Majelis Bersama PPTQ Qoryatul Qur’an dengan Ma’had Tahfizhul Qur’an As-Surkati Salatiga dan Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3) Magelang

PPTQ Qoryatul Qur’an menerima tamu dari Ma’had Tahfizhul Qur'an As-Surkati Salatiga dan Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3) Magelang pada Sabtu, 6 Desember 2025. Pertemuan dilaksanakan di ruang pertemuan lantai 2 Komplek 06 Asemlegi Gabeng.

Kedua lembaga pesantren ini telah tiba sejak pagi sekitar pukul 09.00 WIB dan berkeliling langsung melihat pola kepengasuhan yang diterapkan di PPTQ Qoryatul Qur’an. Selepas Salat Asar barulah digelar majelis bersama Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I., serta jajaran direktorat pesantren.

PM3 dan As-Surkati
Majelis bersama QQ dengan PM3 dan As-Surkati

Pertemuan dibuka oleh Kepala Kepengasuhan PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Edi Casedi, S.Pd.I., M.H.I., yang menyampaikan selayang pandang mengenai sistem kepengasuhan yang telah diterapkan di PPTQ Qoryatul Qur’an. 

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan inti oleh Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan analogi menarik bahwa mendidik itu ibarat memasak, di mana lulusan adalah hasil masakan.

Pendidik adalah tukang masak, pesantren adalah dapur, fasilitas adalah alat masak, dan kurikulum merupakan resepnya. Karena itu, sebelum memulai proses pendidikan, harus ditentukan terlebih dahulu mau masak apa, baru kemudian menyiapkan SDM pendidik, sarana, fasilitas, serta kurikulum yang sesuai.

Bisa diawali dengan menetapkan dulu standar kelulusan atau profil santri yang diharapkan bisa dibentuk. Dengan menentukan profilnya maka kita akan lebih mudah fokus mencari bahan pendukung agar bisa membentuk anak didik sesuai harapan.

Gambaran profil itu menjadi dasar awal bagi para pendidik agar tidak salah melangkah untuk mendidik santri. Ibarat mau masak soto, cukup menyiapkan bahan sesuai kebutuhan. Tak perlu menyiapkan tusuk satai, tak perlu menyiapkan sambal kacang, dan sebagainya.

Ustaz Setyadi
Ustaz Setyadi memaparkan hakikat pendidikan sebagai dakwah

Pendidikan hakikatnya adalah dakwah. Prosesnya mengubah perilaku, dari akhlak jahili menuju ke akhlak islami. Istilah kesantrian di PPTQ Qoryatul Qur’an diubah menjadi kepengasuhan karena fungsinya untuk mengarahkan akhlak anak didik.

Perilaku yang diubah mencakup tiga aspek utama: kognitif menggunakan akal, cerdas, berpikir, skill, dan tafakur; afektif menggunakan kalbu, merasa, tadabbur, sikap, dan attitude; serta psikomotorik dengan terampil dan berkarya. Ketiga aspek ini ditujukan untuk menghasilkan santri yang berilmu, beriman, dan beramal.

Mengubah perilaku ke arah kebaikan hendaklah dilakukan berulang kali, seperti seorang ibu yang tak pernah bosan mengingatkan anak untuk mandi, makan, dan salat. Selain pengulangan, juga harus disertai dengan keteladanan. Kita memang tidak sempurna, tapi jangan memperlihatkan keburukan di depan santri.

Ketika melihat santri berbuat kesalahan maka harus menegurnya. Teguran tanpa kebencian, seperti ibu pada anaknya. Cerewet dalam kebaikan. Ini adalah bentuk kepedulian, yang akan dirasakan oleh peserta didik kita.

Kompetensi yang disiapkan untuk santri mencakup pembentukan pribadi qaid (pemimpin) yang mukmin, muwahid, dan mujahid; membentuk mereka menjadi dai yang mubaligh, mualim, serta muslih; serta mengarahkan mereka menjadi murabbi yang muadib dan muhafizh.

Tamu QQ
Mendidik santri harus cerewet seperti ibu menegur anaknya

Seluruh kompetensi ini hanya dapat dicapai melalui kurikulum pendidikan yang secara terpadu menanamkan value (nilai dan akhlak), knowledge (pengetahuan yang benar), dan skill (keterampilan yang aplikatif) kepada santri.

Rahasia keberhasilan tarbiyah Rasulullah Saw adalah melakukan proses pembinaan mengembangkan konsep pendidikan yang integral, mencakup aspek ruhiyah (keimanan), fikriyah (intelektual), nafsiyah (mental), jasadiyah (fisik), ijtimaiyah (sosial), tarbiyah wathaniyah (kebangsaan), dan tarbiyah mihaniyah (skill).

Konsep itu dibingkai oleh manhaj dakwah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah, juga qudwah (keteladanan) yang langsung diperlihatkan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Di samping itu, hubungan yang dibangun Rasulullah sebagai murabbi dengan para mutarabbi sangat dinamis. Rasulullah berperan sebagai pemimpin, syekh, guru, dan sahabat. Tak sekadar transformasi pengetahuan.

Tujuan final pendidikan adalah menghadirkan generasi yang layak menerima kemenangan yang telah dijanjikan Allah, yaitu generasi yang diridai-Nya karena memiliki keimanan yang kokoh, akhlak yang lurus, serta kemampuan untuk berjuang dan memberi manfaat bagi umat.

Ustaz Setyadi mengutip kalimat abadi dari Imam Malik, ulama besar abad 2 H: “Generasi ini tidak akan pernah bisa baik kecuali dengan cara yang pernah dipakai untuk memperbaiki generasi awal.”

Akhirnya, melalui majelis bersama ini, diharapkan menjadi inspirasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kepengasuhan santri, sehingga masing-masing pesantren dapat saling menguatkan dan terus berkembang dalam melahirkan generasi Qur’ani yang beradab dan berdaya guna.

Posting Komentar untuk "Majelis Bersama PPTQ Qoryatul Qur’an dengan Ma’had Tahfizhul Qur’an As-Surkati Salatiga dan Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3) Magelang"