Para Kesatria Sunyi

Oleh: Syifa’ Nur Aini
Mahasantri Ma’had Aly Qoryatul Qur’an angkatan 7, asal Polokarto, Sukoharjo

Menjadi kesatria sunyi itu berat, kala diragukan, kala dipertanyakan, kala ditinggalkan, bahkan juga dilawan oleh saudara sendiri. Mari membayangkan Sayyidina Ali, pada hari genting itu kala beliau melihat Al-Hasan dan Al-Husain pulang dari rumah Khalifah Utsman.

Ketika mendengar bahwa Dzun Nurain sendiri menyuruh para sahabat muda yang menjaganya pulang, beliau kian gelisah. Firasatnya benar, Sayyidina Utsman yang berpuasa hari itu telah memilih untuk membenarkan mimpinya berbuka bersama Nabi dan dua pendahulunya di surga.

Para kesatria sunyi
Para kesatria sunyi

Kekacauan dan pengepungan telah berjalan berpuluh hari, maka terbunuhnya Sang Khalifah dermawan secara zalim kian memuramkan suasana. Dalam masa pelik itu gelombang manusia mencari para sahabat utama untuk dibaiat.

Runyamnya keadaan membuat mereka semua mengelak. Dalam keadaan terdesak akhirnya Sayyidina Ali menerima baiat untuk menjadi khalifah keempat. Beliau tahu tugasnya akan amat berat.

Bayangkan beratnya menjadi Ali kala para insan utama memilih menunda janji setia padanya dengan alasan kaum muslimin belum sepakat. Merekalah Sa’ad, Ibnu Umar, Muhammad Ibnu Maslamah, Hasan Ibnu Tsabit. Padahal nama-nama agung ini amat diharap Ali berdiri menopangnya.

Bagaimana kalian mensyaratkan mufakat padahal muslimin berpencar dan kacau? Tapi mereka melihat fitnah, memilih menumpukkan pedang.

Bayangkan beratnya menjadi Ali saat cintanya pada Utsman diragukan hanya karena keadaan belum memungkinkan meng-qishash pembunuhnya. Bayangkan beratnya menjadi Ali ketika ibunda kaum muslimin bersama Thalhah dan Az-Zubair menanggalkan baiatnya dan berhimpun di Bashrah.

Mereka menyebut fakta bahwa sebagian besar orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman justru kini menjadi pendukung utama Ali. Itu soalnya. Jika para sahabat utama meninggalkan Sayyidina Ali, siapa yang akan menyokong beliau untuk bertindak atas para durjana?

Di sisi lain betapa kian rumit bagi Ali karena para sahabat utama mensyaratkan baru akan bergabung jika para durjana telah diadili.

Betapa berat bagi Sayyidina Ali, dua pilihannya tak mungkin diambil dan Sayyidina Mu’awiyah telah pula menggerakkan penduduk Syam. Inilah mereka yang Sayyidina Ali riwayatkan dari Sang Nabi keutamaannya; ahlu Syam kini ada di hadapan beliau untuk memeranginya.

Betapa berat jadi Sayyidina Ali ketika disebut tak berhukum dengan hukum Allah karena menerima perdamaian yang getir pula baginya. Betapa berat jadi Sayyidina Ali ketika dari pengikutnya menyempal para Qura’, kumpul di Harura dan mengafirkan pelaku dosa besar.

Kaum Khawarij ini salat dan puasa mereka telah disifatkan Rasulullah akan membuat para sahabat pun merasa kecil atas amal sendiri. Ketika mereka sampai tega membunuh beberapa sahabat dan tabi’in utama hanya karena mereka mendukung tahkim perdamaian, Ali bertindak.

Ketika Ali terpaksa memerangi mereka di Nahrawan, dari lisan mereka terus terlantun ayat Al-Qur’an dan seruan “Inil hukmu illa lillah.” Maka Ali dengan yakin atas petunjuk Rasul namun juga pilu melihat itu berkata, “Kalimatnya haq, tapi kebatilan yang menjadi kehendak.”

Dan kita nanti tahu, bocah pertama yang masuk Islam ini kelak juga kan terbunuh dalam Salat Subuh karena dendam. Sayyidina Ali Radhiyallahu ‘Anhu adalah kesatria sunyi, memikul panji kebenaran di tengah bingungnya umat dan bimbang para sahabat.

Kelak Sa’ad Ibnu Abi Waqqash bertutur betapa musykil zaman, hatinya bersama Ali tapi tak kuasa jika harus menghadapi sesama muslim. Kelak Ibnu Umar berbicara; betapa sesal sebab tak berada di sisi Sayyidina Ali kala Sang Khalifah sungguh amat memerlukan sokongannya.

Kelak Sayyidina Mu’awiyah kan menangis di depan Dhirar Ibnu Dhamrah, amat kagum akan kesalehan pribadi Ali dan keteguhan memimpinnya. Dan sejarah mengenang bagaimana beliau (Ali) menguburkan dua tercinta yang sempat menentangnya, Thalhah dan Az-Zubair berdampingan di satu lahat sambil menimang putra Thalhah.

Ali berbisik, “Nak, aku berharap aku dan ayahmu termasuk yang difirmankan Allah dalam QS. Al-Hijr: 47: Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam dari dada mereka, sedang mereka bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” Semoga Allah susur dan susulkan kita di jalan mereka yang diridai-Nya. Terus berbekal untuk istikamah jadi kesatria walau sunyi meraja.

7 komentar untuk "Para Kesatria Sunyi"

  1. Membaca Sirah seperti ini ga ada bosannya, apalagi ditulis dengan bahasa yang enak dibaca. Literasi agama yang layak diapresiasi ini.

    BalasHapus
  2. Beban Sayyidina Ali belum berhenti sampai di sana, karena di akhir masa-masa hidupnya ia harus melihat umat mulai berpecah belah dengan dalih kebebasan berpikir di bawah naungan disiplin ilmu kalam yang darinya lahir khawarij, syiah, murjiah dan sekte-sekte turunannya. He's the real Ksatria Sunyi

    BalasHapus
  3. Aku baca ini jadi mellow. Karena merasa bersedih, berasa kurang bersyukur. Sosok ali ini contoh nyata. Yang butuh keluasan hati ketika dicela, dihina dan tidak disukai. Sedangkan aku, hemmmm. Masih banyak butuh support dan berkaca dari kisah ini.

    BalasHapus
  4. Ya Allah, merinding banget bacanya. Hati tersentuh, mata pun ikut berkaca. Membaca sejarah Islam memang mengingatkan kita sejauh mana manusia berubah dalam memaknai cinta dan pengorbanan.

    BalasHapus
  5. Ini kisah tentang masa² kericuhan di era sayyidina Ali. Dan akhirnya Ali terbunuh. Kisah memilukan tapi penuh ibroh

    BalasHapus
  6. Masya Allah..menilik kisah para sahabat, kisah Ali yang paling sedih. Di tengah kebimbangan dan kebingungan umat, Ali tetap berdiri meski akhirnya tetap difitnah dan terbunuh. Semoga Allah merahmati Ali.

    BalasHapus
  7. MEmbuatku langsung merenung dan berpikir keras. Banyak hikmah yang dapat dipetik. Kisah yang memilukan sekaligus mengharukan

    BalasHapus