Sabtu, 17 Januari 2026, seusai mengajar santri dan asatizah PPTQ Qoryatul Qur'an, Syekh Muzhaffar Annawati mendapat kesempatan untuk berkunjung dan bersilaturahmi ke tiga ma'had yang ada di Kabupaten Sukoharjo. Di antara ma'had yang dikunjungi adalah Ma'had Kharisma Haramain, Fursan Al Birru, dan Baitul Hikmah.
Tepat pukul 17.30 WIB, Syekh Muzhaffar bersama Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur'an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I. sekeluarga, Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H., Abi Jaiman Abdullah, dan Babe Karlan berangkat menuju ma'had-ma'had yang akan dikunjungi.
Ma'had yang pertama dikunjungi adalah Ma'had Kharisma Haramain. Setibanya rombongan di lokasi tersebut, mahasantriwati dan ustazaat Ma'had Kharisma Haramain menyambut dengan penuh antusias dan kebahagiaan.
![]() |
| Syekhah berfoto bersama di Ma'had Kharisma Haramain |
Syekh Muzhaffar Annawati diajak berkeliling melihat kompleks Ma'had Kharisma Haramain. Sementara itu, Syekhah Ummu Isma'il bermajelis dengan mahasantriwati dan ustazaat Ma'had Kharisma Haramain.
Sambil menunggu majelis bersama Syekhah selesai, Syekh Muzhaffar Annawati diajak ke Ma'had Fursan Al Birru yang lokasinya tidak jauh dari Ma'had Kharisma Haramain.
Kedatangan Syekh dan rombongan disambut hangat oleh para santri dan asatizah Ma'had Fursan Al Birru. Karena kedatangan rombongan bertepatan waktu Magrib, akhirnya Syekh diminta untuk menjadi imam salat.
Setelah Salat Magrib berjemaah, kemudian Syekh Muzhaffar menyampaikan beberapa nasihat dan motivasi untuk santri dan asatizah Ma'had Fursan Al Birru.
![]() |
| Syekh bersama santri Ma'had Fursan Al Birru |
"Sebelumnya saya tidak pernah berbicara tentang kuda secara detail, tapi karena ma'had ini adalah ma'had yang di dalamnya fokus diajarkan furusiyah, maka saya akan berbicara tentang kuda secara detail dan terperinci," Syekh membuka pembicaraan.
Menurut penjelasan Syekh, di antara fadilah kuda adalah Allah menjadikan nama kuda sebagai sumpah. Disebutkan di dalam Al-Qur'an bahwa Allah bersumpah dengan nama kuda sebanyak tiga kali. "Maka beruntunglah kalian yang mendapat kesempatan untuk belajar menjaga fadilah ini," kata Syekh Muzhaffar.
Kemudian beliau melemparkan satu pertanyaan, "Siapa yang tahu satu sifat yang hanya dimiliki oleh kuda dan tidak dimiliki oleh binatang yang lainnya?" Karena tidak ada yang bisa menjawab, akhirnya pertanyaan tersebut dijawab oleh beliau sendiri.
"Jawabannya adalah sifat kesetiaan. Karena kuda adalah hewan yang paling setia, berbeda dengan hewan-hewan yang lainnya yang tidak memiliki kesetiaan dan suka gonta-ganti pasangan."
Di akhir majelis, beliau menyampaikan bahwa setelah ini beliau akan pergi meninggalkan Indonesia untuk beberapa waktu karena ada urusan. Beliau berdoa semoga dari ma'had ini akan lahir kesatria-kesatria yang akan berjuang membebaskan Baitul Maqdis.
Kemudian setelah majelis selesai, Syekh Muzhaffar Annawati pamit dan kembali ke Ma'had Kharisma Haramain untuk menjemput Syekhah Ummu Isma'il yang sedang bermajelis juga di sana.
Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju Ma'had Baitul Hikmah. Sebelum sampai lokasi, rombongan berhenti terlebih dahulu di Masjid Assalam di Sukoharjo untuk menunaikan Salat Isya. Di sana Syekh Muzhaffar diminta untuk menjadi imam salat dan memberikan motivasi dan nasihat kepada para jemaah.
![]() |
| Bersama jemaah Masjid Assalam |
Syekh Muzhaffar Annawati mengawali penyampaian dengan memperkenalkan diri kepada para jemaah bahwa beliau berasal dari Gaza, Palestina, dan sudah lama tinggal di Indonesia.
Syekh menyatakan bahwa setelah tinggal lama di Indonesia, beliau sangat cinta dengan Indonesia. Apalagi hubungan Indonesia dengan Palestina sangat erat sejak dulu, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka.
Hubungan kedekatan tersebut ditunjukkan dengan banyaknya rumah sakit Indonesia yang ada di Palestina. Tidak hanya rumah sakit, tetapi banyak sekolah-sekolah juga.
"Ketika perang terjadi di Palestina, masyarakat yang paling peduli adalah masyarakat Indonesia. Terlebih hubungan ini akan lebih erat karena banyaknya pernikahan antara Indonesia dan Palestina," kata Syekh Muzhaffar Annawati.
Beliau melanjutkan, "Seperti yang tidak asing lagi, Abdullah Onim dan Husain Gaza. Mereka menikah dengan wanita Palestina dan lahirlah anak kombinasi Indonesia dan Palestina."
Kedekatan hubungan antara Indonesia dengan Palestina yang menyatukan adalah Allah Ta'ala, dah Syekh berharap, semoga hubungan ini terus tersambung dan tidak pernah terputus.
Di akhir majelis, beliau menyampaikan bahwa setelah ini beliau akan pergi meninggalkan Indonesia untuk beberapa waktu karena ada urusan. Dan beliau berjanji bahwa akan kembali lagi ke Indonesia karena sangat cinta dengan Indonesia.
Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju Ma'had Baitul Hikmah. Sesampainya di lokasi, rombongan disambut hangat oleh santri dan asatizah Ma'had Baitul Hikmah.
![]() |
| Di Ma'had Baitul Hikmah Sukoharjo |
Kemudian digelar majelis bersama Syekh Muzhaffar Annawati dan asatizah yang lainnya, diikuti oleh santri MTs dan mahasantri Ma'had Aly Baitul Hikmah.
Di antara nasihat dan motivasi yang Syekh sampaikan di majelis tersebut adalah bahwa banyak orang merasa menghafal Al-Qur’an adalah gunung yang tinggi dan berat untuk didaki.
Namun, benarkah demikian? Ternyata, kemudahan Al-Qur’an bukanlah hadiah gratis, melainkan buah dari sebuah sikap mental yang disebut mujahadah (sungguh-sungguh).
Al-Qur’an akan terasa mudah bagi mereka yang meniru jejak Nabi Yahya As. Sebagaimana perintah Allah kepada beliau untuk "mengambil kitab dengan sungguh-sungguh," maka mereka yang menempuh jalan perjuangan (mujahadah) akan dianugerahi hikmah dan kebijaksanaan sejak usia muda.
Sebaliknya, jika sejak awal kita sudah melabeli Al-Qur’an itu "susah" atau "berat," maka pikiran tersebut akan menjadi kenyataan. Hasil yang kita petik sangat bergantung pada niat dan prasangka kita di garis start.
Teori tentang kemudahan Al-Qur’an ini bukanlah isapan jempol. Hal ini dibuktikan oleh Muhammad (usia 28 tahun), putra dari Syekh Muzhaffar Annawati, yang menunjukkan dedikasi luar biasa.
Dalam ujian terakhirnya (Khataman Kubra), ia berhasil mengkhatamkan 30 juz dalam satu hari. Dimulai setelah Subuh dan selesai menjelang Magrib, ia melantunkan ayat demi ayat tanpa henti, kecuali untuk menunaikan salat Zuhur dan Asar. Ini adalah bukti nyata bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan kesungguhan hamba-Nya.
Kemudian Syekh berbicara tentang bahasa Arab, karena di Ma'had Baitul Hikmah sendiri menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari. Sering muncul pertanyaan kritis: "Allah bukan orang Arab, dan semua bahasa adalah ciptaan-Nya. Lalu mengapa Al-Qur’an harus berbahasa Arab?"
Setidaknya ada dua alasan fundamental. Pertama, kesesuaian dengan latar belakang rasul. Setiap kitab suci diturunkan sesuai dengan bahasa kaum rasul tersebut agar pesan-Nya dapat tersampaikan dengan jelas. Karena Nabi Muhammad Saw. berasal dari kaum Arab, maka Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab.
Kedua, sebagai mukjizat penakluk sastra. Pada zaman jahiliah, sastra dan syair adalah puncak kebanggaan bangsa Arab. Ada pasar khusus untuk lomba keindahan syair. Al-Qur’an turun dengan keindahan susunan kalimat dan kedalaman makna yang melampaui segala syair manusia, menantang siapa pun untuk menandinginya.
Selain mukjizat Al-Qur’an, kita sering lupa bahwa segala kemudahan hidup, termasuk kendaraan dan teknologi yang kita gunakan saat ini, adalah ciptaan Allah yang sering kali luput dari kesadaran kita. Allah menciptakan hal-hal yang tidak diketahui manusia pada zaman dahulu sebagai perhiasan dan penunjang hidup.
Di akhir majelis, beliau menyampaikan bahwa setelah ini beliau akan pergi meninggalkan Indonesia untuk beberapa waktu karena ada urusan. Dan beliau berjanji akan datang lagi ke Indonesia karena kecintaan pada Indonesia.
Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H yang sejak tadi menjadi penerjemah Syekh, menyampaikan bahwa ma'had-ma'had yang dikunjungi adalah ma'had yang memiliki kesamaan dengan Ma'had Qoryatul Qur'an dan Baitul Qur'an yang Syaikh mengajar di dalamnya. Bahkan tidak sedikit asatizah Qoryatul Qur'an juga mengajar di ma'had-ma'had tersebut.
Reporter: Ustaz Salman Al Hawari




Posting Komentar untuk "Syekh Muzhaffar Annawati Kunjungi Ma'had Kharisma Haromain, Fursan Al Birru, dan Baitul Hikmah"