Tausiah Akhirussanah MATQ Qoryatul Qur’an, Ustaz KH. Ihsan Saifudin: “Masuk Pesantren Itu Bukan Madesu Tapi Madece, Masa Depan Cerah!”

Salah satu sesi pada Haflah Akhirussanah Santri MATQ Qoryatul Qur’an tahun ajaran 2025/2026 adalah tausiah dan doa yang disampaikan oleh dai kondang Soloraya, Ustaz KH. Ihsan Saifudin, S.Ag.

Acara yang berlangsung pada Senin, 15 Juni 2026 ini bertempat di halaman timur PPTQ Qoryatul Qur'an Komplek 06 Asemlegi, Gabeng. Ustaz Ihsan berkenan memberikan tausiah yang membakar semangat ratusan pasang mata yang hadir pada majelis penuh berkah ini.

Mengawali untaian nasihatnya, Ustaz KH. Ihsan Saifudin menyampaikan harapan besar dan doa terbaik bagi para santri yang diwisuda hari ini. Beliau mendoakan agar ilmu agama dan hafalan Al-Qur'an yang telah diperoleh bisa bermanfaat di dunia maupun di akhirat.

Ust. Ihsan Saifudin, S.Ag.
Ustaz Ihsan Saifudin menyebut masuk pesantren itu madece: masa depan cerah 

Beliau juga mengajak seluruh hadirin untuk memanjatkan syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas terselenggaranya kegiatan Haflah Akhirussanah MATQ Qoryatul Qur’an ini. Ini adalah pencapaian yang sangat membanggakan di tengah tantangan zaman yang kian dinamis.

Menepis Stigma Negatif Terhadap Pesantren

Di hadapan para wali santri dan tamu undangan, Ustaz Ihsan secara blak-blakan menyoroti maraknya pemberitaan miring yang menyudutkan institusi pesantren belakangan ini. Beliau menyayangkan bagaimana puluhan ribu pesantren yang ada di Indonesia seolah ikut tercoreng hanya karena segelintir kasus dari oknum tertentu.

“Ibarat sekarung beras yang di dalamnya terdapat satu atau dua kerikil, maka sangat tidak adil jika kita menilai seluruh isi karung beras tersebut buruk hanya karena kerikil itu,” kata beliau. “Begitu pula pesantren, jangan sampai kasus oknum membuat kita menutup mata dan menganggap perjuangan besar tokoh-tokoh pesantren sejak zaman penjajahan tidak ada artinya lagi.”

Lebih lanjut, beliau mengingatkan kembali ingatan sejarah bangsa bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan buah dari perjuangan nyata para ulama dan santri. Mulai dari pekikan takbir penuh semangat yang digelorakan oleh Bung Tomo, hingga fatwa Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh KH. Hasyim Asy'ari.

Beliau juga menepis asumsi keliru yang berkembang di sebagian masyarakat bahwa menyekolahkan anak ke pesantren identik dengan 'madesu' atau masa depan suram. Kenyataan di lapangan justru berbanding terbalik.

Pesantren seperti PPTQ Qoryatul Qur’an terbukti menjadi kawah candradimuka yang berhasil membangun tiga pilar kecerdasan sekaligus pada diri santri: kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual.

Dunia Mengikuti Agama

Dalam poin inti tausiahnya, Dai Soloraya ini menekankan bahwa ketika seseorang fokus memperdalam ilmu agama, Allah Swt. telah menjanjikan bahwa urusan dunia akan ikut mengikutinya secara otomatis. Walaupun demikian, beliau mengingatkan agar niat belajar di pesantren murni karena ibadah, bukan demi mengejar materi duniawi.

Santri masa kini, lanjut beliau, dididik untuk cerdas dalam urusan agama, fasih memahami bahasa Arab serta bahasa internasional lainnya, sekaligus mahir dalam berkomunikasi. Dengan modal tersebut, para lulusan pesantren siap berdakwah dan berkiprah, tidak hanya di kancah nasional melainkan hingga ke skala internasional.

“Masuk pesantren itu bukan madesu, tapi madece: masa depan cerah. Itu diawali dari pemahaman yang kuat pada Al-Qur'an, penguasaan bahasa Arab, dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Inilah formula yang juga saya terapkan secara langsung kepada anak-anak saya sendiri,” ungkap Ustaz KH. Ihsan Saifudin.

Acara tausiah yang berlangsung penuh khidmat tersebut kemudian ditutup dengan lantunan doa bersama yang dipimpin langsung oleh beliau, memohon keberkahan, keselamatan, serta kesinambungan syiar Islam bagi pondok pesantren dan seluruh wisudawan yang akan mulai mengabdi di tengah-tengah masyarakat.

Posting Komentar untuk "Tausiah Akhirussanah MATQ Qoryatul Qur’an, Ustaz KH. Ihsan Saifudin: “Masuk Pesantren Itu Bukan Madesu Tapi Madece, Masa Depan Cerah!”"