PPTQ Qoryatul Qur’an terima kunjungan silaturahmi dari Ponpes Darul Huffadz Muhammadiyah Boyolali dan Ponpes Darul Arqom Kemasan Polokarto, pada Sabtu, 14 Februari 2026.
Tamu tiba pada pukul 09.30 WIB dan diterima di Komplek 06 Asemlegi. Majelis bersama digelar di meeting room lantai dua. Hadir menyambut tamu, Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur'an beserta jajarannya.
![]() |
| Qoryatul Qur'an menerima kedatangan tamu dari Ponpes Darul Huffadz dan Darul Arqom |
Majelis dipandu oleh Ustaz Bambang Wahyudi, S.E. yang bertindak sebagai MC. Setelah membuka pertemuan, beliau mempersilakan kepada perwakilan kedua lembaga untuk menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan.
Mudir Ponpes Darul Huffadz Muhammadiyah Boyolali, Ustaz Amar Ma'ruf, S.Pd.I., menyampaikan bahwa tujuan kedatangan ke PPTQ Qoryatul Qur'an adalah untuk studi tiru, berharap bimbingan untuk Darul Huffadz yang baru berdiri pada tahun 2022.
![]() |
| Mudir Darul Huffadz Ustaz Amar Ma'ruf, S.Pd.I. |
Dilanjutkan dengan penyampaian maksud dan tujuan dari Ponpes Darul Arqom Polokarto. Mudir Darul Arqom, Ustaz Ahmad Khoirudin, mengatakan bahwa Darul Arqom didirikan di tingkat ranting Muhammadiyah, tapi tetap ingin bisa terus berkembang, maka datang ke PPTQ Qoryatul Qur'an untuk menimba ilmu pengasuhan santri.
![]() |
| Mudir Darul Arqom Ustaz Ahmad Khoirudin |
Selanjutnya, dilaksanakan perkenalan singkat oleh kedua mudir, mengenalkan asatizah yang diajak serta dalam kunjungan silaturahmi ini. Sebagian besar memang ustazah karena pondok yang didirikan baru untuk santri putri.
Tanggapan langsung oleh Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur'an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I. Beliau telah memahami maksud tujuan kedua lembaga berkunjung ke pesantren ini dan berharap apa yang bisa disampaikan akan bermanfaat bagi hadirin.
Ustaz Setyadi juga mengenalkan jajaran direktorat yang turut menemui para tamu pagi hari ini. Selain direktorat, juga ada beberapa Ummahat Qoryatul Qur'an dan tim media yang hadir pada majelis hari ini.
Setelah itu, Ustaz Setyadi memulai penyampaian dengan mengajak hadirin melihat realita hasil dari pendidikan kita di Indonesia. Menurut beliau, pendidikan sekarang hanya sekadar menyampaikan ilmu tanpa memasukkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Maka, di Qoryatul Qur'an ini pendidikan fokus pada pendidikan adab. Mentransfer nilai-nilai. Menghafal Al-Qur'an bukanlah tujuan, tapi sarana dalam menggapai tujuan. Menghafal adalah sarana untuk kita mudah membaca, mempelajari, dan mendakwahkan Al-Qur'an.
Ustaz Setyadi kemudian menyampaikan bahwa prinsip pendidikan sukses itu adalah mengikuti pendidikan yang dipakai untuk mendidik generasi terbaik. Pendidikan itu adalah pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., dalam mendidik generasi terbaik: para sahabat.
Tujuan pendidikan saat ini adalah untuk bekerja. Padahal seharusnya adalah untuk menjadikan insan beriman bertakwa. Menjadi generasi penyejuk mata. Generasi yang memimpin orang-orang yang beriman. Visi yang sama dengan orang tua mendidik anak.
![]() |
| Ustaz Setyadi menyampaikan tentang pendidikan yang seharusnya |
Ustaz Setyadi mengajak merenung. Ustaz-Ustazah di pondok pesantren itu sekadar tinggal bersama santri ataukah hidup bersama dengan para santrinya? Apakah ia hanya hidup dengan diri sendiri ataukah mendampingi para santri?
Pesantren itu harusnya fokus pada pendidikan, bukan fokus pada administrasi pendidikan. Seringkali kesibukan pasa administrasi itu sehingga mengabaikan tujuan utama dalam pendidikannya.
Anak dan santri kedudukannya sama. Di rumah, orang tuanya adalah ayah dan bundanya. Di pesantren, orang tuanya adalah ustaz dan ustazah. Keduanya memiliki peran sama yaitu mendidik. Harapannya juga sama dalam mendidik anak.
Tujuan pendidikan Islam adalah menjadikan anak saleh yang menjadi buah hati dan penenang jiwa. Sebagaimana yang termaktub dalam Qur'an Surat Al-Furqan ayat 74-76. Menjadi anak saleh perhiasan dunia, seperti pada Surat Al-Kahfi ayat 46.
Permasalahan mendidik santri tidak selamanya diselesaikan dengan teknis semata. Kadang masalah muncul karena ustaz-ustazah jauh dari sifat wara'. Tidak memperhatikan hal syubhat, seperti halal dan haram pada makanan yang dikonsumsi.
Ustaz Setyadi mengajak berhati-hati, bahwa pendidikan sekuler yang ada saat ini adalah pemisahan ilmu agama dan ilmu umum (sains). Ada urusan Tuhan dan ada urusan manusia. Kebutuhan primer sekaligus ukuran sukses manusia adalah bersifat material bukan spiritual ibadah. Orientasi kepada dunia bukan akhirat.
![]() |
| Tamu sebagian besar ustazah karena memang pondok putri |
Pendidikan ideal seharusnya adalah mencontoh pendidikan generasi terbaik. Imam Malik, ulama besar abad 2 H, mengatakan bahwa generasi ini tidak akan bisa baik kecuali dengan cara yang pernah dipakai untuk memperbaiki generasi awal.
Pendidikan harusnya mengikuti prinsip Rasulullah sebagai teladan. Berarti kata kunci kesuksesannya adalah menyelenggarakan pendidikan ala Nabi, atau ittiba pada Nabi, dalam mendidik generasi sahabat.
Ustaz Setyadi kemudian menyampaikan dasar manajemen di PPTQ Qoryatul Qur’an. Beliau awali dengan menekankan pentingnya memulai pendirian sebuah lembaga pendidikan dengan landasan yang benar. Banyak pihak kebingungan setelah telanjur membuat bangunan fisik lembaga, tapi belum memiliki arah yang jelas.
Basic management di QQ berakar pada visi dengan pendekatan “filosofi memasak”. Kita harus tahu dulu apa yang akan dimasak sebelum membeli bahan dan alat-alatnya. Prinsipnya adalah start from the end, memulai dari tujuan akhir. Target dari proses ini adalah lahirnya kader ulama yang amilin fisabilillah.
Setelah tujuan ditentukan, baru kemudian ditetapkan siapa “tukang masaknya” (guru dan SDM), “resep masaknya” (kurikulum dan program), “alat masaknya” (sarana-prasarana), dan “dapur masaknya” (lembaga itu sendiri). Lebih lanjut, beliau memaparkan skema kaderisasi di Qoryatul Qur’an, meliputi tujuan final, tujuan strategis, dan operasional.
Untuk memulai sebuah langkah, dibutuhkan keberanian nekat layaknya semangat bonek. Semboyannya jelas: “Cobalah meski engkau tahu itu akan gagal. Tanam meskipun nanti akan kiamat.” Semangat berani memulai ini penting, sebab terlalu banyak pertimbangan justru membuat kita enggan bergerak.
Kegagalan yang sesungguhnya bukanlah ketika gagal setelah mencoba, melainkan ketika tidak berani mencoba sama sekali. Karena itu, mulailah dari apa yang ada, dari hal kecil, dari diri sendiri, dan lakukan sekarang juga.
Setelah itu, kunci berikutnya adalah membangun kerja sama tim. Meski latar belakang setiap anggota berbeda, semua harus memiliki tujuan yang sama. Bekerja sama itu berbeda dengan sekadar bekerja bersama; ada pembagian tugas yang jelas dan posisi SDM yang tepat. Dalam tim, setiap orang dituntut peka, tidak egois, dan tidak hanya mengandalkan orang lain. Fokuslah pada kesamaan, bukan perbedaan.
Di sisi lain, integritas dan pola pikir unggul harus ditanamkan. Bukan sekadar profesional, tapi bekerja dengan standar lebih tinggi, melampaui ekspektasi. Mentalitas pejuang sangat dibutuhkan: pantang menyerah sampai tujuan tercapai. Tidak ada yang hanya berfokus pada satu bidang; double job menjadi keniscayaan.
Puncak dari manajemen adalah manajemen Islami, atau celestial management (manajemen langit). Di dalamnya, niat harus lurus (ikhlas), tujuan benar (rida Allah Swt.), dan cara tepat (meneladani Rasulullah Saw.).
Keberkahan harus diutamakan, demikian pula adab dan sikap wara. Menjauhi maksiat, baik terang-terangan maupun tersembunyi, adalah prinsip utama. Sebab tidak semua persoalan bisa diselesaikan dengan teknis semata; doa adalah bentuk ikhtiar terbaik.
Dengan pandangan hidup Islami (Islamic worldview), prinsipnya sederhana: kerjakan yang dianggap baik oleh Islam, tinggalkan yang dianggap buruk.
Pemaparan panjang lebar dari Ustaz Setyadi berakhir ketika sudah memasuki waktu zuhur. Semoga dengan sharing ini, semua yang terlibat dalam pendidikan di Ponpes Darul Huffadz dan Darul Arqom mampu membenarkan cara pandang dalam mendidik santri menjadi generasi terbaik.





Posting Komentar untuk "PPTQ Qoryatul Qur’an Terima Kunjungan Silaturahmi dari Ponpes Darul Huffadz Muhammadiyah Boyolali dan Ponpes Darul Arqom Kemasan Polokarto"