PPTQ Qoryatul Qur’an menghadiri kegiatan Muhasabah Akbar Milad ke-47 Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta yang digelar di Halaman Gedung KH. Ali Darokah Kampus IIM Surakarta pada Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.
Kehadiran rombongan PPTQ Qoryatul Qur’an sekaligus mendampingi salah satu santri kelas XI Ta’jil MATQ Qoryatul Qur’an, Muhammad Yusuf Musa, yang berhasil meraih penghargaan Best Presenter Lomba Karya Ilmiah PESANOVA 2026 IIM Surakarta.
Penyerahan hadiah kepada para pemenang dilaksanakan bersamaan dengan rangkaian acara Muhasabah Akbar yang menghadirkan Syekh Dr. Mahir bin Hasan Al Munajjid. Momentum yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar Qoryatul Qur’an atas capaian santri di ajang ilmiah tingkat nasional.
Dalam sambutannya, Rektor Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta, Dr. Edy Muslimin, S.Ag., M.S.I., menyampaikan selayang pandang tentang perjalanan panjang IIM Surakarta. Beliau menjelaskan bahwa Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta merupakan perguruan tinggi Islam tertua di Kota Surakarta.
IIM Surakarta memiliki sejarah panjang sejak tahun 1963, bermula dari berdirinya Fakultas Hukum UII cabang Surakarta yang kemudian berkembang dengan membuka berbagai fakultas lainnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa lembaga tersebut telah mengalami beberapa perubahan kelembagaan dan nama, mulai dari UNIS, Institut Mamba’ul ‘Ulum, hingga STAIMUS. Kemudian pada tahun 2016 resmi kembali menjadi institut dengan nama Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum Surakarta atau IIM Surakarta.
Dr. Edy Muslimin menyampaikan harapan besar terhadap perkembangan kampus IIM Surakarta ke depan. Upaya memajukan IIM Surakarta agar dapat naik level menjadi universitas memang bukan perkara ringan. Namun, apabila dilakukan bersama-sama, maka sesuatu yang berat akan terasa lebih ringan untuk diwujudkan bersama.
![]() |
| Muhasabah Akbar bersama Syekh Dr. Mahir bin Hasan Al Munajjid |
Memasuki acara inti, para peserta mengikuti Muhasabah Akbar bersama Syekh Dr. Mahir bin Hasan Al Munajjid yang berasal dari Damaskus, Suriah. Syekh membahas empat persoalan besar dalam lingkup menuntut ilmu. Pada pembahasan pertama, Syekh Mahir menekankan pentingnya menuntut ilmu syar’i sebagai jalan kehidupan bagi seorang muslim.
Syekh mengajak para penuntut ilmu untuk menyambut seruan Allah agar menjadi hamba yang berilmu. Menurut beliau, ilmu syar’i akan menghidupkan manusia dengan syariat Allah dan menjadikan kehidupan berjalan sesuai aturan yang telah ditetapkan-Nya.
Syekh Mahir menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan berbagai karakter, ada yang baik dan ada yang buruk. Manusia diberikan keutamaan berupa akal agar mampu menjadi khalifah di muka bumi.
Manusia tidak diciptakan untuk mengikuti hawa nafsu semata, tetapi hidup dengan aturan Allah yang penuh hikmah. Untuk itulah Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab suci sebagai petunjuk yang menjauhkan manusia dari kebatilan.
Beliau juga menyampaikan bahwa Rasulullah Saw., diutus membawa aturan kehidupan yang diwariskan kepada umat Islam. Syariat tersebut mengatur hubungan manusia dengan sesama, keluarga, masyarakat, hingga seluruh umat manusia.
Menurut Syekh Mahir, kebahagiaan sejati akan dirasakan ketika aturan Allah diterapkan dalam kehidupan kaum muslimin. Hal itu dapat dilihat pada masa Khulafaur Rasyidin dan masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang menghadirkan keadilan dan ketenteraman di tengah masyarakat.
Pada poin kedua, Syekh Dr. Mahir bin Hasan Al Munajjid menjelaskan tentang perjuangan para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada umat. Beliau menggambarkan susah-payahnya para ulama memperoleh ilmu.
Mereka mendapatkan ilmu dengan penuh kesungguhan, pengorbanan, serta menghadapi berbagai kondisi yang berat. Namun, keberkahan dari perjuangan tersebut masih dapat dirasakan manfaatnya oleh umat Islam hingga hari ini.
Beliau mencontohkan kisah Ibnu Abbas yang harus melakukan perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu atau dua hadis. Syekh Mahir kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan kemudahan yang dimiliki generasi saat ini, di mana berbagai informasi dapat diakses dengan cepat melalui teknologi dan kecerdasan buatan.
![]() |
| Perwakilan PPTQ Qoryatul Qur'an dalam Muhasabah Akbar Milad ke-47 IIM Surakarta |
Selain itu, beliau juga menyampaikan perjuangan Imam Bukhari dalam mengumpulkan hadis. Sebagai salah satu imam hadis terbesar, Imam Bukhari harus berjalan kaki menempuh perjalanan ratusan kilometer demi mendapatkan satu hadis. Bahkan terkadang perjalanan tersebut memakan waktu hingga satu atau dua bulan.
Syekh Mahir turut menceritakan kisah seorang ulama bernama Syaiful Qura yang pada masa mudanya menghafalkan Al-Qur’an di bawah lampu jalan karena rumahnya tidak memiliki penerangan. Kisah tersebut menjadi gambaran kuat tentang kesungguhan para ulama dalam menjaga semangat menuntut ilmu di tengah keterbatasan.
Beliau menegaskan bahwa para ulama terdahulu juga dikenal menjaga kezuhudan dan keikhlasan dalam belajar maupun mengajar. Mereka tidak menjadikan ilmu sebagai sarana mengejar dunia. Keikhlasan itulah yang melahirkan murid-murid berkualitas dan menjadikan ilmu para ulama tetap penuh keberkahan hingga sekarang serta terus menjadi rujukan umat Islam dalam belajar agama.
Pada poin ketiga, Syekh Dr. Mahir bin Hasan Al Munajjid menjelaskan tentang besarnya pengaruh ilmu terhadap pembentukan kepribadian seorang muslim. Menurut beliau, ilmu bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga membina karakter, akhlak, serta keteguhan seseorang dalam menjalani kehidupan.
Syekh mengutip perkataan Imam Syafi’i: “Barangsiapa mendalami ilmu agama (Islam), mulialah kedudukannya. Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an, besarlah harga dirinya. Barangsiapa mendalami ilmu fiqih, kuatlah kesehariannya. Barangsiapa menulis hadis, kuatlah hujjahnya. Barangsiapa yang belajar ilmu hisab (hitungan), sehatlah pikirannya. Barangsiapa belajar bahasa Arab, haluslah tabiatnya. Dan barangsiapa tidak menjaga dirinya dari dosa dan kemaksiatan, tidaklah bermanfaat ilmu baginya.”
Syekh Mahir menegaskan bahwa setiap cabang ilmu memiliki pengaruh besar dalam membentuk kualitas diri seorang muslim. Ilmu akan menjadikan seseorang lebih kokoh dalam menjaga diri dari berbagai hal yang tidak baik serta mampu melangkah sesuai tuntunan ilmu yang dipelajarinya.
Beliau juga mengingatkan bahwa kebermanfaatan ilmu sangat berkaitan dengan ketakwaan dan usaha menjaga diri dari dosa serta kemaksiatan. Sebab, ilmu yang tidak diiringi amal dan penjagaan diri tidak akan memberikan keberkahan sebagaimana mestinya.
Pada poin keempat, Syekh Dr. Mahir bin Hasan Al Munajjid menjelaskan tentang pengaruh besar menuntut ilmu bagi keluarga dan masyarakat. Beliau menyampaikan bahwa orang yang berilmu akan menjadi cahaya dan penerang bagi lingkungan sekitarnya, mulai dari diri sendiri, keluarga, kampung, masyarakat, hingga bagi bangsa dan negara.
Amal yang dilakukan seseorang merupakan buah dari ilmu yang dipelajarinya. Amal yang paling besar adalah amal yang dilandasi ilmu serta mampu memberikan manfaat kepada orang lain melalui dakwah di jalan Allah. Dengan ilmu, seorang muslim dapat menyelamatkan diri dan masyarakat dari berbagai fitnah dunia yang semakin banyak terjadi pada zaman sekarang.
Syekh Mahir juga menegaskan bahwa para dai tidak boleh diam melihat kondisi umat saat ini. Menurut beliau, setiap muslim sejatinya adalah dai dalam lingkupnya masing-masing, sesuai kemampuan dan posisi yang dimiliki.
![]() |
| Foto bersama Syekh Mahir |
Dalam berdakwah, beliau mengingatkan agar menyampaikan dengan penuh rahmat, hikmah, kebijaksanaan, dan kelemahlembutan. Dengan cara itulah dakwah dapat menyentuh hati, menjadikan diri pribadi semakin baik, sekaligus mengajak orang lain menuju kebaikan melalui ilmu dan nasihat yang disampaikan.
Kegiatan Muhasabah Akbar Milad ke-47 IIM Surakarta terlaksana dengan lancar. Nasihat yang disampaikan Syekh Dr. Mahir bin Hasan Al Munajjid, diharapkan menjadi semangat berdakwah dengan hikmah semakin tumbuh dalam diri kaum muslimin, termasuk di dunia kampus.



Posting Komentar untuk "PPTQ Qoryatul Qur’an Hadiri Muhasabah Akbar Milad ke-47 IIM Surakarta bersama Syekh Dr. Mahir bin Hasan Al Munajjid"