Segenap SDM PPTQ Qoryatul Qur'an Ikuti Daurah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr tentang Kaidah dalam Dakwah

Seluruh SDM PPTQ Qoryatul Qur’an mengikuti kegiatan daurah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr, seorang ulama asal Palestina yang saat ini menetap di Yordania. Dilaksanakan pada Senin, 19 Januari 2026 jelang Asar. Bertempat di Masjid Widad El Fayez Asemlegi, Gabeng. Ini adalah sesi kedua.

Kali ini kembali bersama Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H. selaku penerjemah dari materi daurah yang disampaikan oleh Syekh Dr. Muhammad Said Bakr. Syekh menyampaikan tentang kewajiban berdakwah bagi kaum muslimin.

Seseorang berdakwah itu karena keterpanggilan. Maka ia melakukannya dengan keikhlasan karena Allah Swt. Dakwah adalah kewajiban dan keutamaan. Wajib bagi setiap muslim untuk berdakwah selama masih ada kemungkaran di dunia ini.

Dakwah adalah keutamaan. Ketika seseorang berdakwah maka ia akan mendapatkan pahala dari orang-orang yang melaksanakan apa yang didakwahkannya itu. Pahala yang terus mengalir meski pendakwah sudah meninggal dunia.

Kaidah Dakwah
Daurah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr tentang kaidah dalam dakwah

Pendakwah itu memadukan antara menakuti dan memotivasi, ada kalanya harus tegas dan kapan harus lembut. Bisa memahami kapan bernegosiasi dan kapan harus keras. Harus mampu memahami bagaimana orang yang didakwahi itu. Begitulah peran seorang pendakwah atau dai.

Seorang dai ibarat dokter, ketika ada pasien mengadukan penyakit maka ia menganjurkan obat tertentu. Ketika pasien mengeluhkan penyakit lainnya maka obat berbeda yang diberikan, termasuk dosisnya. Dai harus tahu bagaimana memberikan solusi permasalahan umat.

Seorang dai harus berkolaborasi dengan kelompok lain, membaur tapi tetap memegang prinsip. Tidak ada dakwah yang dilakukan sendirian. Dakwah butuh kerja sama yang baik dengan berbagai pihak.

Seorang dai harus bisa memandang skala prioritas mana yang utama. Hendaklah melakukan pendekatan yang logis dan perasaan. Harus pandai berinovasi tanpa melanggar garis syariah yang telah ditentukan.

Seorang dai hendaklah juga terus belajar. Sebaik-baik kita adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an, bukan belajar lalu mengajarkan. Jadi terus berproses, tetap belajar dan tetap mengajarkan.

Tugas dai sempurna dalam menyampaikan, terbaik dalam mendakwahkan. Untuk keberhasilan dakwah itu adalah urusan Allah Swt. Tidak meninggalkan dakwah hanya karena merasa gagal melakukannya.

Dakwah dilakukan untuk mencegah keburukan, meski belum bisa mengajak pada kebaikan. Dakwah harus berimbang antara kepada keluarga dengan masyarakat secara umumnya.

Seorang dai juga harus fokus membersihkan stigma negatif yang ada di tengah masyarakat, yang seringkali disengaja oleh musuh Islam, seperti anggapan bahwa Islam adalah teroris dan sebagainya.

Dai mengajak pada kebaikan, tidak melulu terbatas hanya di atas mimbar dakwah. Sebagai apa seseorang maka di situlah ia berperan dalam dakwah karena sudah menguasai kondisi dan situasi di dalamnya.

Misalnya seseorang yang memiliki usaha air minum kemasan, ketika ia menuliskan pada produknya tentang adab saat minum, maka itu akan lebih ada efeknya karena langsung dilihat konsumen saat mau minum. Ini adalah peran dakwah.

Dakwah memerlukan kesabaran berlebih, termasuk dalam setiap proses pengulangan. Seorang dai terus bersabar dalam dakwah, didengar dan tidak didengar maka tak akan berpengaruh pada keikhlasan.

Selaras tidaknya para dai antara yang diucapkan dengan perbuatan maka akan berpengaruh besar pada dakwahnya. Itulah pentingnya memberikan keteladanan pada diri seorang pendakwah.

Dengan memahami bagaimana kaidah dalam berdakwah, maka kita semua sebagai dai, hendaklah menerapkan metode itu agar mendukung suksesnya dakwah di tengah umat.

Posting Komentar untuk "Segenap SDM PPTQ Qoryatul Qur'an Ikuti Daurah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr tentang Kaidah dalam Dakwah"