Tim Litbang PPTQ Qoryatul Qur’an Berbincang Eksklusif dengan Dr. Adian Husaini, Soroti Arah Pendidikan Indonesia

Keresahan terhadap arah pendidikan di Indonesia menjadi salah satu pokok pembicaraan dalam perbincangan eksklusif Tim Litbang PPTQ Qoryatul Qur’an bersama Dr. Adian Husaini dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat.

Pertemuan tersebut berlangsung di Frangipani Coffee and Space, Laweyan, Kota Surakarta, Senin, 28 September 2026, sekitar pukul 10.30 WIB. Berbincang berbagai kegelisahan sekaligus gagasan mengenai masa depan pendidikan, kaderisasi, dan pembinaan generasi Muslim di Indonesia.

Dr. Adian Husaini menyadari sekali bahwa pendidikan sebagai persoalan strategis karena dari sanalah kualitas generasi dan arah kehidupan umat pada masa mendatang sangat ditentukan.

Salah satu keresahan yang muncul adalah bagaimana lembaga pendidikan dapat membentuk generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki fondasi keislaman untuk kaderisasi umat.

Dr. Adian Husaini
Dr. Adian Husaini berbincang dengan Direktur Umum PPTQ Qoryatul Qur’an dan bagian litbang pesantren 

Dr. Adian Husaini menekankan perlunya sistem pendidikan yang mampu memberi pendampingan anak sejak jenjang sekolah hingga perguruan tinggi, bahkan sampai pendidikan lanjutan dan dunia profesional.

Gagasan tersebut kemudian mengarah pada pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan. Sekolah menengah, perguruan tinggi, pendidikan magister dan doktoral, dunia profesi, hingga pembinaan alumni perlu dipandang sebagai bagian dari satu rangkaian kaderisasi.

Keresahan terhadap pendidikan juga muncul dari kebutuhan untuk membangun model pembelajaran yang lebih serius dan sesuai dengan kebutuhan umat. Karena masyarakat butuh model yang bisa dilihat.

Dalam dialog itu dibicarakan kemungkinan pengembangan kurikulum dan pola pendidikan yang tidak hanya mengikuti rutinitas administratif, tetapi benar-benar memperhatikan kualitas peserta didik.

Kualitas pengajar juga menjadi salah satu perhatian penting. Dr. Adian Husaini menilai keberadaan guru dan dosen dengan kapasitas keilmuan yang kuat sangat menentukan kualitas pendidikan.

Karena itu, pengembangan sumber daya manusia pendidikan perlu dilakukan secara serius, termasuk membuka ruang bagi keterlibatan para akademisi, pakar, dan profesional yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing.

Dalam perbincangan tersebut muncul gambaran tentang pentingnya menghadirkan ulama yang sekaligus dokter, akademisi, pengusaha, ilmuwan, dan profesional di berbagai bidang.

Dengan model semacam itu, pendidikan agama tidak ditempatkan berhadapan dengan pendidikan profesional. Keduanya justru diharapkan dapat saling menguatkan.

Generasi yang memiliki dasar keislaman kuat sekaligus menguasai bidang profesional diharapkan mampu mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat.

Persoalan alumni juga menjadi perhatian. Pentingnya lembaga pendidikan tetap memiliki hubungan dengan alumninya, termasuk mereka yang melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

Alumni yang telah mendapatkan pengalaman pendidikan dan jaringan internasional memiliki potensi besar untuk berkontribusi. Perlu sistem yang mampu memetakan kemampuan mereka, mempertemukan dengan kebutuhan lembaga, sekaligus membuka ruang pengabdian.

Pembinaan juga tidak cukup dilakukan secara massal. Pendekatan personal melalui wawancara, pemetaan potensi, mentoring, dan pendampingan karier dinilai penting dalam proses kaderisasi.

Perbincangan tersebut pada akhirnya tidak berhenti pada kegelisahan. Para asatiz bersama Dr. Adian Husaini membicarakan perlunya menerjemahkan keresahan tersebut menjadi langkah konkret.

Di antaranya adalah dengan membangun pendidikan yang berkualitas, menyiapkan guru dan pengelola yang kompeten, memperkuat kaderisasi, mengembangkan jejaring alumni, serta menyiapkan generasi untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan juga dihubungkan dengan persoalan ekonomi dan kemandirian. Generasi muda yang memiliki potensi kewirausahaan perlu mendapatkan mentor, jejaring, dan pendampingan agar mampu berkembang dan menciptakan kemanfaatan yang lebih luas.

Dengan demikian, kaderisasi tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi berlanjut hingga seseorang mampu mengambil peran nyata sebagai profesional, pendidik, pengusaha, ulama, maupun penggerak masyarakat.

Dialog eksklusif tersebut memperlihatkan satu kegelisahan utama: bagaimana memastikan pendidikan benar-benar menjadi sarana pembentukan manusia, bukan sekadar proses menghasilkan lulusan.

Para asatiz Direktorat PPTQ Qoryatul Qur’an melihat perlunya keberanian untuk memikirkan kembali pola pendidikan dan kaderisasi secara lebih panjang.

Mulai dari pendidikan tingkat sekolah, perguruan tinggi, pembinaan alumni, pendidikan lanjutan, hingga pengabdian dan profesionalitas, seluruhnya perlu dirancang sebagai sebuah ekosistem.

Persoalan pendidikan ini memang bukan pekerjaan jangka pendek karena merupakan investasi generasi. Karena itu, keresahan terhadap arah pendidikan perlu dijawab dengan gagasan, kaderisasi, lembaga yang kuat, dan kerja nyata yang dilakukan secara berkelanjutan.

Perbincangan bersama Dr. Adian Husaini tersebut menjadi salah satu ruang untuk menyampaikan kegelisahan sekaligus mencari kemungkinan jalan keluar.

Bagaimana membangun pendidikan yang mampu melahirkan generasi berilmu, berkarakter, profesional, dan memiliki keberanian untuk mengambil peran dalam kehidupan umat dan bangsa.

Posting Komentar untuk "Tim Litbang PPTQ Qoryatul Qur’an Berbincang Eksklusif dengan Dr. Adian Husaini, Soroti Arah Pendidikan Indonesia"