Merintis Pesantren Berbasis Teknologi, PPTQ Qoryatul Qur’an Diskusi Bersama Ustaz Junaedy Alfan di Kampung IT Solo

Selasa, 28 April 2026, rombongan PPTQ Qoryatul Qur’an melaksanakan kunjungan edukatif ke Kampung IT Solo. Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB ini menjadi langkah strategis dalam mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan pesantren.

Rombongan yang hadir terdiri dari Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, S.Sos., M.P.I. beserta jajaran, Tim Guru Robotik ISTECH MTsTQ Qoryatul Qur’an, serta segenap santri ISTECH MTsTQ Qoryatul Qur’an. Kehadiran mereka disambut hangat oleh pihak Kampung IT Solo.

Ketika santri berkeliling melihat-lihat ruangan Elfan AI Academy, para asatiz bermajelis di Ruang Meeting Madinah Land. Ustaz Faris Ahmad, Lc., M.Pd. dari Tim Pusaka PPTQ Qoryatul Qur’an pada kesempatan sambutan, menyampaikan perkenalan diri serta memperkenalkan seluruh asatiz yang hadir.

Beliau juga menyampaikan maksud dan tujuan kunjungan ini, yaitu untuk mempelajari sistem pembelajaran teknologi informasi yang dapat selaras dengan nilai-nilai pesantren. Agar santri selain unggul dalam ilmu agama, juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Kampung IT Solo
Majelis asatiz bersama tim Kampung IT Solo 

Berharap unit baru ISTECH MTsTQ Qoryatul Qur’an bisa mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi kekinian. Menambah wawasan tentang bagaimana memulai program IT yang terarah, aplikatif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Ustaz Faris juga menyampaikan harapan kemungkinan penjajakan kerja sama antara PPTQ Qoryatul Qur’an dengan Kampung IT Solo. Kolaborasi yang dapat menjadi pintu pembuka bagi pengembangan program teknologi yang lebih luas dan berkelanjutan di pesantren.

Melalui kegiatan ini, diharapkan PPTQ Qoryatul Qur’an semakin termotivasi untuk menguasai teknologi sebagai bagian dari bekal dakwah di era digital, tanpa meninggalkan jati diri sebagai penuntut ilmu Al-Qur’an.

Selanjutnya, Ustaz Junaedy Alfan, selaku pendiri Kampung IT Solo sekaligus inisiator IDBC (Islamic Digital Boarding College) Solo membagikan perjalanan panjangnya sebagai peneliti dan praktisi pendidikan berbasis adab dan teknologi.

Beliau mengisahkan bahwa ketertarikannya terhadap dunia teknologi sudah muncul sejak masa mondok di Pondok Pesantren Ngruki pada tahun 1992.

Saat itu, di tengah keterbatasan fasilitas pesantren yang belum memiliki komputer, beliau justru telah memiliki komputer pribadi. Rasa ingin tahu yang besar (kepo) menjadi kunci utama dalam proses belajarnya.

“Cara belajar saya sederhana, miliki dulu barangnya, lalu saya oprek,” ungkap beliau. Setiap ada teknologi baru, beliau berusaha untuk memilikinya, mempelajarinya, dan memahami bagaimana teknologi tersebut bisa diciptakan.

Pola belajar mandiri inilah yang kemudian mengantarkannya mendirikan Kampung IT Solo pada tahun 2014. Beliau menyoroti fenomena sebagian pesantren yang masih memiliki kekhawatiran terhadap teknologi karena dianggap lebih banyak membawa mudharat.

Dari sinilah muncul gagasan untuk mengonsep teknologi yang Islami. Teknologi yang tidak hanya canggih, tetapi juga terarah dan bernilai. Sudah seharusnya, teknologi tidak berbenturan dengan agama.

Beliau memberi contoh di Florida pada tahun 2014. Di sana, mereka membangun infrastruktur literasi digital melalui konsep bookless library, yaitu perpustakaan tanpa buku fisik yang mengandalkan koleksi digital seperti e-book, dokumen, dan arsip yang dapat diakses secara daring.

Ustaz Junaedy Alfan
Ustaz Junaedy Alfan menjelaskan tentang pengalaman bermain teknologi 

Konsep ini kemudian diadaptasi di Kampung IT Solo melalui sistem Elfan Bookless Library System, sebuah perpustakaan digital yang memungkinkan masyarakat mengakses buku dari rumah masing-masing melalui perangkat digital.

Menariknya, seluruh koleksi telah melalui proses seleksi sehingga aman dan layak dikonsumsi oleh pengguna. Itulah pentingnya kaum muslimin memegang peranan dalam pengembangan teknologi.

Beliau juga mengkritisi kondisi perpustakaan di Indonesia yang seringkali ditempatkan di sudut-sudut yang kurang strategis, sehingga terkesan tidak menjadi prioritas. Berbeda dengan negara maju yang justru menempatkan perpustakaan di pusat aktivitas masyarakat.

Ustaz Junaedy Alfan menegaskan bahwa perpustakaan merupakan kunci dan fondasi utama dalam membangun peradaban. Dari sinilah lahir generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu dan adab.

Di Jerman, SD empat tahun, guru tidak boleh ganti, mengikuti muridnya. Agar bisa memonitoring potensi anak didik. Yang kuat di akademik jadi peneliti, dan yang punya skill apapun agar bisa jadi profesional.

Anak perlu difasilitasi agar bisa bereksplorasi. Anak yang tinggal di laut tak perlu diajari berenang maka dia akan bisa berenang karena fasilitas untuk membuatnya bisa berenang itu ada.

Ustaz Junaedy Alfan mengenalkan tengang Al Wustho Technologies di Kampung IT Solo merupakan pusat sistem yang menjadi “otak” dari seluruh ekosistem teknologi yang dibangun, di mana jaringan internet, aplikasi pembelajaran, hingga kontrol akses digital terintegrasi dalam satu sistem yang terarah.

Melalui konsep ini, Kampung IT Solo tidak hanya menghadirkan pembelajaran IT seperti programming dan multimedia, tetapi juga memastikan setiap penggunaan teknologi tetap berada dalam koridor adab Islam.

Dengan adanya perpustakaan digital, laboratorium bahasa, serta sistem filtering internet yang membatasi konten negatif, sehingga teknologi tidak dibiarkan bebas tanpa arah, melainkan menjadi sarana pembelajaran, dakwah, dan pembentukan karakter santri yang produktif dan bertanggung jawab.

Memasuki sesi diskusi dan tanya jawab, Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an, Ustaz Setyadi Prihatno, menyampaikan sejumlah pertanyaan, sekaligus harapan besar terhadap pengembangan pendidikan berbasis teknologi di pesantren.

Beliau mengungkapkan keinginan agar PPTQ Qoryatul Qur’an dapat menjalin kolaborasi dengan Kampung IT Solo dalam rangka mengembangkan sistem pendidikan pesantren yang mampu mengakomodasi kemajuan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Beliau juga ingin menggali lebih dalam pengalaman Ustaz Junaedy Alfan terkait proses awal belajar teknologi informasi. Pertanyaan ini menjadi penting sebagai inspirasi bagi pesantren dalam merancang pola pembelajaran IT yang efektif dan aplikatif.

Termasuk langkah-langkah strategis apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan pesantren berbasis teknologi, sehingga penguatan kurikulum yang selaras antara ilmu agama dan teknologi. Juga gambaran investasi yang dibutuhkan untuk membangun pesantren IT.

Menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan, Ustaz Junaedy Alfan memberikan pemaparan yang harapannya bisa membuka perspektif baru tentang integrasi teknologi dan pendidikan. Beliau mengawali dengan kisah yang membentuk pola pikirnya.

Ketertarikan beliau terhadap teknologi terpantik saat membaca sebuah buku yang pada bagian prolognya menjelaskan bahwa untuk memindahkan gunung dibutuhkan alat berat, dan alat tersebut tercipta dari hasil pemikiran manusia. Dari situlah muncul keyakinan bahwa kekuatan berpikir manusia mampu melahirkan perubahan besar.

Pengalaman saat bekerja di Telkom Indonesia semakin memperkuat rasa penasarannya terhadap teknologi. Beliau terus mencari tahu perkembangan terbaru, mempelajarinya secara mandiri, dan mengoprek berbagai perangkat agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.

Sebagai seorang santri, beliau kemudian berpikir lebih jauh: bagaimana teknologi bisa diintegrasikan dengan pendidikan dan dakwah. Gagasan inilah yang melatarbelakangi berdirinya Islamic Digital Boarding College (IDBC) Solo, sebagai upaya menghadirkan model pendidikan yang menggabungkan nilai keislaman dengan kemajuan digital.

Ustaz Junaedy Alfan juga menyinggung tentang pentingnya konsep dalam membangun peradaban. Beliau mencontohkan Jepang yang mampu bangkit karena memiliki konsep pembangunan manusia yang kuat dan terarah.

Beliau kemudian membandingkan sistem pendidikan di Indonesia dengan Jepang. Di Indonesia, pendidikan dari tingkat TK hingga SMA masih didominasi oleh aktivitas belajar dan ujian. Sementara pada jenjang perguruan tinggi, barulah mulai ditambahkan aspek pengelolaan diri, pengembangan potensi, perencanaan karier, serta penguatan core skill.

Adapun di Jepang, pendidikan dirancang secara bertahap dan terstruktur. Mulai dari TK yang fokus pada pengembangan diri, SD untuk eksplorasi lingkungan, SMP dalam menemukan dan mengembangkan bakat, SMA untuk merancang masa depan, hingga perguruan tinggi yang berfokus pada pematangan kompetensi inti.

Bahkan, terdapat konsep universitas lansia sebagai sarana untuk terus meningkatkan kompetensi dan tetap produktif di usia lanjut, sehingga dapat berkontribusi bagi masyarakat sebagai relawan.

Ini menjadi gambaran bahwa membangun pesantren berbasis teknologi tidak cukup hanya dengan menghadirkan perangkat, tetapi harus diawali dengan konsep pendidikan yang kuat, terarah, dan berorientasi pada pembangunan manusia seutuhnya.

Ustaz Junaedy Alfan memberikan penekanan yang sangat kuat terkait langkah awal merintis pesantren berbasis teknologi. Beliau menegaskan bahwa kunci utamanya bukan pada alat atau fasilitas, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia.

“Yang pertama disiapkan itu SDM, SDM, SDM, SDM, dan SDM,” tegas beliau. Artinya, fokus utama harus pada pembinaan individu yang siap belajar, beradaptasi, dan mengembangkan teknologi secara produktif.

Terkait gambaran investasi, beliau menyampaikan bahwa untuk membentuk satu SDM yang memiliki kompetensi teknologi, dibutuhkan waktu sekitar enam bulan pembelajaran intensif dengan estimasi biaya sebesar Rp31.950.000.

Durasi ini dinilai jauh lebih singkat dibandingkan jalur pendidikan formal pada umumnya, namun dengan pendekatan yang lebih terarah dan praktis. Minimal harus disiapkan dua SDM sebagai pionir awal, sebagai penggerak dan pengembang program di lingkungan pesantren.

Sebagai kunci keberhasilan, beliau merumuskan konsep “3M”, yaitu Minat dan niat, Manut (patuh pada arahan dan proses), serta Mandiri dalam belajar dan mengembangkan diri.

Dengan kombinasi ini, diharapkan lahir generasi santri yang tidak hanya mampu menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat dan siap berdakwah di era digital.

Pemaparan ini semakin menegaskan bahwa transformasi menuju pesantren berbasis teknologi harus dimulai dari pembangunan manusia yang unggul, sebelum kemudian diperkuat dengan sistem dan infrastruktur yang memadai.

Foto bersama
Foto bersama setelah majelis diakhiri

Akhirnya, diharapkan dengan adanya kunjungan ini bisa untuk membangun sinergi antara dunia pesantren dan teknologi, dengan menempatkan kualitas SDM sebagai fondasi utama. Menyiapkan generasi muslim yang cakap menghadapi tantangan zaman melalui penguasaan teknologi yang bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Merintis Pesantren Berbasis Teknologi, PPTQ Qoryatul Qur’an Diskusi Bersama Ustaz Junaedy Alfan di Kampung IT Solo"