Silaturahmi dan Temu Wali Santri Kelas 9, MTsTQ Qoryatul Qur'an Laporkan Perkembangan Pendidikan Pesantren

PPTQ Qoryatul Qur'an menggelar acara silaturahmi dan temu wali santri kelas 9 MTsTQ Qoryatul Qur'an di Masjid Widad El Fayez komplek 06 Asemlegi, pada hari Sabtu, 31 Januari 2026.

Pertemuan ini bertepatan dengan hari perpulangan bulanan santri. Kedatangan wali santri untuk menghadiri undangan pertemuan, sekaligus menjemput putra-putrinya untuk perpulangan bulanan.

Tepat pukul 08.00 WIB, acara silaturahmi dan temu wali santri dimulai. Berkenan menjadi pembawa acara, Ustaz Salman Al Farisi, M.Pd. Beliau memulai dengan menyapa wali santri dengan sapaan penuh keakraban.

Suasana haru dan syukur menyelimuti pertemuan wali santri MTsTQ kelas 9. Dalam sambutannya, Ustaz Umar Ar-Rifa'i, S.Pd.I., membuka acara dengan sebuah refleksi terkait perjalanan waktu dan amanah pendidikan yang sedang dijalani bersama.

Ustaz Umar menekankan betapa pertemuan ini adalah takdir indah yang Allah gariskan. Ada rasa haru menyelinap saat menyadari bahwa santri-santri yang dulu datang sebagai anak kecil, kini sudah duduk di bangku kelas 9 atau 3 MTs. Tanpa terasa, masa studi mereka akan segera usai.

Ustad Umar
Ustaz Umar menyampaikan prestasi MTsTQ Qoryatul Qur'an 

Beliau menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para orang tua atas kepercayaan menitipkan putra-putrinya di QQ. Meski diakui perubahan baik sudah nampak nyata pada diri anak-anak, beliau dengan rendah hati mengingatkan bahwa proses ini belum mencapai titik sempurna.

"Anak-anak MTs kita sedang dalam masa transisi menuju kedewasaan. Mereka tumbuh, berkembang, namun tetap membutuhkan bimbingan kita semua," kata Ustaz Umar.

Beliau juga menjawab rasa penasaran wali santri mengenai pertemuan yang jaraknya cukup dekat dengan pertemuan sebelumnya. Beliau menjelaskan bahwa ada tanggung jawab moral yang besar sebelum masa kelulusan tiba.

Pertemuan ini adalah untuk duduk bersama demi perkembangan anak. Menyamakan persepsi antara rumah dan pesantren mengenai kemajuan santri.

Juga untuk mempererat silaturahmi, memastikan adanya kekompakan antara orang tua dan guru, karena pendidik dan wali murid harus menjadi satu tim yang solid. Menanamkan visi dan rasa memiliki. Agar orang tua merasa menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar QQ.

Sejak berdiri pada tahun 2020, MTs QQ terus berbenah. Ustaz Umar memaparkan perkembangan yang cukup signifikan, baik dari segi infrastruktur maupun kualitas pendidikan. Kabar membahagiakan pun disampaikan bahwa saat ini MTsTQ QQ telah meraih Akreditasi A.

Secara akademik, para santri menunjukkan progres yang positif. Begitu pula pada aspek tahfizh, yang tetap menjadi fokus utama pengembangan karakter dan spiritualitas anak didik di pesantren.

Ustaz Umar menyampaikan permohonan maaf atas undangan yang mungkin dirasa mendadak. Namun, semangat untuk memberikan yang terbaik bagi masa depan santri menjadi alasan utama mengapa pertemuan ini tak bisa ditunda.

Sarasehan bersama dipandu oleh Ustaz Faris Ahmad, Lc., M.Pd., sebagai acara inti, dibuka dengan perkenalan yang hangat. Beliau tidak hanya memperkenalkan dirinya, tetapi juga barisan ustaz yang menjadi murabbi bagi para santri.

Langkah ini menjadi momen penting untuk membangun kepercayaan antara orang tua dan para pendidik yang membimbing anak-anak mereka setiap harinya.

Dalam paparan singkatnya, Ustaz Faris menceritakan perjalanan luar biasa PPTQ Qoryatul Qur’an. Beliau menekankan bahwa kini Qoryatul Qur'an telah bertransformasi menjadi institusi pendidikan yang sangat lengkap.

Perkembangan QQ
Ustaz Faris Ahmad sampaikan perkembangan luar biasa PPTQ Qoryatul Qur'an 

Mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi, PPTQ Qoryatul Qur'an kini memiliki unit pendidikan TAUD, MI, MTs, MA, hingga Ma’had Aly (perguruan tinggi). Ini adalah komitmen pesantren dalam mengawal pendidikan santri di setiap fase usia.

Yang cukup membanggakan, syiar Al-Qur’an kini tersebar luas melalui sepuluh komplek pesantren yang berlokasi di hampir seluruh desa di Kecamatan Weru.

Suasana sarasehan semakin hidup saat layar menampilkan video dokumentasi drone. Para orang tua seolah diajak "terbang" melintasi batas-batas geografis untuk melihat langsung wajah pesantren dari ketinggian.

Satu per satu komplek dijelaskan secara mendetail oleh Ustadz Faris, mulai dari gedung tempat santri menghafal hingga fasilitas pendukung lainnya.

Melalui visual ini, para wali santri dapat menyaksikan bagaimana dukungan dan doa mereka telah mewujud menjadi fasilitas yang representatif dan nyaman bagi para penghafal Al-Qur’an.

Kemudian waktu diberikan kepada Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H., untuk memulai serasehan. Beliau melengkapi kepingan sejarah Qoryatul Qur’an yang penuh keajaiban. Siapa sangka, pesantren yang kini memiliki 10 komplek megah ini dulunya lahir di tahun 2011 hanya dari sebuah rumah kontrakan.

"Dulu, santri kita hanya 24 orang," kenang Ustaz Luthfi. Sebuah angka yang kontras jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, di mana lebih dari 1.000 santri menimba ilmu di bawah naungan QQ. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat dan keberkahan dakwah.

QQ
Ustaz Luthfi Zubaidi sampaikan tentang perjalanan panjang QQ

Ustaz Luthfi membagikan sebuah kisah menarik tentang almarhum Ustaz Aris Munandar. Di tahun 2013, hanya dua tahun setelah berdiri, QQ mengambil langkah berani dengan membuka pondok putri.

"Almarhum Ustaz Aris Munandar (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) sempat mengatakan bahwa QQ ini terlalu nekat. Saat kondisi belum benar-benar stabil, sudah berani membuka pondok putri," ujar beliau sembari tersenyum.

Namun, kenekatan tersebut didasari oleh niat luhur. Benar saja, Allah menurunkan pertolongan-Nya. Hambatan demi hambatan terurai, dan kemudahan demi kemudahan mengalir hingga QQ mampu berdiri kokoh seperti sekarang.

Perjalanan menuju kemandirian pun tidak instan. Bertahun-tahun QQ harus menginduk pada lembaga lain untuk urusan administratif. Namun, kesabaran dan kerja keras itu membuahkan hasil manis di tahun 2020.

Sejak tahun tersebut, Yayasan Qoryatul Qur’an Kauman resmi berdiri mandiri di atas kaki sendiri, siap melesat lebih jauh dalam mencetak generasi qur’ani yang unggul.

Mendengar penuturan ini, ruangan sarasehan seolah hening sejenak, diselimuti rasa takjub akan bagaimana Allah memelihara lembaga ini dari sebuah rumah kontrakan kecil hingga menyebar di Kecamatan Weru.

Suasana sarasehan menjadi semakin hidup dan hangat ketika Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H. melemparkan sebuah pertanyaan reflektif yang langsung menyentuh sanubari para orang tua: "Apa sebenarnya alasan Bapak dan Ibu memondokkan anaknya di Qoryatul Qur'an?"

Pertanyaan sederhana ini memicu beragam jawaban jujur dan mendalam dari para wali santri yang hadir. Ruangan pun dipenuhi dengan untaian harapan yang tulus.

Beberapa alasan yang muncul di antaranya adalah keunggulan tahfizh. Orang tua melihat kualitas hafalan di QQ sebagai magnet utama. Kemudian untuk mencetak dai dan daiah. Harapan agar putra-putri mereka kelak menjadi penyambung lidah dakwah di tengah masyarakat.

Alasan lainnya adalah kelengkapan unit. Kepercayaan orang tua tinggi karena QQ menyediakan jenjang pendidikan yang komprehensif dan berkelanjutan dari unit terkecil sampai Ma'had Aly.

Kemandirian dan wawasan, menjadi keinginan melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, serta memiliki wawasan keislaman yang luas.

MTsTQ QQ
Suasana pertemuan wali santri kelas 9 MTs

Tak kalah penting juga, adalah alasan mimpi mulia agar anak-anak mereka mampu memahkotai orang tuanya di surga kelak melalui hafalan Al-Qur'an yang sempurna.

Di antara sekian banyak jawaban, ada satu poin yang sangat dalam, yakni keinginan wali santri agar anak-anak mereka dididik menjadi generasi terbaik.

Harapan ini sejalan dengan komitmen Qoryatul Qur'an yang konsisten merujuk pada Surah Al-Maidah ayat 54. Sebuah visi untuk mencetak generasi yang memiliki karakter kuat.

Karakter itu adalah mencintai Allah dan dicintai oleh-Nya, lemah lembut terhadap sesama mukmin, namun memiliki izzah (wibawa) dan ketegasan dalam kebenaran, serta tidak takut terhadap celaan dalam berjuang di jalan Allah.

Interaksi ini mempertegas bahwa antara orang tua dan pesantren memiliki frekuensi yang sama. Bukan sekadar menitipkan anak sekolah, melainkan bersama-sama berinvestasi untuk akhirat dan masa depan umat.

Mendengar harapan besar dari para orang tua, Ustaz Luthfi Zubaidi, Lc., M.H. merespons dengan memaparkan berbagai langkah nyata dan strategis yang telah dilakukan pesantren.

Bahwa PPTQ Qoryatul Qur’an tidak berdiam diri. Berbagai upaya dilakukan untuk memastikan suksesi pendidikan anak berjalan di jalur terbaik.

Untuk meningkatkan kualitas santri dan asatizah, Qoryatul Qur'an menghadirkan tokoh-tokoh kaliber nasional hingga internasional melalui berbagai agenda bergengsi.

Di antaranya adalah dauroh internasional. Menimba ilmu langsung dari Masyayikh dari berbagai belahan bumi para Nabi. Yang belum lama ini adalah daurah bersama Syekh Dr. Muhammad Said Bakr.

Wawasan pemikiran juga ditingkatkan dengan menyelenggarakan stadium general bersama cendekiawan muslim terkemuka, Dr. Adian Husaini, M.Si., Ph.D, untuk memperkuat landasan pemikiran Islam.

Qoryatul Qur'an kini telah menjadi institusi rujukan dalam bidang tahfizh. Bukti nyata kualitas ini ditunjukkan melalui agenda Tasmi' 30 Juz Bil Ghoib (sekali duduk) yang sukses dilaksanakan.

Prestasi ini kian lengkap dengan keberhasilan PPTQ Qoryatul Qur'an meraih predikat Juara Umum dalam berbagai ajang perlombaan.

Pendidikan di Qoryatul Qur'an juga membentuk karakter dan skill. Melalui morning spirit dibentuk penguatan mental santri melalui apel pagi yang membangkitkan semangat sebelum memulai kelas.

Kepemimpinan dan ketangkasan di bawah asuhan Tim Leadership QQ, yang pernah dipercaya menjadi instruktur perkemahan di kaki Gunung Lawu, serta adanya satuan khusus Taruna Almaqdisi untuk melatih kedisiplinan tingkat tinggi.

Pengabdian masyarakat dan negara sebagai bentuk menunjukkan jiwa patriotisme dengan mengutus asatiz mengikuti Komcad (Komponen Cadangan) TNI dan menerjunkan relawan QQ hingga ke Pulau Sumatera.

Upgrade skill tim pendukung terus dilakukan. Tim QQ Media terus mengasah kemampuan fotografi dan videografi, sementara tim kesehatan dibekali pelatihan P3K yang mumpuni.

Upaya peningkatan kualitas yang dilakukan secara terus-menerus kini mulai membuahkan hasil yang membanggakan. Qoryatul Qur’an bukan lagi sekadar pesantren lokal, melainkan telah bertransformasi menjadi tempat bagi para pencari ilmu dan praktisi pendidikan.

Salah satu indikator kemajuan Qoryatul Qur'an adalah kepercayaan dunia internasional dan tokoh nasional. Kini, komplek-komplek Qoryatul Qur'an sering dihadiri oleh para syekh dari Timur Tengah, ulama-ulama kharismatik, serta tokoh-tokoh inspiratif lainnya.

Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan formalitas, melainkan untuk memberikan ijazah keilmuan, motivasi, serta memperkuat sanad hafalan para santri.

Tidak hanya unggul dalam aspek pendidikan santri, Qoryatul Qur’an kini juga menjadi destinasi studi banding bagi berbagai lembaga pendidikan dan pondok pesantren lainnya.

Banyak institusi yang datang berkunjung untuk belajar mengenai manajemen pengelolaan pesantren yang diterapkan di Qoryatul Qur'an mulai dari tata kelola asrama, hingga sistem pengajaran tahfizh yang efektif.

Kenyataan ini adalah bukti nyata bahwa sistem yang dibangun PPTQ Qoryatul Qur'an selama bertahun-tahun telah diakui kualitas dan kredibilitasnya oleh publik.

Sebagai pamungkas sarasehan, Ustaz Sujud hadir memberikan perspektif yang sangat personal dan menyentuh kenyataan sosial saat ini. Jika sebelumnya audiens diajak melihat pencapaian institusi, Ustaz Sujud mengajak para orang tua masuk ke dalam ruang renungan tentang keselamatan masa depan anak.

Ustaz Sujud
Ustaz Sujud ceritakan tantangan sekolah di luar pesantren 

Dengan penuh kejujuran, beliau berbagi kisah masa lalunya yang menempuh pendidikan di sekolah umum. Beliau menggambarkan betapa kontrasnya lingkungan tersebut bagi pembentukan karakter seorang remaja.

"Saat sekolah di luar dulu, saya merasakan betul betapa sulitnya mencari pegangan hidup. Tidak ada yang benar-benar menenangkan dan mengarahkan ke mana hidup ini harus menuju," kenang beliau.

Beliau tidak menutupi fakta "mengerikan" yang sering ditemui di lingkungan luar yang tidak terkontrol. Beliau mengingatkan para orang tua tentang ancaman nyata seperti narkoba, minuman keras, hingga pergaulan bebas yang bisa merusak masa depan dalam sekejap.

Ustaz Sujud menekankan bahwa usia SMP dan SMA adalah masa-masa kritis di mana ego remaja sedang memuncak, masa pemberontak. "Jika putra-putri Bapak dan Ibu benar-benar mengaji, maka hadiah terbesarnya adalah mereka akan membanggakan orang tua, bukan menyusahkan," tegasnya.

Menutup sesinya, beliau meyakinkan para wali santri bahwa menitipkan anak di pesantren adalah keputusan yang sangat indah. Di saat banyak orang tua di luar sana merasa cemas dan kesulitan mengontrol kehidupan anak remajanya.

Di pesantren, kehidupan anak-anak lebih terjamin mulai dari lingkungan pertemanan, bimbingan ibadah, hingga arah hidup yang jelas sesuai tuntunan Al-Qur'an. Ini adalah investasi ketenangan lahir dan batin bagi orang tua di dunia dan akhirat.

Di tengah khidmatnya diskusi sarasehan, suasana seketika berubah menjadi syahdu saat dua santriwati kelas 2 MA, Yosi Rahmawati dan Salwa Luthfiyah Azah, melangkah maju untuk penampilan puisi yang memukau.

Puisi "Ilmu Bukan Dunia" dengan bait demi bait yang seolah menjadi pengingat bagi seluruh hadirin tentang hakikat menuntut ilmu di pesantren. Suara yang jernih dan penuh penjiwaan menggema di ruangan.

Penampilan ini menegaskan bahwa ilmu yang sedang dikejar putra-putri di Qoryatul Qur’an bukan sebagai alat mencari kemewahan duniawi, tapi sebagai lentera untuk menerangi jalan menuju rida Allah.

Puisi
Pembacaan puisi

Penampilan Yosi dan Salwa seolah berbicara kepada para orang tua: "Jangan khawatir Ayah, Ibu... di sini kami tidak hanya mengejar angka, kami sedang menanam cahaya di dalam dada."

Momen ini berhasil mengundang tetesan air mata haru dari beberapa wali santri, menyadari bahwa anak-anak mereka kini telah tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kedalaman rasa dan pemahaman spiritual yang tinggi.

Reporter: Ustaz Salman Al Hawari

Posting Komentar untuk "Silaturahmi dan Temu Wali Santri Kelas 9, MTsTQ Qoryatul Qur'an Laporkan Perkembangan Pendidikan Pesantren"