Ustaz Ihsan Saifudin: Jejak Digital yang Baik sebagai Warisan bagi Generasi Mendatang

Media memiliki peran yang sangat penting dalam menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat. Melalui media, dakwah tidak hanya menjangkau orang-orang yang ditemui secara langsung, tetapi juga dapat menyentuh banyak kalangan yang belum pernah berinteraksi dengan pendakwahnya.

Pesan tersebut disampaikan oleh Ustaz K.H. Ihsan Saifudin, S.Ag., dalam obrolan bersama tim media sesaat setelah pembukaan kegiatan GRACE Camp 2026 di Bumi Perkemahan Qoryatul Qur’an Alasombo, Kamis, 24 September 2026.

Kegiatan Grace Camp 2026 diikuti oleh 133 mahasantri putri dari lima Ma’had Aly, yaitu Ma’had Aly Baitul Qur’an, Ma’had Aly Kharisma Haromain, Ma’had Aly Qoryatul Qur’an, Ma’had Aly Daarur Rahmah Wal Hikmah, dan Ma’had Aly Lembah Qur’an Al-Amin.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari, mulai Kamis hingga Sabtu, 24–26 September 2026. Tema yang diusung adalah “Growth with Grace, Living with Purpose”.

Ustaz Ihsan menuturkan bahwa kesadaran beliau terhadap pentingnya media telah tumbuh sejak lama. Sejak masih menjadi santri, beliau aktif menulis di berbagai majalah dan media dakwah. Menurut beliau, tulisan-tulisan yang pernah diterbitkan mampu memberikan pengaruh yang jauh melampaui perkiraannya.

Ustaz Ihsan Saifudin
Ustaz Ihsan Saifudin mengingatkan pentingnya media dalam dakwah 

Ustaz Ihsan menceritakan pengalaman ketika bertemu dengan seseorang yang terinspirasi oleh tulisan-tulisannya di sebuah majalah dakwah pada era 1990-an. Padahal saat tulisan itu diterbitkan, keduanya belum pernah saling mengenal maupun bertemu secara langsung.

“Ternyata dampak sebuah tulisan, dampak sebuah media itu bisa menjangkau yang bahkan tidak pernah terpikir. Kita mungkin tidak bertemu dengan mad’u kita secara langsung, tetapi nilai-nilai yang kita sebarkan bisa masuk kepada mereka,” tutur beliau.

Menurut Ustaz Ihsan, inilah kekuatan media yang menjadikan dakwah mampu menembus batas ruang dan waktu. Seseorang dapat mengenal nilai-nilai Islam, terinspirasi, bahkan berubah menjadi lebih baik melalui tulisan, tayangan, maupun dokumentasi yang tersebar melalui berbagai platform media.

Beliau juga membagikan sebuah pesan yang menurutnya sangat relevan dalam dunia media dan dakwah. Menurut beliau, media tidak dapat dipisahkan dari budaya membaca dan menulis sebagai sarana menyebarkan ilmu serta nilai-nilai kebaikan.

“Membacalah, maka kamu mengenal dunia. Menulislah, maka kamu dikenal oleh dunia,” tutur Ustaz Ihsan, dan mengulang penekanan kalimat tersebut, memastikan dipahami oleh tim media dan semua yang hadir pada majelis tersebut.

Ustaz Ihsan menjelaskan bahwa seseorang yang gemar membaca akan memiliki wawasan yang luas karena mampu mengenal berbagai peristiwa, pemikiran, dan pengalaman dari berbagai penjuru dunia. Adapun menulis menjadi sarana untuk meninggalkan gagasan, pengalaman, serta nilai-nilai yang dapat terus memberikan manfaat kepada orang lain.

Menurut beliau, menulis tidak hanya terbatas pada artikel atau buku, tetapi juga mencakup berbagai bentuk karya media, termasuk dokumentasi, foto, video, maupun tayangan digital yang mampu menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat luas.

Beliau juga menyoroti bahwa salah satu tantangan lembaga pendidikan Islam saat ini bukanlah ketersediaan alat, melainkan kesadaran akan pentingnya media. Banyak pesantren telah memiliki sarana dan tim media, namun belum sepenuhnya memahami urgensi media sebagai instrumen perjuangan dakwah.

Ustaz Ihsan menjelaskan bahwa media tidak sekadar berfungsi sebagai sarana dokumentasi atau arsip kegiatan. Lebih dari itu, media berperan menyebarkan nilai, gagasan, dan semangat perjuangan Islam kepada masyarakat luas.

Beliau mengibaratkan tim media sebagai perantara yang memastikan nilai-nilai kebaikan dari para guru dan pejuang dakwah dapat diketahui, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Maka, dokumentasi, tulisan, foto, maupun video adalah bagian dari perjuangan dakwah yang memiliki dampak jangka panjang.

Ustaz Ihsan juga mengingatkan pentingnya meninggalkan jejak digital yang baik sebagai warisan bagi generasi mendatang. Beliau mengutip doa Nabi Ibrahim a.s, yang memohon agar Allah menjadikan sejarah hidup sebagai buah tutur yang baik bagi generasi sesudahnya.

وَا جْعَلْ لِّيْ لِسَا نَ صِدْقٍ فِى الْاٰ خِرِيْنَ

“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. Asy-Syu'ara: 84)

Menurut beliau, jejak digital yang berisi nilai-nilai kebaikan akan menjadi sarana pewarisan perjuangan yang terus memberikan manfaat meskipun pelakunya telah tiada.

Karena itu, media perlu dimanfaatkan bukan sekadar untuk mengabadikan peristiwa, tetapi juga untuk menjaga dan menyebarkan nilai-nilai perjuangan Islam agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Menutup pesannya, Ustaz Ihsan berharap agar yang memiliki ketertarikan dalam bidang media dan komunikasi, dapat memanfaatkan media sebagai sarana dakwah yang efektif serta menjadikannya alat untuk menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat secara lebih luas.

Posting Komentar untuk "Ustaz Ihsan Saifudin: Jejak Digital yang Baik sebagai Warisan bagi Generasi Mendatang"