Sharing Pendidikan Bersama Ustaz Dr. Adian Husaini: Meluruskan Arah dan Tujuan Pendidikan

Kesempatan luar biasa bagi PPTQ Qoryatul Qur’an karena bisa menggelar kegiatan Sharing Pendidikan bersama Ustaz Dr. Adian Husaini, SKH., M.Si., Ph.D., Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, pada Ahad malam, 8 Februari 2026. Bertempat di meeting room lantai dua Komplek 06 Asemlegi Gabeng.

Acara ini dihadiri oleh Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an beserta jajaran direktorat, serta sejumlah ustaz dan ustazah. Kegiatan dipandu oleh MC Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H., dengan prolog disampaikan oleh Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I.

Ustaz Setyadi Prihatno memulai dengan prolog, mengajak hadirin untuk merefleksikan kembali arah pendidikan di Indonesia saat ini. Mengkritisi kecenderungan pendidikan yang dinilai hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri semata, dan mempertanyakan apakah arah tersebut sudah sesuai dengan hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Dr. Adian Husaini
Sharing pendidikan bersama Dr. Adian Husaini

Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain pentingnya kembali kepada mainstream pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar capaian akademik. Menyoroti anggapan bahwa kualitas pendidikan unggulan sering kali hanya diukur dari banyaknya lulusan yang diterima di perguruan tinggi negeri, tanpa melihat dampak moral dan kontribusi nyata lulusan tersebut di tengah masyarakat.

Menurut Ustaz Setyadi, pendidikan sejati seharusnya mampu mengubah pribadi yang kurang baik menjadi baik, dan yang sudah baik menjadi semakin baik. Selain itu, orang tua juga diajak untuk lebih kritis dalam menentukan arah studi lanjut anak, agar sejalan dengan tujuan pendidikan yang bermanfaat dan memberi kontribusi positif bagi umat dan bangsa.

Beliau berharap diskusi ini diharapkan dapat memberikan pencerahan worldview pendidikan bagi para pengelola dan pendidik di lingkungan PPTQ Qoryatul Qur’an.

Ustaz Adian Husaini memulai dengan menyampaikan seloroh bahwa semakin kecil gaji guru, maka semakin besar pula potensi keterzaliman yang dialami, sehingga doa orang yang terzalimi tersebut lebih mustajab di sisi Allah.

Mengajar memang tidak dapat dinilai dengan uang. Mengajarkan salat dalam hitungan jam saja dapat menjadi sebab keselamatan dunia dan akhirat, sehingga nilainya tidak mungkin diukur dengan materi.

Dr. Adian Husaini
Dr. Adian Husaini menyampaikan pandangan tentang pendidikan 

Guru adalah profesi paling mulia karena objek garapannya adalah kalbu manusia. Tugasnya tidak sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan hikmah, perpaduan antara pengetahuan dan rasa, yang mendorong lahirnya kebermanfaatan.

Guru yang bijak mematuhi aturan, namun tetap mampu bertindak adil ketika menjumpai sesuatu yang tidak pada tempatnya. Misalnya, murid yang melanggar dapat dikeluarkan sesuai ketentuan, tetapi guru yang arif akan tetap melihat dan mempertimbangkan potensi kebaikan yang ada pada diri anak didik tersebut.

Model pendidikan itu bersifat universal. Jiwa dan raga manusia tidak berubah, sehingga secara logis Allah-lah yang paling mengetahui bagaimana seharusnya manusia dididik. Al-Qur’an yang dijaga oleh Allah merupakan pedoman pendidikan yang paling tepat bagi manusia.

Konsep yang agung itu telah dibuktikan pada generasi yang dibentuk oleh Rasulullah Saw., dan para sahabat. Konsep ideal tersebut terbukti melahirkan generasi terbaik, sebuah ajaran yang bersifat abadi dan telah teruji dalam penerapannya. Kapan saja konsep itu diterapkan maka ia akan unggul.

Analoginya seperti masakan: harus tepat bahannya, benar resepnya, ahli kokinya, dan baik cara penyajiannya. Semua unsur itu harus diterapkan secara utuh. Model tersebut telah dicontohkan oleh Nabi, yakni perpaduan antara adab dan ilmu.

Qoryatul Qur'an
Sharing pendidikan diikuti asatiz PPTQ Qoryatul Qur'an 

Rasulullah memperbaiki akhlak. Akhlak adalah kebaikan yang keluar dari diri seseorang tanpa perlu dipikirkan terlebih dahulu, mengalir alami dari jiwanya. Berbeda dengan karakter, karakter merupakan sifat khas hasil pembiasaan, namun sering kali bersifat seperti topeng, menyesuaikan dengan peran yang sedang ditampilkan.

Sayangnya, model tersebut kini banyak dirusak oleh sekulerisme, yakni pandangan yang memisahkan nilai-nilai ketuhanan dari kehidupan, sehingga segala sesuatu diorientasikan semata-mata untuk dunia dan materi.

Banyak orang mempelajari agama hanya demi kepentingan dunia, bukan untuk meningkatkan kualitas diri hingga menjadi seorang mujahid. Orang yang menuntut ilmu semata-mata untuk tujuan duniawi sejatinya sedang merusak agamanya sendiri.

Rusaknya umat pada hakikatnya berawal dari rusaknya para ulama, yang bersumber dari rusaknya ilmu. Ketika ilmu tidak lagi dilandasi keikhlasan dan orientasi akhirat, maka menimbulkan penyakit yang paling merusak bernama al-wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati, yang secara perlahan melemahkan ruh perjuangan dan menggerus kemuliaan umat.

Dahulu penjajah Belanda tidak masuk ke kurikulum pesantren, sehingga santri tetap merdeka. Kini justru masuk sekulerisme dan industrialisme, yang menjadikan pendidikan hanya diarahkan agar lulusannya mudah mendapat pekerjaan.

Pendidikan harus dibedakan dari administrasi. Pendidikan berpegang pada kompetensi, misalnya akidah yang lurus dan ibadah yang benar. Ukurannya bukan sekadar apa yang dipelajari, tetapi apa yang benar-benar mampu dilakukan dan diamalkan.

Keberadaan AI akan menggantikan banyak jenis pekerjaan. Namun guru dan dai sebagai pendidik sejati tidak akan pernah tergantikan, karena tugas mereka menyentuh hati, membentuk akhlak, dan menanamkan nilai, hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin.

Ketika menuntut ilmu hanya untuk mencari pekerjaan, di situlah tugas kita menanamkan keyakinan bahwa orang yang berilmu telah dijamin rezekinya oleh Allah. Cara pandang terhadap ilmu adalah salah satu yang kini perlu diperbaiki.

Salah satu akar persoalan yang dihadapi saat ini adalah kelirunya pandangan tentang pendidikan terbaik. Banyak orang tua memaknai pendidikan terbaik sebatas menempuh pendidikan di universitas negeri yang dianggap mampu menjamin pekerjaan dan masa depan secara materi.

Cara pandang tersebut perlu dievaluasi secara serius apabila ingin melahirkan konsep pendidikan yang benar. Pendidikan sebagaimana dicontohkan Nabi berorientasi ukhrawi, membentuk keimanan, akhlak, dan kebermanfaatan, bukan semata-mata mengejar capaian duniawi.

Diskusi bersama Ustaz Dr. Adian Husaini berlangsung seru dan penuh makna. Banyak pemahaman baru yang beliau sampaikan sehingga membuka wawasan para asatiz. Semoga memberikan manfaat dan menjadi bekal dalam menguatkan arah pendidikan ke depan.

Posting Komentar untuk "Sharing Pendidikan Bersama Ustaz Dr. Adian Husaini: Meluruskan Arah dan Tujuan Pendidikan"