Bahkan, keberkahan ilmu, kelapangan rezeki, serta baik dan buruknya akhir kehidupan seseorang, kerap dikaitkan dengan sejauh mana ia memuliakan atau meremehkan gurunya.
![]() |
| Ilustrasi meremehkan guru |
Merendahkan atau meremehkan bukan sekadar mencaci-maki atau membantah. Cukup memalingkan muka atau menunjukkan ekspresi tidak senang sudah cukup disebut meremehkan atau merendahkan.
Akibat Murid Meremehkan Guru
Berikut ini hal-hal yang dapat menimpa seorang murid ketika ia meremehkan atau merendahkan gurunya menurut pandangan para ulama salaf:
1. Diberi Tiga Cobaan Hidup Akibat Meremehkan Guru
Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi (wafat 1310 H) dalam kitabnya menjelaskan bahwa sikap meremehkan guru bukanlah perkara sepele. Beliau menegaskan bahwa Allah Swt., akan menimpakan ujian berat kepada orang yang merendahkan gurunya.
Setidaknya ujian berat itu akan datang berupa dengan tiga cobaan besar berupa lenyapnya hafalan Al-Qur'an, kelemahan pada lisan, serta kemiskinan di penghujung hidupnya.
مَنْ اسْتَخَفَّ بِأُسْتَاذِهِ، ابْتَلَاهُ اللَّهُ تَعَالَى بِثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: نَسِيَ مَا حَفِظَ، وَكَلَّ لِسَانُهُ، وَافْتَقَرَ فِي آخِرِهِ
“Barang siapa meremehkan gurunya, maka Allah Ta’ala akan mengujinya dengan tiga perkara: lupa terhadap apa yang telah ia hafal, lisannya menjadi kelu (tidak lancar berbicara), dan jatuh dalam kemiskinan (sempitnya rezeki) di akhir hidupnya.” (Kifayah Al-Atqiya Wa Minhaj Al-Ashfiya [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah), h. 305)
Seluruh keadaan itu merupakan buah dari rusaknya adab seorang murid terhadap sumber ilmu yang ia terima.
2. Durhaka kepada Guru: Dosa yang Sangat Berat
Beratnya dampak durhaka kepada guru kembali ditegaskan oleh Imam Ibn Mulaqqin (wafat 804 H). Beliau mengutip sebuah pernyataan yang sangat menggugah, bahwa sikap durhaka kepada kedua orang tua masih dapat dihapus dengan cara melakukan tobat, sementara itu durhaka kepada guru tidak dapat dihapus oleh apa pun.
عُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ تَمْحُوهُ التَّوْبَةُ، وَعُقُوقُ الْأُسْتَاذَيْنِ لَا يَمْحُوهُ شَيْءٌ أَلْبَتَّةً
“Durhaka kepada kedua orang tua dapat dihapus dengan tobat, sedangkan durhaka kepada para guru tidak dapat dihapus oleh apa pun sama sekali.” (Thabaqat Al-Auliya [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], h. 171)
Ungkapan ini menunjukkan betapa luhur dan agungnya kedudukan guru dalam ajaran Islam.
3. Tidak Mendapatkan Rida Guru adalah Bahaya Terbesar Seorang Murid
Peringatan yang lebih jauh disampaikan oleh Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad (wafat 1132 H) dalam salah satu karyanya. Beliau menegaskan bahwa bahaya terbesar yang dapat menimpa seorang murid adalah berubahnya hati guru terhadap dirinya.
Bahkan, seandainya para masyayikh dari Timur hingga Barat bersatu sekalipun untuk memperbaiki keadaan murid tersebut, mereka tidak akan mampu melakukannya selama gurunya belum kembali rida kepadanya.
وَأَضَرُّ شَيْ عَلَى الْمُرِيدِ تَغَيَّرُ قَلْبِ الشَّيْخِ عَلَيْهِ وَلَوْ اجْتَمَعَ عَلَى إِصْلَاحِهِ بَعْدَ ذَلِكَ مَشايخ المَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لَمْ يَسْتَطِيعُوهُ إِلَّا أَنْ يَرْضَى عَنْهُ شَيْخَهُ
“Hal yang paling berbahaya bagi seorang murid adalah berubahnya hati sang guru terhadap dirinya. Bahkan seandainya para masyayikh dari Timur dan Barat bersatu untuk memperbaikinya setelah itu, mereka tidak akan mampu melakukannya, kecuali apabila gurunya kembali ridha kepadanya.” (Risalah Adab Suluk Al-Murid [Beirut: Dar Al-Hawi], h. 54)
Hal ini menunjukkan bahwa rida seorang guru memiliki pengaruh yang sangat besar. Ketika seorang guru memberikan rida, niscaya doa dan bimbingannya menjadi sebab terbukanya berbagai pintu kebaikan. Sebaliknya, bilamana hati guru telah berpaling, maka jalan menuju kebaikan tersebut pun menjadi tertutup.
Semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "[Renungan] Akibat Murid Meremehkan Guru Menurut Ulama"