketaatan kepada Allah merupakan persoalan yang berkaitan dengan kehidupan akhirat.
Karena itu, ketika melihat orang lain melakukan kebaikan, jangan kalah dalam kebaikan. Berlombalah dalam membaca Al-Qur'an, sedekah, salat berjamaah, membantu sesama, dan amal saleh lainnya.
Sebaliknya, jangan pernah berlomba dalam keburukan. Perbedaan tidak boleh menghilangkan persaudaraan, dan pilihan duniawi tidak boleh mengorbankan keselamatan ukhrawi.
Resume kajian Ahad Pagi di Masjid Widad El Fayez, Komplek Asemlegi, Gabeng, pada 27 September 2026, disampaikan oleh Ustaz Abdu Rohman.

Posting Komentar untuk "Ustaz Abdu Rohman: Hati-Hati dengan Kebiasaan Orang-Orang Yahudi"