Senin, 6 April 2026, para guru dan asatiz MITQ serta ISTECH MTsTQ Qoryatul Qur’an melaksanakan silaturahmi ke kediaman Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I., yang berlokasi di Dukuh Sidowayah, Desa Ngreco, Kecamatan Weru.
Kegiatan ini dilaksanakan bakda Salat Asar, setelah sebelumnya bersilaturahmi kepada Direktur Operasional PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Hartanto, S.Pd.I., Al Hafizh, yang diterima di Masjid Widad El Fayez. Di kediaman Ustaz Setyadi, tim MITQ dan ISTECH berkesempatan mendapatkan banyak nasihat dan arahan dari beliau.
![]() |
| Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur'an memberikan nasihat |
Keberadaan MITQ Qoryatul Qur’an dan MTsTQ Qoryatul Qur’an ISTECH merupakan unit yang sangat strategis bagi pesantren ini. Unit ini didirikan bukan semata-mata untuk mencari keuntungan duniawi, melainkan dilandasi oleh niat yang besar, sejalan dengan visi dan misi pesantren.
Pertama, Qoryatul Qur’an merupakan bagian dari estafet perjuangan Nabi Muhammad Saw., para sahabat, serta generasi terbaik yang mengikuti mereka. Kedua, menjadi wadah bagi kita untuk berkontribusi dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Ketiga, pesantren ini menjadi tempat untuk mengikhtiarkan lahirnya generasi terbaik, yaitu para ulama yang ‘amilin fi sabilillah. Keempat, menjadi tempat bagi kita untuk menuliskan hujjah di hadapan Allah, sebagai jawaban atas amanah ilmu, harta, jiwa, dan seluruh nikmat yang telah diberikan.
Kelima, Qoryatul Qur’an merupakan tempat untuk mewujudkan ukhuwah Islamiyah, yakni jalinan persaudaraan yang benar-benar diidamkan, sebagaimana persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar.
Ukhuwah di pesantren ini telah terwujud dalam berbagai bentuk, di antaranya melalui tilikan ketika ada yang sakit. Kepedulian tersebut menjadi bukti bahwa jalinan ukhuwah di pesantren kita terbangun dengan baik.
Dengan menyadari kelima alasan tersebut, diharapkan etos kerja kita semakin meningkat. Totalitas dan loyalitas pun dapat terus tumbuh, diiringi dengan meningkatnya daya juang serta dukungan kita terhadap pesantren.
Setiap insan yang bergabung di pesantren ini berkontribusi sesuai dengan perannya masing-masing. Ustaz Wibi dengan karya editan videonya, Ustaz Ilyas dengan layanan ambulansnya, Ustaz Agen dengan program MBG-nya, Ustaz Ikhsan dengan kudanya, dan kontribusi lainnya dari para asatiz.
Hendaknya setiap orang tidak saling iri terhadap peran yang dijalankan oleh yang lain. Jangan merasa bahwa peran orang lain lebih ringan atau lebih mudah. Tidak semua peran dapat kita lakukan, karena masing-masing telah berada pada tempat dan porsinya.
Kebersamaan di PPTQ Qoryatul Qur’an terealisasi dalam berbagai aspek. Pimpinan pesantren senantiasa memikirkan kebaikan bagi seluruh insan yang tergabung di dalamnya. Tidak sekadar memperhatikan hal-hal seperti THR, tetapi juga memikirkan kebutuhan yang lebih luas, seperti membantu proses pernikahan hingga mencarikan tempat tinggal.
Posisi strategis ISTECH dan MITQ Qoryatul Qur’an bagi pesantren, yang pertama, adalah sebagai fase pengkaderan paling dini. Pada usia TAUD, proses kaderisasi belum dapat dilakukan secara optimal, sehingga jenjang MI dan MTs menjadi masa yang tepat untuk membentuk generasi.
Kedua, jenjang MI, khususnya, merupakan fase pengkaderan yang paling panjang, yakni selama enam tahun masa belajar. Pada fase ini, menjadi waktu yang tepat untuk membiasakan salat dengan benar serta membekali santri kemampuan membaca Al-Qur’an secara baik dan benar.
Ketiga, jenjang MI dan MTs merupakan fase golden age (usia emas). Pada masa ini, anak-anak berada dalam kondisi paling subur untuk ditanamkan nilai-nilai kebaikan. Mereka memiliki daya tangkap yang tinggi terhadap berbagai hal, baik yang positif maupun yang negatif.
Keempat, usia MI umumnya belum baligh. Pada fase ini, mereka belum dibebani dosa seperti halnya orang yang telah baligh. Sementara itu, dosa dapat menjadi penghalang masuknya ilmu. Oleh karena itu, selagi berada pada masa ini, penting untuk segera menanamkan ilmu ke dalam jiwa mereka.
Kelima, generasi terbaik adalah mereka yang dibina sejak usia dini. Para tokoh besar lahir dari proses pendidikan yang panjang sejak masa kanak-kanak, bukan secara instan di usia dewasa. Di antaranya adalah Salahuddin al-Ayyubi dan Imam Malik, serta banyak tokoh lainnya.
Kita sedang membangun prototipe ideal pendidikan generasi terbaik melalui lahirnya unit ISTECH. Unit ini diharapkan mampu mencetak generasi unggul, tanpa mengabaikan kebutuhan dan harapan wali santri terkait kesiapan menghadapi dunia kerja di masa depan yang didominasi oleh sains dan teknologi. Dengan demikian, lahirlah sosok cendekiawan muslim yang utuh dan berintegritas.
Langkah pertama yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kompetensi, baik dari aspek skor maupun skill. Artinya, dari sisi nilai akademik (skor) harus terpenuhi, sekaligus diiringi dengan penguatan kemampuan nyata (skill) yang dimiliki.
Kedua, jenjang MI difokuskan pada penguatan keunggulan utama, yaitu adab, ibadah, Al-Qur’an, calistung, serta keterampilan kemandirian (survival skill). Program INeS (sekolah alam) dirancang untuk memadukan ayat kauniyah dan ayat qauliyah secara seimbang.
Selanjutnya, pada jenjang ISTECH perlu ditambahkan penguatan pada sains dan teknologi terapan. Setiap mata pelajaran dirancang berbasis praktikum, sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga aplikatif dan kontekstual.
Hal penting yang perlu dikembangkan pada santri adalah kemampuan menulis surat serta memiliki sahabat pena, baik melalui surat fisik maupun email. Hal ini bertujuan untuk melatih santri dalam menyampaikan ide dan gagasan secara tertulis dengan baik dan terstruktur.
Ustaz Setyadi juga mengingatkan bahwa kebaikan tidak akan diketahui oleh orang lain jika tidak disebarkan. Oleh karena itu, melalui digitalisasi, kebaikan tersebut perlu ditampilkan kepada masyarakat luas. Setiap unit pun diharapkan memiliki tim media yang berperan aktif dalam menyampaikan berbagai kegiatan dan capaian.
Kita semua adalah mujahid dakwah, yang turut berperan dalam mewujudkan peradaban Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Estafet perjuangan Nabi berada di tangan kita. Oleh karena itu, sambut amanah ini dengan usaha dan ikhtiar terbaik.
Dengan seluruh pemahaman dan ikhtiar yang telah diuraikan Ustaz Setyadi, semoga setiap langkah yang kita tempuh dalam membersamai pesantren ini senantiasa dilandasi keikhlasan dan kesungguhan.
Mari kita perkuat sinergi, menjaga amanah, serta terus berkontribusi sesuai peran masing-masing, demi terwujudnya generasi unggul yang membawa kebaikan bagi umat. Semoga Allah memberkahi setiap usaha kita dan menjadikannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir.

Posting Komentar untuk "Nasihat Direktur Umum tentang Peran Strategis Pendidikan di MITQ dan ISTECH MTsTQ Qoryatul Qur'an"