Ustaz Ngatemin: Banyak Cara Menjadi Orang Terbaik, dari Amar Makruf Nahi Munkar hingga Bersikap Baik pada Sesama

Allah telah memberikan gambaran tentang siapa yang bisa menjadi umat terbaik. Predikat mulia ini dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga. Siapa pun bisa menjadi bagian dari umat terbaik.

Orang Terbaik Itu Mengajak Kebaikan Mencegah Kemungkaran

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

Kelompok umat yang disebut khaira ummah (umat terbaik) adalah mereka yang senantiasa mengajak kepada kebaikan (amar makruf) dan mencegah kemungkaran (nahi mungkar) dengan landasan keimanan yang kuat kepada Allah.

Orang Terbaik
Ustaz Ngatemin menyampaikan banyak cara jadi orang terbaik menurut Islam

Kemuliaan mereka tidak terletak pada kedudukan, harta, atau keturunan, melainkan pada kesungguhan dalam menebarkan kebaikan, mengingatkan sesama kepada jalan yang benar, serta berusaha menjaga diri dan lingkungannya dari perbuatan yang menyimpang.

Karena itu, setiap muslim memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari umat terbaik selama ia beriman dan berperan aktif dalam mengajak kepada kebaikan serta mencegah kemungkaran sesuai kemampuan dan hikmah yang dimilikinya.

Seorang ibu yang terbiasa bangun paling awal memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari khaira ummah (umat terbaik). Dengan penuh kasih sayang, ia dapat mengajak suami, anak, dan menantunya untuk bangun dan menunaikan Salat Subuh berjemaah.

Tindakan sederhana ini merupakan bentuk amar makruf yang sangat mulia, karena mengajak keluarga kepada ketaatan kepada Allah. Dari rumah yang dipenuhi semangat ibadah dan saling mengingatkan dalam kebaikan, akan lahir pribadi-pribadi yang kuat iman dan akhlaknya.

Tidak semua orang terbiasa mengajak kepada kebaikan. Banyak yang memilih bersikap acuh tak acuh, bahkan ada yang justru mengajak kepada keburukan. Mengajak pada kebaikan bukanlah sesuatu yang muncul dengan sendirinya, melainkan kebiasaan mulia yang perlu dilatih, dibangun, dan dijaga secara istikamah hingga menjadi bagian dari karakter seorang muslim.

Orang Terbaik Itu Baik pada Pasangan

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا، وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ

Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya.” (HR. Tirmidzi)

Ternyata, terdapat hubungan yang sangat erat antara kesempurnaan iman dan cara seseorang memperlakukan pasangannya. Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara mereka adalah yang paling baik kepada istrinya.

Ini menunjukkan bahwa kualitas iman selain dari ibadah juga terlihat dalam sikap penuh kasih sayang, kesabaran, penghormatan, dan tanggung jawab terhadap pasangan. Semakin baik akhlak seseorang dalam kehidupan rumah tangga, semakin nyata pula kesempurnaan imannya.

Orang Terbaik Itu Baik pada Saudaranya

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang muslim hendaknya memperlakukan saudaranya dengan baik, menginginkan kebaikan untuknya, membantu saat membutuhkan, serta menjauhi sikap iri dan dengki. Semakin besar kepedulian seseorang terhadap saudaranya, semakin sempurna pula imannya.

Jangan hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga harus peduli terhadap kebaikan saudaranya, membantu ketika membutuhkan, mendoakan, menasihati, dan memperlakukan mereka sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Orang Terbaik Itu Menghilangkan Lapar Orang

أَيُّمَا مُؤْمِنٍ أَطْعَمَ مُؤْمِنًا عَلَى جُوعٍ، أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ، وَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ سَقَى مُؤْمِنًا عَلَى ظَمَأٍ، سَقَاهُ اللَّهُ مِنَ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ

Siapa saja seorang mukmin yang memberi makan mukmin lain yang sedang lapar, Allah akan memberinya makan dari buah-buahan surga. Dan siapa saja seorang mukmin yang memberi minum mukmin lain yang sedang haus, Allah akan memberinya minum dari minuman surga yang murni dan tertutup rapat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Orang yang berusaha menghilangkan lapar dan dahaga saudaranya termasuk golongan manusia yang terbaik, karena ia menghadirkan manfaat nyata bagi orang lain. Kebaikan semacam inilah yang menjadikan seseorang bernilai mulia di hadapan Allah dan bermanfaat bagi sesama.

Dengan memberi makan kepada yang lapar dan memberi minum kepada yang haus, seseorang tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik saudaranya, tetapi juga menunjukkan kepedulian, kasih sayang, dan kepekaan sosial yang sangat dicintai Allah.

Menjadi orang terbaik di sisi Allah dapat ditempuh melalui banyak jalan. Semua bentuk kebaikan itu menunjukkan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak hanya diukur dari ibadah pribadinya, tetapi juga dari manfaat, kepedulian, dan akhlak baik yang ia hadirkan bagi orang lain.

Resume kajian Ahad pagi pada tanggal 26 Juli 2026, di Masjid Widad El Fayez, PPTQ Qoryatul Qur’an komplek Asem Legi, Gabeng, yang disampaikan oleh Ustaz H. Ngatemin, M.Ag. dari Gunungkidul.

Posting Komentar untuk "Ustaz Ngatemin: Banyak Cara Menjadi Orang Terbaik, dari Amar Makruf Nahi Munkar hingga Bersikap Baik pada Sesama"