Sebelum memulai aktivitas hari ketiga GRACE Camp 2026, seluruh peserta mengikuti Majelis Pembinaan Tarbawi yang disampaikan oleh Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I., di Bumi Perkemahan Qoryatul Qur’an Alasombo.
Tepatnya pada Sabtu, 26 September 2026, sekira pukul 07.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 133 mahasantri putri dari lima Ma’had Aly, yaitu Baitul Qur’an, Kharisma Haromain, Qoryatul Qur’an, Daarur Rahmah Wal Hikmah, dan Lembah Qur’an Al-Amin.
Dalam pembinaan pagi ini, Ustaz Setyadi mengajak para peserta memahami berbagai tantangan yang dihadapi generasi muslimah pada masa kini. Menurut beliau, tantangan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari, melainkan harus dihadapi dengan kesiapan ilmu, iman, dan kesadaran terhadap kondisi umat.
Beliau menjelaskan bahwa muslimah perlu memiliki kewaspadaan terhadap berbagai bentuk pengaruh yang dapat menjauhkan dirinya dari ajaran Islam. Banyak generasi Islam yang tidak menyadari adanya tantangan ini.
Dengan mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an dan atsar para sahabat, beliau menegaskan bahwa upaya menjauhkan umat Islam dari agamanya tidak selalu dilakukan secara terang-terangan, tetapi sering hadir melalui cara-cara yang tampak biasa dalam kehidupan sehari-hari.
“Banyak orang tidak merasa sedang diperangi atau dirusak. Padahal, pengaruh itu bisa masuk melalui pemikiran, gaya hidup, kebiasaan, maupun berbagai hal yang perlahan menjauhkan seseorang dari agamanya,” jelas beliau mengingatkan.
Ustaz Setyadi juga mengingatkan pentingnya memahami makna ribath, yaitu sikap berjaga-jaga dan waspada terhadap berbagai ancaman yang dapat merusak akidah dan karakter seorang muslim. Seorang muslim tidak boleh lengah karena tantangan yang dihadapi generasi saat ini sering kali datang dalam bentuk yang tidak disadari.
Selain itu, beliau mengkritisi pandangan masyarakat yang kerap mengukur kesuksesan hanya dari harta, jabatan, ketenaran, dan kemewahan dunia. Beliau menegaskan bahwa ukuran kesuksesan dalam Islam tidak semata-mata ditentukan oleh capaian materi, tetapi oleh kualitas iman, ketakwaan, dan kedekatan seseorang kepada Allah Swt.
Beliau mencontohkan para sahabat Nabi yang hidup sederhana namun memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Karena itu, para mahasantri diharapkan tidak terjebak pada standar kesuksesan yang dibangun oleh budaya populer dan media sosial.
Ustaz Setyadi mengingatkan bahaya budaya instan yang berkembang di kalangan generasi muda. Banyak anak muda ingin meraih keberhasilan tanpa proses, kerja keras, dan perjuangan yang memadai. Padahal, kesuksesan sejati memerlukan kesungguhan, kesabaran, serta komitmen dalam menuntut ilmu dan memperbaiki diri.
![]() |
| Ustaz Setyadi ingatkan bahaya serangan pemikiran pada generasi muda Islam |
Beliau turut mengajak para peserta untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Berbagai konten, hiburan, maupun tren yang beredar perlu disaring dengan nilai-nilai Islam agar tidak memengaruhi cara berpikir dan orientasi hidup seorang muslimah.
“Pertarungan terbesar hari ini bukan hanya pada fisik, tetapi lebih pada pemikiran. Karena itu, ilmu dan keimanan harus menjadi benteng agar kita tetap istikamah di jalan Allah,” tegas beliau.
Melalui Majelis Pembinaan Tarbawi ini, para peserta diajak untuk memperkuat kesadaran keislaman, menjaga identitas sebagai muslimah, serta menyiapkan diri menjadi generasi yang kokoh dalam akidah, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman dengan panduan Al-Qur’an dan sunah.

Posting Komentar untuk "Majelis Pembinaan Tarbawi GRACE Camp 2026, Ustaz Setyadi Tekankan Pentingnya Waspada terhadap Tantangan Generasi Muslim"