Istikamah salat berjamaah adalah amalan yang mulia. Namun lebih mulia lagi jika seseorang juga istikamah menghadiri majelis ilmu. Sebab dengan ilmu, ibadah menjadi benar, amal menjadi terarah, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh diri sendiri maupun orang lain.
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
“Keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Seorang ahli ibadah mungkin hanya memperbaiki dirinya, sedangkan orang berilmu dapat membimbing banyak orang kepada kebenaran, mengajarkan cara beribadah yang benar, meluruskan kesalahan, dan menjaga agama dari penyimpangan.
![]() |
| Ustaz Ngatemin ajak teladani Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar |
Karena itulah perumpamaannya seperti bulan purnama yang cahayanya terang dan menerangi sekelilingnya, sedangkan bintang-bintang cahayanya lebih kecil dan manfaatnya lebih terbatas. Jadi, ilmu yang disertai amal memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam.
Berjuang melangkahkan kaki untuk hadir di majelis taklim tentu membutuhkan kesungguhan, tetapi hal itu tidaklah sebanding dengan beratnya perjuangan Rasulullah Saw., dalam mendakwahkan Islam. Bersemangat menghadiri majelis ilmu sebagai bentuk syukur atas kemudahan yang Allah berikan kepada kita.
Rasulullah Saw., sebagai manusia pilihan Allah yang mengemban amanah menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia. Tugas ini bukanlah tugas yang ringan, karena mereka harus menghadapi berbagai tantangan, penolakan, hinaan, bahkan ancaman dari kaumnya.
Allah memerintahkan hijrah kepada kaum muslimin ketika mereka tidak dapat menjalankan agama dengan bebas dan aman. Melalui hijrah, Allah menyelamatkan kaum mukmin dari tekanan dan gangguan orang-orang kafir serta membuka jalan bagi tegaknya Islam.
Hijrah adalah bentuk ketaatan kepada perintah Allah dan pengorbanan demi menjaga keimanan. Rela meninggalkan kenyamanan, harta, bahkan kampung halamannya untuk mempertahankan iman dan mendekatkan diri kepada Allah. Hijrah mengajarkan bahwa iman harus lebih diutamakan daripada kepentingan duniawi.
Perjalanan hijrah bukanlah perjalanan yang mudah. Kaum muslimin harus menempuh medan yang berat, meninggalkan kampung halaman dan harta benda, serta menghadapi ancaman kejaran musuh yang ingin menggagalkan hijrah mereka.
Segala pengorbanan dalam hijrah dilakukan karena keimanan kepada Allah, bukan karena mencari keuntungan dunia, kedudukan, atau tujuan lainnya. Semangat inilah yang juga terdapat dalam hijrah para sahabat demi menjaga agama dan meraih rida Allah.
Kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah disambut dengan penuh kehangatan oleh kaum Anshar di Madinah. Mereka menerima saudara-saudaranya dengan senang hati, memberikan tempat tinggal, menghibur di saat sulit, serta membantu meringankan beban kehidupan para Muhajirin.
Inilah sikap mulia yang menjadi teladan tentang persaudaraan Islam yang dibangun di atas keimanan, kasih sayang, dan semangat saling menolong dalam kebaikan.
Penyambutan kaum Anshar kepada kaum Muhajirin juga bukan perkara yang mudah. Mereka menerima orang-orang yang bukan keluarga dan berasal dari daerah lain dengan penuh kehangatan, bahkan rela berbagi tempat tinggal, harta, dan berbagai kebutuhan hidup.
Semua pengorbanan dan kebaikan yang dilakukan kaum Anshar lahir dari keimanan serta kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, persaudaraan yang terjalin antara kaum Muhajirin dan Anshar menjadi sangat kuat, bahkan melebihi ikatan kepentingan duniawi, meskipun mereka tidak memiliki hubungan darah maupun kekerabatan.
Dari peristiwa hijrah, kita dapat mengambil keteladanan dari kedua belah pihak. Kaum Muhajirin memberikan teladan tentang pengorbanan dan ketaatan kepada Allah dengan rela meninggalkan kampung halaman demi menjaga agama.
Sementara itu, kaum Anshar memberikan teladan tentang kepedulian, kemurahan hati, dan persaudaraan dengan menyambut serta membantu saudara-saudaranya yang berhijrah. Apakah kita bisa mencontoh sikap baik ini di zaman sekarang?
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Seorang muslim hendaknya menginginkan kebaikan, kebahagiaan, dan keberhasilan bagi saudaranya sebagaimana ia menginginkannya untuk dirinya sendiri. Sikap inilah yang tampak pada kaum Anshar ketika menyambut kaum Muhajirin dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan.
الصَّائِمُونَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ
“Semoga orang-orang yang berpuasa berbuka di tempat kalian, orang-orang saleh memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian.” (HR. Abu Dawud)
Orang yang mengambil ibrah dan pelajaran dari peristiwa hijrah dengan meneladani keikhlasan kaum Muhajirin dan kepedulian kaum Anshar, ia berhak berharap mendapatkan rahmat, ampunan, dan keberkahan dari Allah Swt.
Pengajian Ahad Pagi, 28 Juni 2026 di Masjid Widad El Fayez bersama Ustaz Drs. H. Ngatemin, MA.

Posting Komentar untuk "Ustaz Ngatemin: Keteladanan Perjalanan Kaum Muhajirin dan Penyambutan Kaum Anshar"