Senin, 19 Januari 2026. Pagi yang cerah, segenap SDM PPTQ Qoryatul Qur'an mengikuti Daurah Ilmiah Syar'iyah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr di Masjid Widad El Fayez Asemlegi, Gabeng.
Syekh Dr. Muhammad Said Bakr adalah seorang ulama asal Palestina yang kini bermukim di Yordania. Kunjungan ke PPTQ Qoryatul Qur'an ini adalah kali kedua bagi beliau.
Majelis dibuka oleh Ustaz Faris Ahmad, Lc., M.Pd. selaku pemandu acara. Tilawah dibacakan oleh Ustaz Zakki Zayrofi, B.A. Sambutan dan laporan panitia daurah disampaikan oleh Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H.I.
![]() |
| Daurah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr tentang Shirah Nabawiyah |
Daurah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr diselenggarakan PPTQ Qoryatul Qur'an selama enam hari, dimulai hari ini, dengan jadwal sesi yang telah ditentukan, dengan audiens yang berbeda tiap sesinya.
Daurah hari pertama ini, selain diikuti segenap SDM, juga berkenan hadir mitra pesantren, yakni asatiz dari Baitul Hikmah, Darur Rahmah wal Hikmah, Tarbiyatul Ummah, Fursan Al Birru, dan Kharisma Haromain.
Ustaz Ihsan Saifuddin, S.Ag., dalam prolog menyampaikan tentang kepedulian kaum muslimin Indonesia atas apa yang terjadi di Palestina. Beliau mengajak hadirin menyerukan "Birruh Biddam Nafdika Ya Aqsa" yang berarti "Dengan nyawa, dengan darah kami akan membelamu wahai Al-Aqsa".
Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur'an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I. sebelum membuka resmi daurah ini, mengingatkan kembali visi besar pesantren untuk menyiapkan generasi terbaik yang akan membebaskan Baitul Maqdis.
Di antara ikhtiar pesantren untuk meraih cita-cita besar itu adalah dengan menghadirkan para ulama dari Palestina, menguatkan semangat untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Menurut beliau, kemenangan bukanlah direbut, tapi diberikan oleh Allah Swt., maka tugas kita adalah menyiapkan diri agar layak untuk diberikan kemenangan itu. Kita rida pada Allah dan Allah rida pada kita.
![]() |
| Pembukaan Daurah bersama Syekh Dr Muhammad Said Bakr |
Setelah daurah dibuka secara resmi dengan basmalah oleh Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur'an, waktu sepenuhnya kemudian dipersilakan kepada Syekh Dr. Muhammad Said Bakr. Penerjemah Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H.
Syekh mengawali dengan menyatakan kesyukuran atas semangat kepedulian keumatan dan pembebasan Baitul Maqdis yang muncul dari pesantren. Pembebasan Baitul Maqdis dimulai dari menjadikan diri pribadi yang kuat dan menyiapkan generasi yang kuat.
Syekh masih ingat apa yang dilakukan Qoryatul Qur'an selama ini dan kemana arah tujuannya. Maka, kehadiran beliau ke sini adalah untuk mengajarkan ilmu yang lebih mendalam terkait Shirah Nabawiyah dan kaedah dakwah yang muaranya pada keumatan dan Baitul Maqdis.
Shirah Nabawiyah sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang kehidupan Rasulullah dari lahir sampai wafat, lebih dari itu adalah kondisi sebelum kelahiran beliau, dan dampak besar apa yang beliau tinggalkan.
Untuk apa belajar Shirah Nabawiyah? Selain kewajiban agama, belajar tentang Shirah Nabawiyah menjadi penting karena akan berdampak bagi kehidupan kita sebagai seorang muslim.
Kita meniatkan mempelajari Shirah Nabawiyah karena Allah Swt., untuk meneladani Rasulullah Saw. Perlu kemampuan menganalisis setiap peristiwa dan bagaimana menghidupkan inspirasinya dalam konteks kekinian.
Kita pelajari Shirah Nabawiyah yang otentik, yang bersumber dari Al-Qur'an, dari hadis-hadis, dan buku-buku induk dari sejarah itu sendiri. Perlu tahu kesahihan dari sumber shirah tersebut.
Syekh Dr. Muhammad Said Bakr mengisahkan sekilas tentang kondisi masyarakat Arab sebelum kelahiran Nabi. Bahwa jarak wafatnya Nabi Isa As dengan kelahiran Rasulullah Muhammad Saw., sangat lama, sehingga masyarakat berada dalam kejahiliahan.
Nabi lahir sebagai anak yatim menjadi pelajaran bagi siapapun, bahwa orang hebat itu ditempa dengan kesulitan dan kerasnya hidup. Korelasinya dengan kita adalah, bahwa tidak mungkin kita menjadi kuat ketika tidak ada penempaan diri.
Pembelahan dada Nabi dua kali oleh malaikat adalah proses pembersihan dari nafsu negatif. Masa kecil Nabi menggembala kambing, yang mendidik tentang kasih sayang, pengelolaan, dan membentuk tanggung jawab.
![]() |
| Daurah diikuti segenap SDM PPTQ Qoryatul Qur'an dan pesantren mitra dakwah |
Masa kecil Nabi juga berdagang, di situlah Allah mengajari tentang kejujuran dan integritas di tengah pasar yang penuh tipu daya. Dari perdagangan juga, Nabi belajar bagaimana membina hubungan dengan negara lain.
Ketika Nabi masih kecil dan diajak berdagang Abi Thalib sang paman, bertemu dengan pendeta Buhaira yang mengetahui tanda kenabian. Pendeta itu memperingatkan bahaya jika bertemu kaum Yahudi, yang akan kecewa dengan kenabian yang tidak dari golongan mereka.
Integritas dalam berdagang juga memukau Khadijah binti Khuwalid sehingga akhirnya saudagar kaya itu menjadikannya suami. Khadijah menjadi pendukung setia beliau dalam mendakwahkan Islam di kemudian hari.
Nabi dalam berdakwah tidak mudah. Dukungan istri dan paman luar biasa. Namun, itu fana, keduanya wafat. Nabi mengalami masa kesedihan. Saat itulah Allah hibur beliau dengan perjalanan pada suatu malam yang kita kenal dengan peristiwa Isra Mikraj, menjemput perintah salat lima waktu.
Tantangan dakwah Nabi di antaranya adalah kuatnya tradisi keluarga, penyembahan berhala, strata sosial dalam masyarakat, tekanan politik, aspek ekonomi, dan permusuhan antar kabilah, yang menjadi masalah kompleks di bangsa Arab.
Dakwah dimulai dengan cara sembunyi-sembunyi. Beragamnya kelas sosial yang menjadi pengikut Nabi menjadi titik simpul penyebaran ajaran Nabi. Entah itu dari kalangan hamba sahaya, pengusaha, pimpinan kabilah, dan lainnya.
Sampai akhirnya Allah Swt. memerintahkan dakwah secara terang-terangan yang penuh tantangan dan risiko besar. Dari sinilah dimulai fase dikenalnya Islam secara luas, meski banyak korban berjatuhan karena siksaan dari kaum kafir.
Risiko perjuangan harus dijalani dengan sabar. Pelajaran penting ini hendaklah kita jadikan acuan dalam berdakwah di sepanjang zaman, termasuk di zaman kita sekarang ini. Bahkan, Nabi pun terusir sehingga harus berhijrah ke Madinah.
Majelis bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr dijeda sejenak ketika masuk waktu Salat Zuhur. Setelah salat, barulah dilanjutkan dengan penerjemah diganti oleh Ustaz Faris Ahmad, Lc., M.Pd.
Awal berada di Madinah, Nabi membentuk masyarakat sosial dengan mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar. Kemudian menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan. Serta menguatkan aspek politik.
Dari sisi ekonomi, penguasaan pasar juga menjadi poin penting. Kemudian sisi keamanan menjadi perhatian penting juga. Di sinilah kemudian turun ayat terkait hukum pemerintahan.
![]() |
| Ustaz Faris menerjemahkan penjelasan Syekh |
Penyebaran Islam juga tak lepas dari peperangan, di antaranya adalah Perang Badar. Perang terjadi karena musyrikin selalu bersikap keras pada kaum muslimin. Rahasia kemenangan kaum muslim adalah berkat persatuan dan atas pertolongan Allah.
Pada Perang Uhud, banyak pelajaran didapat kaum muslimin yang nyaris menang tapi akhirnya kalah karena adanya perselisihan dan orientasi pada dunia. Diawali dengan melanggar perintah Nabi karena melihat harta rampasan perang.
Kekalahan kaum muslimin juga disebabkan musuh yang semakin solid dan punya strategi yang lebih baik. Apalagi musuh masih diperkuat oleh Khalid bin Walid yang saat itu masih kafir.
Di Madinah juga terjadi perselisihan dengan kaum Yahudi yang ada di sana. Bahkan kaum Yahudi berkolaborasi dengan kaum musyrikin dan kaum munafik untuk mengalahkan kaum muslimin.
Nabi dan para sahabat menggunakan berbagai taktik dan strategi perang untuk melawan musuh, di antaranya pembuatan parit di Perang Khandaq. Kemenangan kaum muslimin tidak lepas pula dari doa minta pertolongan Allah.
Akhirnya, semoga dengan mempelajari Shirah Nabawiyah ini, kita semua mampu menjadikan bahan pembelajaran untuk kehidupan sehari-hari kita dalam berislam maupun mendakwahkan di tengah masyarakat.




Posting Komentar untuk "Segenap SDM PPTQ Qoryatul Qur'an Ikuti Daurah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr: Pentingnya Belajar Shirah Nabawiyah"