Ustaz Salman Al Farisi: Puncak Bahagia Itu Surga, Puncak Sengsara Itu Neraka

Setiap manusia tentu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dan puncak dari segala kebahagiaan itu adalah saat seseorang dimasukkan ke dalam surga. Di sana tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada penderitaan. Semua yang diinginkan terpenuhi, dan setiap harapan tersedia tanpa batas, menghadirkan kenikmatan yang sempurna dan abadi.

Sebaliknya, tidak ada seorang pun yang menginginkan kesengsaraan. Dan puncak dari segala kesengsaraan itu adalah ketika seseorang masuk ke dalam neraka, tempat penuh penderitaan yang tiada henti, di mana tidak ada kenyamanan dan tidak ada satu pun keinginan yang dapat terpenuhi.

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ ۝١٠٥ فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ ۖ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ ۝١٠٦

Pada hari itu, ketika datang (hari kiamat), tidak ada seorang pun yang berbicara kecuali dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih).” (QS. Hud: 105–106)

Ust. Salman Al Farisi
Ustaz Salman Al Farisi menyampaikan bahwa surga adalah puncak kebahagiaan 

Orang mukmin yang taat akan merasakan kebahagiaan saat datangnya ajal. Bahkan disebutkan bahwa mereka ingin segera disegerakan pemakamannya, karena ada kebahagiaan abadi yang telah menanti di alam akhirat.

Untuk meraih kebahagiaan itu, seorang beriman senantiasa berusaha optimal dalam beribadah. Bahkan aktivitas bekerja pun ia niatkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Ia menyadari bahwa hanya dengan bersandar kepada-Nya, seseorang tidak akan pernah dikecewakan.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketika seorang mukmin menjadikan ibadah dan seluruh aktivitas hidupnya sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya, maka hatinya akan dipenuhi ketenteraman. Ia tidak mudah gelisah atau kecewa, karena sandarannya hanya kepada Allah, sumber ketenangan sejati dalam setiap keadaan.

Tidak semua keinginan manusia Allah turuti, namun Allah memberikan apa yang benar-benar dibutuhkan dan terbaik menurut ilmu-Nya. Seorang mukmin memahami hal ini, sehingga ia tetap tenang dan percaya, karena yakin bahwa setiap ketetapan Allah pasti mengandung kebaikan, meskipun tidak selalu sesuai dengan apa yang diinginkannya.

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Tidak akan ada kebahagiaan sejati selama seseorang menilainya dengan ukuran hawa nafsu. Kebahagiaan justru hadir bersama sikap menerima dan rida terhadap apa yang Allah berikan. Ketika hati mampu menerima dengan lapang, di situlah ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki mulai terasa.

Resume kajian Ahad Pagi di Masjid Widad El Fayez, Komplek Asem Legi, Gabeng, pada 12 April 2026 disampaikan oleh Ustaz Salman Al Farisi, M.Pd. (Koordinator Korps Dai-Qu PPTQ Qoryatul Qur'an)

Posting Komentar untuk "Ustaz Salman Al Farisi: Puncak Bahagia Itu Surga, Puncak Sengsara Itu Neraka"