PPTQ Qoryatul Qur’an menggelar sarasehan bersama Dr. Adian Husain dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat. Dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026. Bertempat di Meeting Room Lantai 2 PPTQ Qoryatul Qur’an Komplek 06 Asemlegi, Gabeng.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menghadirkan Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Dr. Adian Husaini. Beliau berkenan rawuh beserta rombongan sebagai narasumber utama.
Acara sarasehan tersebut dihadiri oleh Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I., jajaran direktorat pesantren, para sesepuh lembaga, serta perwakilan Leadership QQ.
Bertindak sebagai pemandu acara (MC), Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H., membuka rangkaian kegiatan dengan bacaan basmalah. Selanjutnya, prolog disampaikan oleh Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I.
Ustaz Setyadi mengawali dengan menyampaikan refleksi terkait perjalanan dan tantangan proses kaderisasi ulama yang selama ini berjalan di pesantren.
Beliau mengungkapkan bahwa Program Kaderisasi Ulama (PKU) yang mulanya dirancang untuk kader-kader berekomendasi kini menghadapi tantangan berupa beragamnya latar belakang serta kualitas input peserta.
![]() |
| Sarasehan bersama Dr. Adian Husaini |
Hal tersebut memicu perlunya penyusunan kembali standar kader yang komprehensif, mencakup penguasaan Al-Qur'an, bahasa Arab, pemahaman manhaj, tsaqafah Islam, wawasan Al-Qur'an dan hadis, hingga penguasaan ilmu-ilmu syar'i.
“Seiring berjalannya waktu, terjadi pergeseran orientasi di mana program lebih didominasi oleh fokus tahfizh Al-Qur'an semata, sehingga aspek-aspek standar kader lainnya kurang mendapat perhatian utama,” ungkap beliau.
Beliau juga menyampaikan kegelisahan pimpinan ketika para lulusan yang dihasilkan lebih condong menjadi sekadar alumni pendidikan, bukan kader yang siap mengemban misi perjuangan Islam.
Padahal, cita-cita besar membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ’alamin hanya bisa dicapai melalui sistem kaderisasi yang terarah dan berstandar jelas.
“Acuan paling tepat dalam meninjau kembali konsep ini adalah model pendidikan Rasulullah saw., yang sukses melahirkan generasi sahabat. Mulai dari materi, metode, kualitas pendidik, ruh pendidikan, hingga profil lulusan harus berkiblat pada pola nubuwwah.”
![]() |
| Dr. Adian menyampaikan pentingnya pendidikan kaderisasi |
Melalui sarasehan ini, diharapkan mendapatkan bimbingan dari Dr. Adian Husaini, serta rumusan yang lebih utuh agar melahirkan kader yang siap mengemban amanah perjuangan umat,
Senada dengan hal tersebut, Ketua Biro Kaderisasi sekaligus Wakil Ketua II Dewan Dakwah Soloraya, Ustaz Agus Saripudin, S.Pd.I., M.Pd., yang hadir bersama Dr. Adian, turut menegaskan komitmen untuk mengawal dan memperkuat tata kelola kelembagaan.
“Diperlukan kerja sama dan sinergi yang kuat dari seluruh unsur pimpinan serta pengelola agar cita-cita besar para pendiri dapat diwujudkan secara bertahap,” ujar Ustaz Agus.
Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi inti, arahan, serta pembekalan strategi kaderisasi oleh Dr. Adian Husaini kepada seluruh jajaran pimpinan PPTQ Qoryatul Qur’an.
Dr. Adian menekankan bahwa perbaikan umat tidak cukup hanya dengan memperbaiki aspek pemerintahan atau umara, tetapi juga harus membenahi kualitas ulama dan manusia yang menjalankan kehidupan umat.
Kaderisasi harus diarahkan untuk melahirkan manusia yang memiliki ilmu, iman, karakter, kemampuan berpikir, dan kesanggupan berjuang. Persoalan umat tidak hanya berasal dari struktur kelembagaan, tetapi juga dari berbagai godaan yang dapat membelokkan manusia dari jalan yang lurus.
Beliau mengingatkan bahwa sesuatu yang pada awalnya baik dapat menjadi persoalan ketika dilakukan secara berlebihan. Gerakan, komunitas, maupun aktivitas keagamaan tidak boleh kehilangan tujuan utamanya.
Beliau mengaitkannya dengan peringatan Al-Qur’an tentang godaan Iblis yang mendatangi manusia dari berbagai arah serta hadis Rasulullah saw. mengenai jalan yang lurus dan berbagai jalan yang dapat menyesatkan.
Menurut Dr. Adian, manusia harus menjadi pusat perhatian pendidikan dan pembangunan peradaban. Pendidikan harus membantu manusia memahami dirinya, tujuan hidupnya, dan alasan mengapa ia belajar.
Pendidikan yang hanya berorientasi pada gelar, pekerjaan, kekayaan, dan status sosial akan kehilangan tujuan yang lebih mendasar. Ilmu seharusnya menghasilkan manusia yang beramal, bermanfaat, dan memiliki orientasi kehidupan yang benar.
Beliau juga mengkritisi ukuran kemajuan yang semata-mata didasarkan pada aspek material. Kemajuan tidak cukup diukur dari kapital, fasilitas, jabatan, atau kemakmuran ekonomi.
Dalam perspektif Islam, seseorang dapat memiliki kedudukan yang tinggi meskipun secara materi sederhana, selama memiliki ilmu, ibadah, perjuangan, dan ketakwaan. Karena itu, pendidikan harus membentuk manusia yang tidak menjadikan materi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Dalam pembahasan tentang perguruan tinggi, termasuk kampus Muhammadiyah, Dr. Adian menekankan bahwa promosi dan perkembangan kelembagaan harus diikuti peningkatan kualitas pendidikan.
Beliau mencermati adanya fenomena keengganan melanjutkan studi ke perguruan tinggi dari lembaga yang meluluskan. Seharusnya, lulusan pesantren melanjutkan pendidikan ke jenjang atas yang berada di bawah lembaga yang sama.
Banyak lulusan yang melanjutkan jenjang di atasnya, ke lembaga lain. Malah dari lembaga sendiri memberikan ucapan selamat kepada lulusannya yang diterima di perguruan tinggi negeri yang berbeda arah pendidikannya.
Pergantian pengurus, perubahan program, dan perkembangan institusi tidak boleh membuat orientasi pendidikan kehilangan kesinambungan. Yang lebih penting daripada citra lembaga adalah kualitas manusia yang dihasilkan.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menurut beliau semakin memperjelas tantangan tersebut. Banyak pekerjaan teknis yang dahulu dilakukan manusia kini dapat dibantu atau bahkan dilakukan oleh teknologi.
Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya melatih mahasiswa mengerjakan tugas teknis yang jawabannya dapat ditemukan melalui mesin pencari atau AI. Mahasiswa harus dilatih memiliki daya baca, daya pikir, kemampuan analisis, kemampuan memverifikasi informasi, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Dalam proses pembinaan mahasiswa, Dr. Adian menekankan pentingnya budaya membaca, berdiskusi, dan menulis. Mahasiswa tidak cukup menjadi penerima materi kuliah, tetapi harus dilatih menghasilkan gagasan dan karya.
AI dapat digunakan sebagai alat bantu, tetapi manusia tetap harus memahami bahan, memeriksa kebenarannya, dan bertanggung jawab terhadap hasil akhirnya.
Beliau juga menyoroti pentingnya menemukan dan mengarahkan potensi setiap mahasiswa. Anak yang memiliki kemampuan besar belum tentu berkembang menjadi intelektual atau tokoh jika tidak mendapatkan bimbingan yang tepat.
Karena itu, guru dan dosen memiliki peran penting dalam menemukan bakat, memberikan bacaan, membuka ruang diskusi, membimbing penulisan, dan mengarahkan mahasiswa pada tujuan hidup yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui gelar, prestasi akademik, jabatan, atau kemampuan memperoleh pekerjaan.
![]() |
| Foto bersama sebelum rombongan Dr. Adian Husaini pulang |
Pendidikan yang kuat harus mampu melahirkan manusia berilmu, berkarakter, produktif dalam berkarya, kritis dalam berpikir, dan memiliki orientasi pengabdian.
Cita-cita kaderisasi adalah melahirkan generasi intelektual yang kuat secara keilmuan sekaligus mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat.



Posting Komentar untuk "PPTQ Qoryatul Qur’an Gelar Sarasehan Bersama Dr. Adian Husaini Soroti Fenomena Pendidikan Kaderisasi"