Ustaz Ngatemin: Puasa Hilang Pahala karena Sifat Ghaflah

Ramadan berlimpah pahala. Tak hanya perintah utama berpuasa, pahala ada di mana-mana dan berlipat ganda. Di antaranya perjalanan kita ke masjid, itu akan terhitung pahala dan menghapus dosa.

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خُطْوَتَاهُ: إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً.

Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban yang Allah tetapkan, maka satu langkahnya menghapus satu dosa dan langkah lainnya mengangkat satu derajat.” (HR. Muslim)

Ghaflah
Ustaz Ngatemin mengingatkan bahayanya sifat ghaflah

Namun sayangnya, di bulan Ramadan ini banyak yang berpuasa tapi hanya mendapat lapar dan haus saja, yaitu mereka yang berpuasa tapi tidak mampu menjaga lisannya.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.

Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta, perbuatan dusta, dan kebodohan (perilaku buruk), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Ramadan yang penuh berkah berlipat ganda pahalanya, ternyata jadi sia-sia karena sifat menyepelekan atau ghaflah. Dan, ternyata banyak yang bersifat seperti itu.

Ibu-ibu yang selalu marah dan mengeluhkan suaminya, tanpa sadar akan kehilangan pahala puasanya. Apalagi sampai ia membicarakannya pada orang lain yang ditemuinya.

Pahala amal ibadah adalah tabungan bagi pelakunya. Ia tidak diberikan dalam bentuk fisik yang langsung terlihat di dunia. Tidak ada uang atau hadiah materi setiap kali seseorang selesai salat, puasa, atau bersedekah.

Barangkali karena tidak tampak itulah sebagian orang merasa kurang tertarik dan cenderung ghaflah (menyepelekan). Padahal, justru di situlah letak nilai keimanan. Beramal bukan karena imbalan duniawi, tetapi karena yakin akan balasan Allah.

Andaikan setiap ibadah langsung diberi hadiah uang, mungkin masjid akan penuh dan orang berlomba-lomba berbuat baik. Namun pahala yang Allah janjikan jauh lebih besar dari sekadar materi, karena ia menjadi tabungan abadi yang akan dipetik hasilnya di akhirat kelak.

Orang yang berdosa namun masih mau bertobat dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri, niscaya Allah akan mengampuninya. Selama pintu tobat belum tertutup dan nyawa belum sampai di tenggorokan, rahmat Allah selalu terbuka.

Orang yang terus berusaha taat dengan memperbanyak amal saleh, menjaga ibadah, dan memperbaiki akhlak, akan Allah beri kemuliaan. Setiap kebaikan yang dilakukan tidak pernah sia-sia di sisi-Nya.

Karena itu, jangan pernah menyepelekan dan jangan sampai terjatuh dalam sifat ghaflah. Jangan meremehkan segala peluang yang Allah berikan saat Ramadan. Jagalah hati agar tetap sadar, tetap ingat kepada Allah, dan terus bergerak menuju kebaikan.

Saking berlimpahnya pahala dan ampunan di bulan Ramadan, Nabi dan para sahabat merasa sedih ketika Ramadan hendak pergi. Mereka menyadari Ramadan adalah kesempatan emas untuk menghapus dosa dan melipatgandakan amal.

Sedih karena belum tentu umur sampai bertemu kembali dengannya. Kesedihan itu menjadi tanda cinta pada ibadah dan harapan agar semua amal diterima oleh Allah.

Resume kajian Ahad pagi pada tanggal 22 Februari 2026, di Masjid Widad El Fayez, PPTQ Qoryatul Qur’an komplek Asem Legi, Gabeng, yang disampaikan oleh Ustaz H. Ngatemin, M.Ag. dari Gunungkidul.

Posting Komentar untuk "Ustaz Ngatemin: Puasa Hilang Pahala karena Sifat Ghaflah"