Saat ini kita dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan dalam mengaplikasikan peran sebagai ustaz dan ustazah, terutama di tengah berbagai bentuk permusuhan, tekanan, dan upaya yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak senang kepada umat Islam.
Salah satu tantangan besar yang dihadapi umat Islam saat ini adalah upaya melemahkan Islam dari dalam, terutama dengan menjadikan generasi muda sebagai sasaran utama. Calon-calon pemimpin masa depan digembosi melalui berbagai pemikiran sekuler.
![]() |
| Kuliah umum bersama Ustaz Andri Kurniawan |
Mereka berupaya memisahkan agama dari kehidupan, di antaranya melalui pendidikan sekuler yang menempatkan agama hanya sebagai urusan pribadi dan tidak relevan dalam mengatur kehidupan. Akibatnya, nilai-nilai Islam semakin dijauhkan dari berbagai aspek kehidupan.
Untuk itulah, peran pendidikan, dakwah, dan pembinaan generasi menjadi sangat penting untuk melahirkan pribadi-pribadi muslim yang berilmu, beriman, dan mampu menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam, serangan terhadap generasi dan keluarga muslim berlangsung secara masif melalui berbagai bentuk yang sering kali tidak disadari.
Anak-anak disibukkan dengan game online hingga melalaikan belajar dan ibadah, para pemuda terjerat judi online yang merusak akhlak dan masa depan, sementara sebagian orang tua terhimpit pinjaman online yang menimbulkan masalah ekonomi dan ketenangan keluarga.
Upaya melemahkan umat tidak selalu datang dalam bentuk permusuhan yang tampak, tetapi juga melalui berbagai aktivitas dan kebiasaan yang menjauhkan manusia dari nilai-nilai agama, menguras waktu, harta, dan potensi yang seharusnya digunakan untuk kebaikan.
Oleh karena itu, diperlukan peran pendidikan, dakwah, dan pembinaan yang kuat agar keluarga muslim mampu menjaga diri serta membangun generasi yang beriman, berilmu, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa tidak sedikit generasi muda yang mulai menjauh dari masjid dan lebih banyak menghabiskan waktunya di dunia digital atau aktivitas lain yang kurang bermanfaat. Karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk mengajak mereka kembali mencintai masjid.
Sejumlah takmir masjid berinovasi dengan menyediakan fasilitas seperti akses wifi, kopi, dan ruang yang nyaman agar para pemuda tertarik datang ke masjid. Menjadi sarana menumbuhkan kedekatan mereka dengan masjid, memakmurkan salat berjamaah, dan mengikuti kajian.
Belum lagi serangan pornografi yang menyebar secara masif melalui berbagai media digital. Dampaknya sangat merusak, terutama bagi generasi muda, karena dapat melemahkan iman, merusak akhlak, dan mengganggu fokus mereka dalam menuntut ilmu serta beribadah.
Bagi para ibu, doa untuk anak merupakan senjata yang sangat penting dan tidak boleh ditinggalkan. Di tengah berbagai tantangan dan fitnah zaman, doa menjadi ikhtiar yang senantiasa mengiringi pendidikan dan pengasuhan, memohon agar Allah menjaga anak-anak sebagai generasi yang saleh, berilmu, dan teguh di atas jalan-Nya.
Sebagai seorang muslim, kita meyakini bahwa Islam adalah jalan yang diridai Allah dan menjadi pedoman keselamatan bagi manusia. Karena itu, seorang muslim dituntut untuk berpegang teguh pada ajaran Islam, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta meyakini bahwa kebenaran hakiki berasal dari petunjuk Allah yang diturunkan melalui agama-Nya.
Pendidikan Islam seharusnya terinspirasi dari Surat Al-Baqarah ayat 129, yaitu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam keimanan dan akhlak.
Empat pilar pendidikan Islam: membacakan ayat-ayat Allah (tarbiyah iman), mengajarkan Al-Kitab (ilmu), mengajarkan hikmah (kebijaksanaan dalam mengamalkan ilmu), dan menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs).
Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam bukan sekadar mencetak manusia yang sukses di dunia, tetapi membentuk pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu menjalankan perannya sebagai hamba Allah serta pemimpin di tengah masyarakat.
Pendidikan Islam hendaknya bervisi mencetak kader pemimpin umat yang saleh, hafal Al-Qur'an, berakhlak mulia, berjiwa pejuang, mampu mengembangkan potensi diri, memiliki mental kepemimpinan, serta didukung fisik yang sehat dan tangguh sehingga siap melanjutkan estafet perjuangan Islam di masa depan.
Mari kita ikhtiarkan lahirnya generasi muda rabbani yang berjuang dengan ikhlas karena Allah, dibina menjadi kader-kader tangguh yang mengutamakan kualitas daripada sekadar kuantitas.
Mereka perlu didekatkan dengan masjid, ditanamkan kecintaan kepada Al-Qur'an, serta dibimbing agar memiliki ilmu, akhlak, dan semangat perjuangan untuk menjadi penerus umat di masa depan.
Dengan demikian, diharapkan lahir generasi sebagaimana digambarkan dalam Surah Al-Maidah ayat 54: dicintai Allah dan mencintai-Nya, bersikap lembut kepada sesama mukmin, tegas terhadap kebatilan, serta berjihad di jalan Allah tanpa takut terhadap celaan manusia.
Bangunlah fondasi tauhid yang kokoh dengan mengenalkan tauhid rububiyah, uluhiyah, serta asma wa sifat sejak dini. Tanamkan sikap menjauhi segala bentuk syirik, mengimani rukun iman dengan benar, serta membangun loyalitas kepada keimanan dan nilai-nilai Islam (wala') serta berlepas diri dari kekufuran dan kemaksiatan (bara').
Didik generasi agar mampu membedakan yang hak dan yang batil, berpegang teguh pada kebenaran tanpa kompromi terhadap kebatilan, namun tetap menampilkan akhlak yang mulia. Keteguhan dalam prinsip harus berjalan seiring dengan sikap tawaduk, sehingga mereka tidak menjadi pribadi yang sombong.
Cintailah mengingat kematian, sang pemutus segala kenikmatan dunia. Zikrul maut akan mendorong seseorang untuk segera bertobat, rida terhadap ketetapan Allah, dan tidak banyak berkeluh kesah. Dengan sering mengingat kematian, semoga Allah menganugerahkan kepada kita husnul khatimah.
Kuliah Umum PPTQ Qoryatul Qur’an bersama Ustaz Ir. H. Andri Kurniawan, M.Ag. (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Malang), pada Sabtu, 8 Agustus 2026, pukul 13.30–15.30 WIB di Gedung MITQ Qoryatul Qur’an.

Posting Komentar untuk "Ustaz Andri Kurniawan: Peran Ustaz dalam Membentuk Karakter Santri yang Tangguh dan Siap Berjuang"